Panggil Aku Mawar

Panggil Aku Mawar
Bab 31


__ADS_3

"Jadi lo udah yakin buat menyudahi sandiwara ini?"


Tanya Diara saat Jelita selesai menceritakan percakapan terakhirnya bersama Farid.


"Kan lo sendiri yang nyuruh gue buat berhenti, gimana sih?"


"Yes, tapi kok gue jadi ikut sedih ya? semoga setelah ini semua selesai lo bisa lembali melanjutkan kisah cinta yang tertunda ya?"


"Hahaha, nggak usah sok-sok an mikirin gue, pikirin aja jodoh lo sendiri Diara! Gue nggak mau ya jadi tempat pelarian lo terus-terusan!"


"Hahaha, iya deh nanti, asyikan kerja Je daripada mikirin cinta-cintaan..."


Jelita geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya. Meski baru akan mengajukan surat pengunduran diri, tapi kabar itu dengan cepat menyebar dan membuat rekan-rekan seprofesinya heboh.


"Hey Mawar, serius lo mau mengundurkan diri?"


Tanya Mona langsung saat melihat Mawar masuk ke pantry.


"Eh Mbak Mona, tahu darimana emangnya?"


"Nggak penting gue tahu dari mana! Jawab aja bener atau nggak?"


"Rencananya sih begitu mbak..."


"Apa nggak sebaiknya lo pikirin dulu baik-baik? Cari kerja di jakarta nggak gampang lo! Apalagi GAYA.Corp termasuk perusahaan yang cukup bonafit...ya walaupun kita-kita ini cuma OG..."


"Yakin Mbak Mona, tadinya aku cari kerja di Jakarta biar nggak kesepian karena harus hidup sendirian di kampung Mbak. Tapi sepertinya sekarang aku harus beresin urusan-urusanku di kampung dulu, sebelum nanti menentukan langkah selanjutnya yag harus aku ambil mbak..."


"Ya deh War, gue ngerti kok, emang sebaiknya lo cepet-cepet urus tuh warisan, kalau kelamaan suka susah ngurusnya. Dan semoga peninggalan dari orang tua lo bisa bermanfaat buat bekal hidup lo selanjutnya..."


"Ya mbak Mona, makasih banyak..."


Mawar masih harus menjalani hari-harinya sebagai OG sampai satu minggu ke depan sebelum waktu kerjanya benar-benar berakhir. Untuk itu Mawar memilih untuk lebih menikmati pekerjaan juga menikmati waktunya bersama rekan-rekan satu profesinya.


Dan tepat satu hari sebelum Mawar berhenti, Mawar mengajak rekan-rekannya untuk makan siang di luar kantor. Tepatnya di kedai soto betawi yang cukup terkenal tidak jauh dari kantor mereka. Harganya lumayan mahal untuk karyawan rendahan seperti mereka. Mereka sempat menolak dan memilih tenpat lain yang harganya lebih terjangkau, tapi Mawar bersikukuh dengan alasan ingin acara perpisahan mereka lebih berkesan dan lagipula, uang warisan peninggalan orang tuanya masih cukup banyak.


Jadilah siang itu, Mawar berangkat bersama Mona, Rosa, Ratih, dan Marni. Dan sebagai tamu spesial, hari itu Mawar juga mengajak Farid ikut serta.


"Ayo-ayo pesan yang banyak, jangan malu-malu, mumpung gratis..."


Kata Mawar sambil mengedarkan kertas menu pada rekan-rekannya.


"Wah-wah makasih lo mbak Mawar, kita jadi bisa makan enak, ditraktir lagi..."

__ADS_1


"Iya sama-sama, makasih juga kalian udah baik banget mau berteman sama aku yang kampungan begini..."


"Hehe, keinget banget ya War? Tapi itu gue jujur lo War, penampilan lo waktu pertama datang emang kampungan banget.. tapi kalau gue perhatiin sebenernya lo lumayan manis juga, dan badan lo itu lumayan seksi, coba dandanan lo modis, pasti bakal banyak cowok yang ngelirik elo"


"Uhuk..uhuk..."


Mendengar celotehan Mona, Farid yang sedang meneguk air mineral seketika tersedak.


"Ye mas Farid, yang diomongin Mawar, kok situ yang keselek!"


Farid hanya tersenyum kikuk mendengar ledekan Mona.


Sejak mulai berteman dengan Mawar, Mona sudah menerima bahwa Mawarlah wanita yang dicintai Farid, jadi Mona sudah membuang jauh-jauh perasaan konyolnya dan menerima kenyataan. Sejak itu pula hubungannya dengan Farid dan Mawar layaknya teman tanpa harus sok jaim lagi.


"Apaan sih mbak Mona? Aku suka kok kalau mbak Mona jujur dan aku nggak pernah anggap serius semua kejulidan Mbak Mona, malahan aku merasa terhibur...kalau Mbak Mona muji-muji malah jadi aneh rasanya.."


