Panggil Aku Mawar

Panggil Aku Mawar
Bab 20


__ADS_3

Farid masih terdiam sambil mencerna kalimat panjang yang diucapkan Pak Andy.


"Bagaimana?", tanya Pak Andy membuyarkan lamunannya.


"Eh, gimana tadi Pak? maksudnya saya ditawari untuk magang di sini?"


"Ya, begitu kira-kira. Akan ada banyak keuntungan jika kamu menerima tawaran ini. Kamu bisa kuliah sekaligus punya penghasilan. Kamu juga bisa menggunakan project yang kamu kerjakan disini sebagai bahan tugas akhir yang akan kamu kerjakan, tidak perlu repot-repot mencari perusahaan. Dan setelah lulus nanti kamu tidak bingung cari kerja, jika kinerjamu bagus kamu bisa langsung diterima sebagai pegawai tetap. Bukankah ini tawaran yang menggiurkan?"


"Ya Pak, tapi jujur saya belum ada persiapan dan ini terlalu mendadak..."


"Baiklah, tidak perlu dijawab sekarang, saya beri waktu satu minggu, kamu bisa memikirkannya baik-baik, kalau setuju kamu bisa datang minggu depan dengan membawa berkas-berkas lamaran seperti biasa..."


"Baik Pak, terimakasih banyak..."


"Sama-sama..."


Farid keluar dari ruangan Pak Andy dengan perasaan yang campur aduk. Semula dia telah yakin untuk meninggalkan GAYA.Corp dan melupakan semua kenangan yang pernah terjadi disini. Farid ingin melangkah maju, memperjuangkan masa depannya seperti nasehat Ibunya.


Tapi sekarang, mengapa tawaran itu membuat hatinya goyah?


Seperti ada sebersit kelegaan saat mendengar tawaran itu, itu berarti dirinya masih ditakdirkan untuk bertemu dengan Mawar walau hanya sesekali. Walau mungkin secara logis dia akan mengambil tawaran itu karena alasan paling primitif, yaitu demi uang atau keamanan finansial. Siapa yang menjamin setelah lulus kuliah nanti dirinya akan mendapatkan pekerjaan dengan mudah bukan?


Farid kembali merasa galau dan sepanjang hari itu Farid jadi kurang konsentrasi dalam bekerja. Tapi sepertinya semua rekan-rekannya memakluminya karena ini adalah hari terakhirnya bekerja. Dan sebagai ungkapan terimakasih, hari itu Farid memutuskan untuk mentraktir semua teman-tekan OB dan OG nya untuk makan siang di kantin. Lagi pula tidak ada salahnya kan berbagi rezeki? Apalagi dirinya juga baru saja mendapatkan rezeki cuma-cuma entah dari siapa


"Makasih banyak ya Rid, semoga lo sukses deh kedepannya..."


"Iya, orang secakep lo emang nggak pantes jadi OB lama-lama, semoga cepat dapat kerjaan yang lebih baik ya..."


Farid hanya tersenyum menanggapai celotehan teman-temannya, sementara otaknya masih galau memikirkan tawaran pekerjaan dari Pak Andy.


Saat jam kerjanya berakhir, Farid menyempatkan diri untuk bersalaman dan berpamitan dengan rekan-rekannya, juga dengan Bu Lastri, atasannya.


Mawar juga tersenyum melepasnya diantara rekan-rekannya yang lain.


Setelah apa yang terjadi apa mungkin mereka bisa berteman lagi seperti sebelumnya? Entah mengapa diam-diam Farid merindukan kebersamaannya dengan Mawar yang menyenangkan.

__ADS_1


Walau dengan berat hati, Farid akhirnya melangkahkan kakinya untuk bergegas pulang.


Farid tahu kepada siapa harus menumpahkan kegalauan ini agar hatinya menjadi tenang.


Seperti biasa begitu sampai dirumah, Farid disambut dengam aroma masakan yang menggugah selera. Kali ini menunya bisa terbilang mewar, mengingat sejak terjerat hutang Farid dan Ibunya harus berhemat. Farid mengamati meja makan dimana telah terhidang opor ayam, sambal goreng kentang dan hati, juga kerupuk udang.


"Wah tumben masak besar, kayak lebaran aja Bu..." sindir Farod sambil mengambil kerupuk udang dan langsung mengunyahnya.


"Sekali-sekali nggak papa kan? itung-itung perayaan kamu berhenti kerja, lagian kita kan baru dapat uang banyak!"


"Hahaha, berhenti kerja kok malah dirayain, Ibu ini ada-ada saja..."


"Ya nggak papa, sudah sana mandi dulu setelah itu baru kita makan...."


"Siap Bos!"


Farid langsung mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.


