
"Gila lo Je, harusnya lo kasih aba-aba kalau mau lihati barang bukti yang begituan!", omel Diara setelah semua tim pengacara meninggalkan ruangan Jelita.
"Sorry Di, gue khilaf! Tadi gue spontan aja sih keluar ide itu. Gue nggak kepikiran kalau akibatnya bakalan se'fatal' itu. Gila! mana muka mereka jadi sang* semua lagi! Emang semua lelaki begitu ya kalau cewek bug*l dikit? Nggak ada gitu cowok yang kuat imannya?"
"Itu namanya insting Jelita, masak lo nggak ngerti sih? Kalau soal itu manusia nggak ada bedanya sama binatang! Dan itu bukan perkara iman. Jelas-jelas lo yang sodorin videonya langsung ke mereka! Jelas lah mereka langsung ON. Kalau nggak ON malah nggak normal. Beda kasusnya kalau itu atas kemauan mereka sendiri. Cowok baik-baik akan menahan pandangannya dari yang haram. Dan perempuannya baik-baik juga akan menjaga kehormatan dirinya, begitu aturannya!"
"Iya...iya Diara, kok lo jadi ceramahin gue sih? Udah ah Di gue mau kerjain kerjaan yang lain aja, ngurusun kasus ini melulu bikin gue lelah lahir batin!"
"Yoi, gue juga, jadi pengen ngopi nih, bikinin dong Mawar!"
"Sialan lo!"
Jelita memukul pelan kepala Diara dengan gulungan kertas.
"Ups, sorry, gue masih jetlag, kirain lo masih merangkap OG ternyata udah pensiun!"
"Nih kalau mau ngopi lo pesan aja starbak pakai aplikasi, gue udah isi gpay banyak!"
"Siap Bos!"
Dan begitulah, Jelita dan Diara kembali tenggelam dalam pekerjaan sambil menunggu kopi pesanan mereka diantar.
Sementara itu di tempat yang lain para pengacara sedang menyelidiki barang bukti baru yang benar-benar menguji iman.
"Dosa nggak sih kita nonton beginian, kan ini bagian dari kerjaan!"
"Udah nggak usah cari alasan, nontonnya cukup sekilas aja, yang penting kita harus dengarkan percakapan dan catat poin-poin pentingnya!"
"Siap Bos! Tapi tuh Bos fokus juga lihatnya?"
"Ah sudah-sudah, mari kita nikmati sama-sama, gratis ini kok!"
Beberapa saat mereka menonton video-video itu sambil mencermati semua latar dan dialog. Setelah itu mereka berdikusi hingga mendapatkan beberapa kesimpulan yang akan coba ditawarkan pada kliennya esok hari.
__ADS_1
Keesokan harinya mereka akhirnya sepakat bertemu di tempat yang sama untuk membahas kasus ini. Suasana canggung kelas terasa. Sebab yang akan mereka bahas adalah masalah sensitif. Apalagi setelah pertemuan kemarin.
"Jadi bagaimana solusinya?", Jelita bertanya langsung ke pokok permasalahan.
"Ini adalah kasus yang berbeda dan kami sama sekali tidak bisa menyangkutpautkan kasus ini dengan kasus yang menimpa Gunawan...mohon maaf Nona..."
Jelita terlihat kecewa setelah mendengar jawaban itu.
"Bukankah sudah jelas dalam rekaman suara itu, kalau mereka merencanakan kejahatan terhadap diri saya?"
"Tapi bukti itu belum cukup, apalagi belum ada tindakan signifikan yang dilakukan saudara Arya. Dan masalah pengkhianatan belum bisa dimasukkan ke dalam ranah pidana karena hal itu masuk ke ranah pribadi, apalagi hubungan anda dengan saudara Arya belum sampai ke jenjang pernikahan...".
Jelita membenarkan apa yang dikatakan pengacaranya. Dan Jelita sadar dirinya sudah terlalu berambisi. Jelita mulai nenyadari posisinya, sangat sulit baginya untuk membalaskan dendam dan sakit hatinya.
"Mohon maaf, apakah anda benar-benar sakit hati dan ingin membalaskan dendam Anda?"
