Panggil Aku Mawar

Panggil Aku Mawar
Bab 64


__ADS_3

"Apa yang jadi keinginan lo sudah tercapai, apa lo puas sekarang?"


Kalimat itu terasa menampar hati Jelita.


"Maksud lo apa?", tanyanya benar-benar tidak mengerti.


"Bukannya ini yang lo inginkan? Melihat Arya hancur dan jadi anak durhaka yang mengecewakan Ibunya. Ditambah lagi Arya nggak bisa menemani Ibunya di saat-saat terakhir hingga beliau harus menjemput maut tanpa keluarganya?"


Mendengar itu, Jelita menjadi limbung, hingga tubuhnya terduduk di tanah. Jelita baru saja tersadar, bahwa dirinya sudah menjadi sosok yang sangat kejam. Memanipulasi kejahatan hanya demi ambisi pribadinya untuk membalas dendam.


"Di, apa gue sejahat itu di mata lo? Apa gue udah bener-bener berubah menjadi monster yang mengerikan karena ambisi sesaat gue?"


Tanya Jelita dengan suara gemetar. Mungkin memang inilah yang tadinya Jelita inginkan. Tapi entah mengapa disaat semua menjadi kenyataan, dirinya tidak merasa senang. Bagaimanapun kebencian menguasai hatinya, ternyata kesedihan dan kehancuran orang yang dibencinya tidak mampu memberikan kepuasan dan kebahagiannya yang dibayangkan.


Dulu Jelita pikir, dirinya akan merasa senang dan puas saat melihat Arya hancur dan merasakan sakit seperti dirinya. Tapi ternyata tidak. Dirinya tetap merasa kosong saat menyaksikan semua kehancuran lawan-lawannya.


"Jadi gimana perasaan lo sekarang? Apa lo puas? Apa lo merasa bahagia saat melihat Arya hancur?", Diara malah balik melemparkan pertanyaan.

__ADS_1


Jelita hanya menggeleng. Sebab yang dirasakannya saat ini, dirinya justru merasa menyesal dan turut bersedih. Dan yang paling membuatnya menyesal, bahwa dirinyalah yang yang telah merencanakan semua skenario ini.


"Kalau lo juga merasa sedih atau paling nggak lo nggak merasa bahagia di atas penderitaan orang, itu artinya hati nurani lo masih ada Je..."


Diara sudah mendekat, dan memeluk Jelita yang sedang menangis entah karena apa.


"Its ok, its ok Jelita...kita manusia biasa, ada rasa kecewa, ada rasa sakit hati yang terkadang membutakan mata kita hingga kita bisa melakukan hal-hal di luar kendali. Kemarin-kemarin, bagaimanapun gue berusaha mengingatkan lo, tetap aja lo nggak mau denger karena mata lo sedang tertutup hawa nafsu. Hawa nafsu untuk menghancurkan orang yang pernah menyakiti lo. Tapi sekarang di saat semua sudah terjadi lo baru ngerti kan apa maksud gue?"


Jelita mengangguk dan balik memeluk Diara dengan erat.


"Maafin gue Di..maafin gue yang udah keras kepala dan nggak mau dengerin lo, maafin gue yang egois dan cuma mau menang sendiri..."


"Iya Di, makasih udah selalu ngingetin gue, dan maaf kalau selama ini gue sering berprasangka buruk sama lo hingga hubungan kita jadi dingin. Bahkan lo sampai harus resign dari kerjaan karena nggak betah sama sifat gue kan?"


Mendengar itu Diara menggeleng kuat-kuat.


"Bukan gitu Je. Kita memang sering berselisih paham belakangan ini, tapi alasan gue buat resign bukan sekedar karena ini. Masalah ini justru menyadarkan gue, bahwa gue masih punya mimpi yang pengen gue wujudin, dan gue nggak mau selamanya terjebak dalam pekerjaan yang hanya jadi pelarian sesaat gue..."

__ADS_1


"Sialan lo! Jadi lo anggap kerja di kantor gue cuma pelarian gitu?"


Suasana yang semula mengharu biru itu seketika mencair.


"Ya emang begitulah Je, kerja kantoran begitu gue ngerasa jadi robot!"


"Dan lo adalah robot terbaik yang pernah gue pelihara!"


"Sialan lo!"


Diara balik menoyor kepala Jelita dengan kesal.


"Udahan yuk, masak kita ngobrol disini, cari tempat yang asyik kek..."


"Iya juga ya, yuk lo mau kemana emang?"


"Makan aja deh, ke tempat yang mevvah tapi ya?"

__ADS_1


"Ye, dipalak lagi gue? Ayo deh!"


Akhirnya mereka berdua meluncur ke sebuah restoran yang ada di hotel berbintang dengan diantar Pak Bin. Disana Jelita dan Diara bertukar banyak cerita. Mengurai kesalahpahaman yang selama ini membuat mereka jauh. Diara menceritakan semua, bagaimana dirinya pernah merasa putus asa hingga nyaris bunuh diri dan akhirnya bertemu dengan Arya dan Ibunya. Jelita pun merasa sangat menyesal dengan sikapnya selama ini yang tidak peka. Jelita terlalu fokus pada masalah dan urusannya sendiri, hingga tidak menyadari bahwa sahabatnya juga punya masalah dan sedang membutuhkan dirinya.


__ADS_2