Panggil Aku Mawar

Panggil Aku Mawar
Bab 53


__ADS_3

Hari itu, setelah menjenguk Ibunya Arya, akhirnya Diara memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Pikiran dan hati Diara sudah lebih tenang sekarang. Diara masih merasa sedih dan kecewa, tapi bukan berarti dia akan bertindak bodoh dan nekat seperti sebelumnya. Diara sudah memutuskan, bahwa dirinya akan menata hidupnya kembali, meski harus seorang diri menghadapi semuanya.


Sampai dirumah, ternyata ada Papanya yang sedang duduk di meja makan sendirian.


Jelita melewati Papanya dan berniat langsung masuk ke kamar, tapi tenyata Papa menegurnya.


"Darimana saja kamu? Jelita bilang kamu belum masuk kantor hari ini? Papa menunggumu dari tadi..."


"Untuk apa dan sejak kapan Papa menungguku?"


"Sudahlah Diara, Papa lelah. Mari kita jangan bertengkar lagi...duduklah, temani Papa makan..."


"Aku mau mandi dulu Pa..."


Jawab Diara dengan cuek sambil berlalu meninggalkan Papanya.


Selesai mandi, Diara merasa perutnya lapar. Ternyata Papa masih duduk menunggunya di meja makan. Terpaksa Diara dudu bergabung dengan Papanya.


Diara duduk, lalu mengambil nasi dan lauk pauk tanpa memperdulikan Papanya.


"Diara, maafkan Papa..."


Diara mengangkat wajahnya dan pandangannya beradu dengan Papanya. Ini adalah kali pertama Papanya bilang maaf setelah semua yang terjadi.


"Papa khilaf, sampai berbuat sejauh ini..."


Diara masih diam sambil menyibukkan diri menyantap makanannya.


"Papa ngerti kalau kamu masih marah dan kecewa, tapi satu hal yang harus kamu tahu Papa tetap sayang sama kamu dan nggak ada apapun yang merubah hubungan kita..."


Diara masih tetap diam sambil menyelesaikan makannya. Setelah itu Diara langsung masuk ke kamarnya dan menutup pintu. Diara sadar, bagaimanapun dia kecewa dan membenci Papa, itu tidak akan mengubah takdir yang harus terjadi. Hanya saja, Diara masih perlu waktu untuk berdamai dengan semuanya.


Malam itu akhirnya Diara bisa tidur dengan nyenyak. Dan keesokan harinya, Diara akhirnya memilih masuk ke kantor lagi. Mungkin kesibukan di kantor akan bisa mengalihkan pikirannya dari hal-hal yang negatif.


Jelita langsung menyambutnya begitu melihat Diara datang ke kantor.

__ADS_1


"Hey Di, kok udah masuk kantor sih? harusnya lo istirahat dulu nggak papa kok.."


"Suntuk gue dirumah sendirian, mendingan juga di pakek kerja biar nggak kepikiran sedihnya..."


"Sama, gue malah lagi suntuk sama kerjaan, mana kasus-kasus itu bikin gue tambah puyeng lagi, gimana kalau tar sore kita cabut hang out keluar? Biar bisa refresh dikitlah"


"Yoi, bolehlah, terserah lo aja Je.."


"Sip...gue cabut ke ruangan gue dulu ya, see u..."


Jelita dan Diara sama-sama sibuk dengan pekerjaannya, sampai pada sore harinya mereka akhirnya kembali bertemu.


Jelita mengajak Diara pergi ke seuah pusat perbelanjaan. Jelita melampiaskan ke penatannya dengan berbelanja aneka barang fashion favoritenya.


"Lo boleh pilih sepuasnya Di, nanti gue yang bayarin!"


"Serius lo Je?"


"Serius donk, udah cepetan, tar keburu gue berubah pikiran!"


Untuk menghormati Jelita, akhirnya Diara mengambil sebuah tas dan sandal dengan model sederhana.


"Ini doank Di?"


"Iya, gue lagi nggak mood belanja nih..."


"Ok, lain kali kita bisa belanja bareng lagi..."


Jelita membayar barang belanjaan mereka, lalu mengajak Diara makan di salah satu restoran yang masih berada dipusat perbelanjaan itu.


Sambil menunggu makanan datang, akhirnya mereka punya kesempatan untuk berbincang.


Sebenarnya Diara ingin sekali bercerita banyak dan berbagi beban pikirannya pada Jelita. Tapi sepertinya, Jelita sendiri sedang banyak masalah. Dan justru Jelita lah yang lebih banyak mengeluh pada dirinya.


"Gila ya Di, ternyata nggak ada elo kerjaan jadi kacau semua! Gue sampai lembur hampir tiap hari, itu aja banyak kerjaan yang masih nggak ke handle. Uh...capeknya.."

__ADS_1


"Sorry Je..."


"Eh, bukan begitu maksud gue, thanks a lot ya Di, ternyata kehadiran lo sangat berarti banget buat berlangsungnya perusahannya..."


Diara hanya tersenyum mendengar pujian yang berlebihan itu. Lagi pula dia memang bekerja dan mendapatkan gaji yang sepadan.


"Tapi Ya Di yang bikin gue tambah stres ya gara-gara ngurusin kasus hukum tikus-tikus itu, bikin tambah kerjaan gue aja..."


Jelita masih menggerutu dengan kesal.


"Btw Je, lo serius mau menjarain si Arya?"


Diara mulai tertarik untuk bertanya.


"Ya serius lah Di, gue udah sejauh ini, masa masih bercanda?"


"Tapi Je bukannya Ibunya Arya lagi sakit, apa lo tega bikin si Arya masuk penjara di saat Ibunya lagi butuh dia?"


"Ya emang itu tujuan gue, biar dia ngrasain sakit kayak yang gue rasain dulu!"


"Astaghfirullah Je, kenapa lo jadi pendendam gitu sih?",


Diara mulai tak mengerti dan tak sepaham dengan jalan pikiran Jelita.


"Kenapa sih Di lo selalu belain dia? Apa lo nggak ingat gimana jahatnya dia sama gue dulu? Dia cuma manfaatin gue Di, bahkan dia sampai berencana mau bunuh gue. Padahal waktu itu semua udah gue kasih ke dia, sampai gue lebih mentingin dia dibanding keluarga gue!", ucap Jelita dengan emosi yang berapi-api.


Diara sadar, dia tidak akan bisa mengatur atau sekedar menegur sahabatnya itu.


"Yaudah Je, kalau emang itu mau lo. Semoga dengan begitu lo bisa puas dan nggak sampai menyesal di kemudian hari..."


Jelita masih tak bisa terima dengan ucapan sahabatnya. Meski begitu Jelita berusaha untuk menahan diri.


"Mendingan kita nggak usah bahas masalah ini Di, biarin ini jadi urusan gue sendiri, baik buruknya gue yang akan tanggung jawab baik di dunia maupun di akhirat. Dan sekarang gue pengen kita berdua keluar buat refresh pikiran, bukan buat perdebatin urusan yang makin gue stres..."


"Yoi, sorry kalau gue bikin lo kesel..."

__ADS_1


"Its ok, yuk habisin makannya terus kita lanjut senang-senang lagi..."


__ADS_2