Panggil Aku Mawar

Panggil Aku Mawar
Bab 33


__ADS_3

Jelita tiba di kantor pukul sembilan. Di ruangannya Gunawan sedang menunggunya dengan gusar. Sebelumnya Jelita memang sudah membuat janji untuk bertemu dan berbicara berdua dengan Gunawan saja. Entah apakah Gunawan tahu atau tidak maksud akan pemanggilan dirinya.


"Selamat pagi..."


Sapa Jelita, lalu duduk di sofa tepat di depan Gunawan.


"Selamat pagi Nona Jelita...", Gunawan menunduk. Meski lebih muda Jelita adalah bos yang selalu dihormati semua orang.


"Bagaimana kabarmu? Bagaimana kabar istri dan anakmu dirumah, apa mereka sehat?"


Tanya Jeluta sambil tersenyum.


Gunawan pun balas tersenyum.


"Alhamdulillah mereka dalam keadaan sehat dan baik-baik saja..."


Pertanyaan itu cukup menyentil hati Gunawan, mengingat pertemuan pertamanya dengan Jelita, yang sebenarnya amat berjasa pada keluarganya. Ah, Gunawan merasa menjadi penjahat yang tidak tahu balas budi. Tapi fakta itu tetap tidak bisa menghapus kesalahan fatal jelita pada sahabatnya.


"Aku harap mereka akan tetap sehat dan baik-baik saja, meski nanti anda tidak lagi berada disisi mereka...", kata Jelita sambil menatap tajam pada mata Gunawan.


"Maaf, apa maksud anda?"


"Jangan pura-pura bodoh, kamu mau mengaku atau tidak?"


Gunawan mendadak gemetar. Dia sadar cepat atau lambat aksinya pasti akan ketahuan. Tapi Gunawan tidak menyangka, bahwa saat kecurangannya terungkap dirinya tetap merasa takut.


"Aku tahu cepat atau lambat kau pasti akan tahu dengan mudah. Aku sadar, kami-kami ini hanya orang rendahan yang tidak akan mempunyai daya apa-apa saat berhadapan dengan orang yang memiliki uang dan kuasa seperti dirimu..."

__ADS_1


"Apa maksudmu, jangan mencoba memutarbalikkan fakta. Kamu telah melakukan kejahatan. Apakah kamu tahu tindakanmu beresiko membuat para pegawai kehilangan pekerjaannya?"


"Ya, aku tahu, tapi apa kamu tahu, kewenanganmu bisa sampai membuat seseorang kehilangan nyawanya dan keluarganya jadi terlantar?"


"Apa maksudmu?"


"Sudahlah, orang-orang sepertimu memang tidak akan mengerti urusan receh semacam ini..."


Jelita benar-benar tidak mengerti apa maksud Gunawan. Tapi Jelita juga tidak mau terjebak dalam spekulasi yang dibicarakan Gunawan, yang belum pasti kebenarannya. Jelita akhirnya memilih kembali fokus ke pokok permasalahannya.


"Jadi, siapa saja yang terlibat dalam kasus ini?"


"Tanya Jelita dengan penuh penekanan. Berharap Gunawan mau jujur.


"Ini murni rencanaku, dan ada satu orang dari vivian yang bekerja sama denganku, aku tidak tahu ada berapa orang di belakangnya..."


"Tidak ada.. "


"Bohong!"


"Aku tidak berbohong!"


"Bagaimana dengan Arya?"


"Dia tidak terlibat dan memilih mundur di tengah misi..."


"Bohong!"

__ADS_1


"Aku tidak bohong, terserah kalau kamu tidak percaya. Lagi pula untuk apa kamu bertanya. Dengan uangmu, kamu akan bisa mencari tahu sendiri..."


"Tentu saja aku akan mencari tahu sendiri, bersiaplah dan pamitlah baik-baik pada keluargamu. Sebenarnya aku kasihan pada mereka, tapi kamu sendiri sama sekali tidak memikirkan mereka saat berbuat..."


"Tentu saja, terimakasih sudah memperingatkanku..."


Gunawan bangun dan beranjak menuju pintu. Namun kemudian Jelita kembali memanggilnya.


"Gunawan!"


"Ada apa lagi?"


"Apa kau lupa bagaimana perkenalan kita?"


"Ya, aku ingat, apa kamu berharap aku membalas budi?"


"Tidak, aku selama ini percaya padamu dan hubungan baik kita. Dan sekarang lamu benar-benar mengecewakanku, pergilah..."


Gunawan tersenyum getir, lalu melanjutkan langkahnya.


Begitulah manusia, kita tidak bisa mempercayai siapapun di dunia ini, kecuali Tuhan dan diri sendiri.


Jelita lalu meraih ponselnya dan menelpon seseorang.


"Aku sudah selesai, kau bisa melakukannya sekarang!"


Jelita sudah yakin sepenuhnya akan langkah yang akan diambilnya.

__ADS_1


__ADS_2