Panggil Aku Mawar

Panggil Aku Mawar
Bab 63


__ADS_3

Jelita mengamati deretan curriculum vitae yang berjejer di meja kerjanya. Ada beberapa kandidat di perusahaan yang digadang-gadang bisa menggantikan posisi Diara. Ya, Jelita tahu banyak dari pegawainya yang mengincar posisi Diara. Apalagi alasannya kalau bukan gaji yang menggiurkan? Tapi Jelita tidak yakin akan ada orang yang akan setulus dan seloyal Diara saat bekerja kepadanya. Karena itu Jelita akhirnya mencoret semua nama kandidat, karena merasa mereka semua tidak bisa membuatnya percaya.


Jelita lalu memilih membuka lowongan pekerjaan baru, khusus bagi tenaga yang sudah berpengalaman di bidangnya. Jelita bahkan sudah mekakukannya sejak Diara masih bekerja. Tapi bahkan hingga Diara benar-benar berhenti, Jelita belum juga menemukan kandidat yang sesuai. Deretan CV itu hanya dipandanginya tanpa minat. Pendidikan yang tinggi di universitas terkemuka bukanlah jaminan. Pengalaman bekerja di perusahaan bonafit juga bukan kriterianya. Entah apa yang Jelita cari. Jelita bukan sekedar menginginkan seorang asisten, tapi Diara membutuhkan seseorang yang benar-benar bisa dipercaya sekaligus bisa diandalkan untuk segala pekerjaan. Dan entah mengapa dari semua kandidat tidak ada yang menarik minatnya


Jelita menyibukkan dirinya untuk bekerja dan bekerja. Ketiadaan Diara membuat pekerjaannya menumpuk. Dan Jelita harus menyelesaikannya semuanya seorang diri. Tidak ada lagi teman untuk berbagi suka dan duka di tengah segala kesibukan yang terkadang membuat kepalanya hampir meledak.


Selesai dengan pekerjaannya Jelita merebahkan sejenak tubuhnya di sofa empuk di dalam ruangannya. Jelita tersenyum puas memandangi laporan demi laporan melalui tabletnya. Hasil kerja kerasnya tidak sia-sia. Meski harus menghandle banyak pekerjaan, Jelita tidak kehilangan kemampuannya dan mampu menyelesaikan permasalahan dengan baik. Masalah yang ditinggalkan Gunawan satu persatu sudah ditanganinya dengan baik. Dan keuangan perusahaan berangsur-angsur stabil. Bahkan perusahaan mengalami pertumbuhan yang signifikan.

__ADS_1


Jelita menyalakan televisi di ruangannya. Sekedar mencari hiburan alakadarnya di tengah jam kerja. Diara duduk sambil mengangkat satu kakinya dan sesekali menyesap kopi karamel favoritenya. Jelita mengganti-ganti chanel televisi yang siarannya terlihat membosankan. Sampai kemudian Jelita berhenti pada siaran breaking news yang sedikit menarik perhatiannya. Breaking news yang menampilkan berita tentang perkembangan kasus video porno yang viral belakangan ini. Dua orang sudah resmi di tetapkan sebagai tersangka. Satu orang adalah oknum yang dikambinghitamkan sebagai pelaku penyebar video porno dengan imbalan bayaran yang cukup besar juga jaminan bagi keluarganya. Dan satu lagi adalah Arya, pemeran sekaligus target utama Jelita yang di tuduh sebagai perekam dan orang pertama yang lalai menyebarkan aktivitas pribadinya hingga viral.


Semua berjalan sesuai dengan rencana dan keinginan Jelita. Proses hukum terhadap Gunawan berjalan lancar dan perusahaan perlahan sudah kembali pulih. Arya juga sudah mendapat balasan yang setimpal atas kejahatan yang dulu dilakukannya. Tapi entah mengapa, Jelita tak juga merasa puas. Seperti ada lubang di hatinya yang tetap menganga. Ada kekosongan yang nyata dirasakannya dan batinnya tak pernah merasa tentram.


Di dalam kegamangan itu, tiba-tiba masuklah sebuah notifikasi pesan yang ternyata dari Diara. Rasanya baru kemarin mereka benar-benar berpisah karena Diara memilih resign. Tapi Jelita sudah merasa jauh sekali dari sahabatnya itu. Mungkin karena belakangan mereka kerap berselisih paham hingga terjadilah perang dingin.


Jelita merasa jenuh dan penat dengan pekerjaan. Sepertinya datang ke acara pemakaman bukanlah ide yang buruk. Dan mungkin saja disana dia bisa bertemu dengan Diara. Entah apa hubungan Diara dengan Arya. Tapi Jelita bisa merasa bahwa ada hubungan yang tak biasa di antara keduanya. Hal yang kemarin sempat membuatnya kesal dan merasa dibohongi. Tapi sekarang rasa kesal dan kecurigaannya sudah menghilang. Mungkin karena Jelita merasa kehilangan Diara lebih dari apapun. Jelita sudah tidak mempunyai perasaan apapun terhadap Arya. Kemarahannya kemarin lebih karena dirinya merasa tak rela jika sahabatnya Diara, berhubungan dengan penjahat seperti Arya.

__ADS_1


Dengan diantarkan oleh Pak Bin, akhirnya Jelita datang ke acara pemakaman itu. Tampaknya dia datang terlambat, sebab tempat pemakaman itu sudah sepi. Tapi Jelita beruntung saat melihat perempuan yang amat dikenalnya masih berada disana. Jelita pun segera mendekat untuk menyapa.


Jelita menghambur dan memeluk Diara, sahabat yang amat dirindukannya.


Tapi balasan yang di dapatnya justru kata-kata yang menampar hatinya.


"Apa yang jadi keinginan lo sudah tercapai, apa lo puas sekarang?"

__ADS_1


__ADS_2