Selesai mandi dan berganti dengan baju bersih, Farid menghampiri Ibunya yanh sudah duduk di meja makan.


Tanpa basa basi Farid memindahkan nasi beserta lauk pauk ke dalam piringnya.


"Ribet bikinnya, tuh pakai nasi aja kamu makannya lahab begitu, pakai protes segala..."


"Hehe..."


"Jadi kapan kamu mau mulai kuliah lagi?"


"Mungkin lusa aku baru mau kekampus buat ngurus administrasi Bu..."


"Jangan lama-lama, kamu pasti banyak ketinggalan yang harus di kejar...yang semangat kuliahnya, kurangin dulu hura-huranya, setelah lulus kamu masih harus berjuang cari kerjaan. Ibu denger zaman sekarang cari kerjaan nggak gampang Rid, dimana-mana orang pinter udah banyak..."


"Iya...iya Bu...aku tahu, Ibu nggak usah khawatir, sekarang aku udah sadar, hidupku juga udah nggak kayak dulu lagi yang seenaknya, tapi besok aku pengen istirahat dulu dirumah, quality time sama Ibu, sambil siapin berkas-berkas yang mau buat ngurus persiapan kuliah lagi..."


"Yasudah kalau begitu, terserah kamu saja, kamu sudah dewasa, Ibu percaya kamu bisa bertanggung jawab dengan hidupmu sendiri. Kalu sudah selesai makannya buruan istirahat. Kerja seharian pasti capek kan? Jangan lupa kesehatan juga harus dijaga!"

__ADS_1


"Ah Ibu, besok kan aku udah nggak kerja, sekali-kali mau begadang boleh kan?"


"Yasudah terserah kamu, dasar anak bandel!"


Farid lalu membereskan piring-piring bekas makan mereka dan mencucinya di wastafel.


"Eh tumben anak Ibu mau bantu-bantu?"


"Sekali-sekali Bu, mumpung besok libur!"


"Yasudah sekalian besok juga bantuin Ibu bersih-bersih rumah, sudah lama rumah kita nggak dibersihkan kaca-kacanya..."


"Siap Bos!"


Setelah selesai mencuci piring Farid memutuskan masuk ke lamar untuk beristirahat sejenak. Sebenarnya dia ingin bercerita tentang tawaran yang diberikan Pak Andy kepada Ibunya. Tapi entah mengapa mulutnya tak sampai untuk bicara. Sepertinya malam ini Farid ingin banyak berdoa dan meyakinkan dirinya sendiri dulu, sebelum besok membicarakan urusan ini kepada Ibunya.


Keesokan harinya, seperti rencana, Farid mengabiskan waktunya seharian dirumah bersama ibunya. Membantu Ibunya bersih-bersih rumah, membantu Ibunya masak, lalu memijit kaki Ibunya yang katanya pegal-pegal. Ternyata melakukan pekerjaan rumah tangga juga cukup melelahkan. Hal yang selama ini kerap disepelekannya.


"Makasih banyak ya Bu...", kata Farid sambil mengecup pipi Ibunya.


"Wah-wah..tumben-tumbenan bilang makasih, pake cium-cium segala lagi?"


"Makasih sudah masak dan bersihin rumah setiap hari, makasih sudah merawat Farid sampai sebesar ini, Farid baru ngrasain sekarang kalau perjuangan Ibu dan Bapak selama ini pasti berat banget, sementara dulu Farid tahunya cuma foya-foya aja..."


Ibunya yang semula sudah siap mengomel lagi jadi terdiam dan terharu mendengar perkataan Farid.


"Bagus kalau kamu sudah sadar, apa yang Ibu lakukan sudah jadi kewajiban dan tanggung jawab Ibu, sekarang bagian kamu adalah berjuang untuk masa depan kamu sendiri, kebahagian orang tua itu sederhana, ingin melihat anak-anaknya sukses dan hidup bahagia. Jangan sampai hidup kamu sia-sia. Itu saja cukup!"


"Iya Bu, mulai sekarang Farid janji akan berusaha. Oh ya, kemarin aku dapat tawaran untuk kerja magang di perusahaan tempatku kerja, bisa disambi kuliah, menurut Ibu bagaimana?"


"Kerja magang jadi apa? Jadi OB lagi?", Tanya Ibu dengan polosnya.


"Hahaha, nggak lah Bu, jadi staff IT sesuai jurusanku. Tapi baru magang, masih part time kerjanya..."


"Oh ya bagus itu, belum lulus sudah bisa kerja, asal tidak menganggu kuliah kamu..."

__ADS_1


"Insyaallah tidak Bu..."


Dengan itu akhirnya Farid mantap untuk mengambil pekerjaan magang di GAYA.Corp.


__ADS_2