Panggil Aku Mawar

Panggil Aku Mawar
Bab 14


__ADS_3

"Seandainya nanti aku sudah tidak bekerja di GAYA.Corp lagi, apa kita masih bisa bertemu seperti ini?"


Mawar cukup terkejut juga mendengar pertanyaan itu.


"Memangnya Mas Farid mau kemana?"


"Masa kontrakku hampir habis, mungkin aku nggak bisa melanjutkan bekerja di GAYA.Corp?"


"Memangnya kenapa? Bukannya kalau kontrak habis bisa diperpanjang? Apa Mas Farid nggak betah bekerja di GAYA.Corp?"


Kali ini insting Mawar sebagai Jelita sang pemilik perusahaan ikut was-was. Apakah perusahaannya bukan tempat yang nyaman untuk bekerja bagi para anak buahnya?


"Bukan begitu, sebenarnya aku betah banget kerja di GAYA.Corp, apalagi sejak ada kamu. Tapi ada masalah yang membuatku harus berhenti..."


Ingin sekali Mawar bertanya, masalah apa? Tapi untunglah Mawar masih bisa menahan diri. Dia bukan siapa-siapa yang bisa memaksa Farid untuk bercerita kepadanya.


"Yasudah, nggak papa kalau Mas Farid belum mau cerita. Mas Farid sudah terlalu baik sama aku selama ini, makasih banyak. Tentu sebagai 'teman' kita masih bisa bertemu kapan saja tanpa terikat urusan pekerjaan..."


Mawar sengaja menekankan kata 'teman', karena hanya sebatas itulah hubungan mereka saat ini, tidak lebih.

__ADS_1


"Yasudah, kalau begitu aku pamit dulu ya, sudah malam dan hujannya juga sudah mulai reda...makasih banyak, mie nya enak..."


"Ya mas, hati-hati di jalan..."


Farid berlalu meninggalakan kontrakan kecil Mawar dengan sepeda motornya. Malam itu Mawar memutuskan untuk tidur di kontrakan kecilnya dan mengabari Diara kalau dia tidak bisa pulang ke apartemennya karena malam sudah cukup larut.


Ya Je, nggak papa, biar gue yang jagain apartement lo, tapi Mas Farid lo nggak nginep di kontrakan kan?


Nggak lah Di, gue nggak sebodoh itu. Gue udah nggak punya keluarga. Sekarang cuma kehormatan ini satu-satunya hal berharga dalam hidup gue yang pasti gue jaga.


Setelah bertukar pesan dengan Diara, Jelita berniat segera pergi tidur. Jelita berdoa cukup panjang karena tidak ingin mimpi buruk kembali menghantuinya seperti sebelumnya. Tapi entah mengapa bahkan setelah berdoa Jelita masih tak kunjung bisa memejamkan mata. Pikirannya selalu berkelana pada lelaki yang mengantarkannya barusan. Jelita bukanlah gadis polos dan perlakuan Farid padanya dirasakannya cukup menonjol daripada perlakuan Farid pada rekannya yang lain. Bolehkah kalau Jelita merasa Farid telah menaruh hati padanya? Tapi disisi lain Jelita juga masih berhati-hati dan tak ingin mudah terlena. Pengalaman terdahulu bersama Arya masih meninggalkan luka yang cukup dalam. Jelita belum ingin memulai hubungan baru dalam waktu dekat.


Rasa penasaran akhirnya mendorong Jelita untuk kembali mengirim pesan pada Diara.


Di? tugas spesial gue udah ada perkembangan? Farid bilang mau berhenti kerja, kira-kira ada alasan apa ya?


Tapi Diara tak kunjung membalas pesannya hingga Jelita jatuh tertidur.


Sementara di tempat lain, Farid juga masih terjaga hingga malam beranjak larut. Tidak pernah sebelumnya Farid memikirkan perempuan hingga sedalam ini. Biasanya mereka yang dengan sukarela datang dan menyatakan maksudnya tanpa perlu dia bertanya-tanya.