"hahaha..."


Tawa pun berderai diantara obrolan santai mereka siang itu.


"Udah buruan pesen, waktu kita nggak banyak kan?"


Kata Marni mengingatkan.


"Iya..iya, tenang aja..."


Merekapun langsung memesan sesuai keinginan masing-masing.


Tak berselang lama pesanan mereka diantarkan dan merekapun segera tenggelam dalam kesibukan menyantap makan siang dengan lahapnya. Maklum saja momen seperti ini lumayan langka bagi mereka. Makan di luar kantor dengan menu yang cukuo mewah bagi kalangan mereka.


Mawar merasa hatinya menghangat saat menatap rekan-rekannya terlihat lahab menyantap makanan yang baginya hanya makanan sederhana saja. Makanan di warung pinggir jalan, meski diakui Mawar rasanya memang lezat. Bahkan mereka makan hingga berkeringat dan ada yang minta tambah.


"Ternyata waktu cepat banget berlalu ya...perasaan baru kemaren gue bentak-bentak kalian waktu baru masuk, eh sekarang kita malah jadi sohib...", ucap Mona dengan pandangan menerawang.


"Iya, aku juga nggak nyangka kalau ternyata Mbak Mona yang suka julid, ternyata baik hati...", timpal Mawar.


"Makanya jangan suka nilai orang dari satu sisi aja, gue emang julid, tapi gue nggak munafik, malah terkadang orang yang terlalu manis itu berbahaya..."


"Kayak gue ya contohnya, terlalu manis dan berbahaya buat para kaum hawa, ya kan?", Ucap Farid dengan narsisnya.


"Hu..."


Ucap semua dengan kompaknya, Mawar bahkan menyumpal kerupuk ke mulut Farid saking gemasnya.

__ADS_1


"Tapi sayang banget, baru aja kita akrab, tapi Mawar udah keburu mau balik kampung, kenapa ya gue suka ngerasa momen kita datang terlambat dan terlalu sebentar, lebih lama kita musuhannya daripada jadi sahabat ya War? Gue baru sadar kalau lo orangnya asyik, mungkin sebelumnya hati gue tertutup iri dan dengki...", kata Mona lagi.


"Jangan berfikir gitu Mbak Mona, apa yang terjadi sudah pasti yang terbaik, karena waktu yang singkat jadi kebersamaan kita jadi lebih berkesan, kan kalau kelamaan nanti keburu bosan, eh nanti kalau ketahuan belangnya malah jadi musuhan lagi..."


"Sialan lo, gue kan pengen perpisahan ini jadi dramatis, lo malah ngerusak suasana aja!"


"Hahahaha"


Semua tertawa melihat tingkah Mona dan Mawar, yang walaupun katanya sudah akur, tapi tetap seperti kucing dan anjing.


"Udahan yuk cuz balik kantor, udah habis nih jam istirahat kita...", Ucap Rosa sambil melihat jam tangannya.


"Santai aja, sekali-kali telat nggak papa kan?", jawab Mawar menenangkan.


"Lo si nggak papa, udah mau keluar juga, nah kita? Masak telah berjamaah, kalau dipecat mau makan apa?"


"Iya juga ya, udah ah yuk cuz balik!"


Mereka akhirnya makan siang terakhir bersama Mawar dan kembali ke kantor dengan berat hati.


Hari terakhir bekerja, rekan-rekannya menyuruh Mawar untuk santai saja, tapi Mawar justru bekerja semakin giat karena tidak ingin menyia-nyiakan momen terakhirnya.


Saat jam kantor berakhir, Mawar bersalaman dengan rekan-rekannya dan suasanapun menjadi haru.


Pulang dari kantor, seperti biasa Farid mengantarkan Mawar ke kontrakan kecilnya.


"Besok pulang jam berapa? Boleh ku antar?"


"Aku berangkat pagi-pagi Mas, nggak usah. Mas Farid kan harus kerja, nggak enak kalau harus bolos cuma buat nganter aku..."


"Ya udah, kamu hati-hati di jalan, jangan lupa kabari aku kalau ada apa-apa..."


"Ya Mas, mas Farid pulang aja, sudah malam, kasian nanti Ibu nungguin di rumah..."


"Ya Mawar, aku pulang dulu..."


Farid berjalan menuju sepeda motor yang terparkir di depan rumah Mawar. Tapi sesaat kemudian Farid berbalik dan memeluk Mawar erat-erat. Mawar yang terkejut tidak sempat menghindar dan akhirnya menikmati pelukan itu.


"Kamu jaga diri baik-baik ya..."


Ucap Farid sambil menepuk-nepuk punggung Mawar.


Serelah itu Farid melangkah dengan cepat dan segera memacu sepeda motornya. Hatinya enggan berpisah, tapi Farid tak ingin perasaannya semakin dalam disaat dia harus melepas wanita yang dicintainya.

__ADS_1


__ADS_2