Sunan, ketua tim pengacara itu seperti tahu suara hati Jelita. Instingnya sangat terasah. Sebagai pengacara dengan jam terbang yang cukup tinggi, Sunan harus bisa mengerti dan memahami keinginan kliennya, walaupun terkadang itu bertentangan dengan hati nuraninya.
Sunan tersenyum simpul, dia tahu kemana harus mengarahkan kliennya.
"Kalau tujuan Anda hanya sebatas ingin menjebloskan saudara Arya ke penjara, saya punya rencana lain, tapi ya mungkin ini akan menjadi sedikit licik dan manipulatif..."
Jelita yang semula hampir pasrah serasa menemukan lagi harapan.
"Apa maksud anda?"
"Apa yang saudara Arya lakukan belum bisa dikategorikan dalam tindak pidana, tapi jika anda benar-benar ingin membalas dendam saya bisa membantu anda, tapi yang akan kita lakukan adalah kecurangan dan anda harus mengeluarkan uang yang cukup besar untuk mendapatkan dukungan agar rencana ini berhasil..."
Jelita berpikir sejenak, sebelum akhirnya jawab.
"Tolong katakan dengan lebih jelas, sepertinya saya tertarik..."
"Kita bisa mengalihkan kasus ini dengan menyebarkan video porn*...dalam hal ini biasanya pemeran bisa dijebloskan ke penjara, tentu kita harus bermain rapi untuk menutup fakta bahwa andalah yang merekam dan menyebarkannya, bagaimana?"
__ADS_1
"Apa ini tidak terlalu beresiko? Saya tidak mau terlibat dan ingin tangan saya bersih..."
"Tentu saja, itu bukanlah hal yang sulit selama anda mau mengeluarkan uang, banyak orang rela dipenjara, dijadikan kambing hitam atas kejahatan yang tidak dilakukannya dengan bayaran jaminan kehidupan dan masa depan untuk keluarganya....saya bisa membantu anda untuk mengurusnya, jika anda mau..."
Sejak tadi, Diara mendengarkan percakapan itu dan mencoba menebak-nebak kemana arahnya.
Melihat Jelita yang terlihat sedikit bingung tapi juga tertarik, membuat Diara merasa khawatir dengan sahabatnya itu. Diara tahu benar sifat Jelita yang terkadang kurang berfikir dan mudah di bujuk.
"Terimakasih Bapak atas tawarannya, tapi sepertinya kami perlu mendiskusikan lebih dalam tentang hal ini sebelum mengambil keputusan. Saya rasa untuk pembicaraan hari ini sudah cukup, kalian boleh meninggalkan ruangan...", Diara sengaja mengambil alih karena tidak ingin Jelita mengambil keputusan dengan terburu-buru.
"Tentu saja Nona, langkah yang tepat kalian memang harus mendiskusikannya dengan matang sebelum memgambil keputusan, saya sangat mengerti...kalau begitu kami pamit dulu...anda bisa mengabari kami kapan saja dan sampai jumpa lagi..."
Para pengacara itu segera mengemasi barang-barangnya dan melangkah pergi dari ruangan Jelita.
Tapi, tepat sebelum membuka pintu seorang wanita berteriak.
"Tunggu dulu!"
Sunan menghentikan langkahnya dan urung membuka pintu.
"Ada apa lagi Nona?"
"Aku mau kalian mengurusnya sekarang juga, tidak perlu menunggu sampai besok, saya sudah mengambil keputusan dan saya lah yang akan membayar semua. Bayar orang untuk menyebarkan video itu lalu tolong pastikan bahwa Arya Anggara beserta gundiknya turut mendekam di penjara, apa kalian mengerti?"
"Ya tentu saja Nona, kami akan mengerjakan apa yang anda perintahkan, kami akan mulai bekerja dan secara berkala kami akan melaporkan hasilnya pada anda..."
"Ya, itu yang aku mau, aku suka dengan cara kerjamu, sekarang kalian bisa pergi dan mulai bekerja..."
"Baik Nona, kami pamit dulu, permisi dan sampai jumpa lagi..."
Akhirnya Sunan dan kawan-kawannya melanjutkan langkah yang sempat tertunda, keluar dari ruangan Jelita.
Sementara itu, Jelita tersenyum membayangkan bagaimana mantan kekasih yang telah berkhianat itu akan menerima karma dari pengkhianatan yang di lakukannya dengan berkaki-kali lipat.
__ADS_1