__ADS_1


Kemarin Ibunya memberitahunya kalau beliau akan mulai bekerja sebagai asisten rumah tangga di sebuah rumah yang cukup besar. Ibunya mendapatkan informasi pekerjaan itu dari kenalannya. Ibunya bilang pekerjaan disana tidak akan terlalu berat karena banyak ART lain yang juga bekerja disana. Gajinya juga lumayan, hampir sama dengan gaji Farid sebagai office boy. Ibunya akan bekerja disana sampai Farid menyelesaikan kuliahnya dan mendapatkan pekerjaan yang lebih layak. Setelah itu Ibunya berjanji akan berhenti bekerja dan beristirahat seperti keinginan Farid. Selama ini mereka hidup dari uang pensiunan Ayah Farid, sedangkan uang dari Farid digunakan untuk mencicil hutang.


Sebuah rencana yang sempurna, begitu yang dipikirkan Ibunya Farid. Tapi entah mengapa Farid justru semakin bimbang. Dia khawatir kalau ibunya terlalu lelah dan jatuh sakit lagi. Farid tidak ingin kehilangan satu-satunya keluarganya yang tersisa. Tapi ternyata bukan hanya itu. Ada hal lain yang dia takutkan meski berkali-kali Farid mencoba memungkirinya. Dia takut berpisah dengan Mawar. Dia takut jika nanti tidak ada kebersamaan lagi diantara mereka. Farid takut dengan berakhirnya pekerjannya di GAYA.Corp, maka berakhir pula hubungannya dengan Mawar. Karena sebenarnya memang tidak ada hubungan apapun yang mengikat diantara mereka selain sekedar rekan kerja yang sama-sama bekerja di GAYA. Corp. Namun bagaimanapun juga Farid tahu kalau tidak mungkin menentang keputusan Ibunya yang sudah bulat. Cepat atau lambat dirinya memang harus keluar dari pekerjaan untuk melanjutkan kuliahnya.


Farid tahu belum lama dia bertemu dan mengenal Mawar. Dalam posisinya yang belum menentu seperti sekarang, Farid tahu diri kalau dirinya belum pantas mengikat hubungan dengan wanita manapun. Beban hidupnya sendiri sudah berat dan dia tidak mau menyeret wanita yang dicintainya ke dalam permasalahan keluarganya. Farid menyadari ada kenyamanan yang dia rasakan saat bersama Mawar. Seandainya mereka bukan lagi rekan kerja, masih pantaskah dirinya meminta untuk bertemu meski tanpa ada ikatan yang pasti?


Keesokan harinya, Mawar terlambat bangun dan langsung mengecek ponselnya. Diara sudah membalas pesannya pagi-pagi sekali.


Je, lo pasti belum sempat sarapan kan? Gue masakin nasi goreng kampung sama pisang goreng, nanti lo sempet-sempetin sarapan di kantor ya? Btw masalah penyelidikan Mas Farid lo udah beres, tapi orang suruhan gue baru mau kasih laporan nanti siang. Lo masih bisa sabar kan?, hehe


Jelita menyempatkan membalas pesan itu sebelum mandi.


Thanks a lot Di. Lo emang sahabat gue yang paling perhatian kayak emak-emak. Lo berangkat duluan aja sama Pak Bin, gue telat bangun jadi nanti naik ojol aja biar cepat. Bekal gue lo simpanin ya, nanti gue curi-curi waktu buat sarapan di ruangan lo sekalian bahas kerjaan. c u.


pesan terkirim, Jelita bergegas mandi dan berdandan secepat kilat. Lalu memesan ojol untuk berangkat ke kantor. Kali ini dia benar-benar menghayati perannya sebagai Mawar dengan kehidupannya yang serba sederhana.


Lagi-lagi Mawar memilih turun jauh area kantor karena tak ingin ada yang melihatnya naik ojol. Mana cukup gaji OG nya cukup untuk pulang pergi naik ojol setiap hari. Apalagi jarak kontrakannya cukup jauh dari kantor.


Seperti deja vu, Mawar berjalan cepat menyusuri halaman gedung sampai kemudian seorang lelaki berhenti menawarinya tumpangan. Ah, kenapa rasanya Farid selalu ada dimana-mana? Mawar mulai menyadari, diam-diam Farid selalu ada disampingnya. Bagaimana kalau dia jadi terbiasa dan kecanduan? Lalu kemudian, nanti Farid akan pergi tiba-tiba dan meninggalkannya sendirian?

__ADS_1


Tidak, Mawar tidak menyukai perasaan itu. Perasaan terbuang dan ditinggalkan. Seperti yang dirasakannya dengan Arya dulu.


__ADS_2