
Butuh waktu beberapa detik untuk mencerna kalimat yang baru saja di dengarnya. Mawar mencoba menegakkan kepalanya dan menatap Farid, mencari kesungguhan di dalam sorot matanya. Farid balik memandang dengan tatapan teduh sambil tersenyum.
"Mas Farid cuma bercanda kan? kita kan belum lama kenal...", entah mengapa justru pertanyaan itu yang terlontar dari bibir Mawar.
"Aku serius, aku sudah memikirkannya baik-baik...aku beneran suka sama kamu. Mungkin setelah ini aku bakal nggak kerja disini lagi. Karena itu kita butuh ikatan yang jelas agar bisa tetap berkomunikasi...", ucap Farid dengan yakin dan percaya diri.
Mawar menggeleng, setengah tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
"Maaf Mas Farid, aku nggak bisa. Aku cuma ngganggap Mas Farid nggak pebih dari teman. Aku nggak mau pacaran sama OB, aku maunya sama bos yang bisa naikin taraf hidupku nantinya..."
Semua yang mendengarnya cukup terkejut dengan jawaban Mawar. Terutama Farid yang jadi bengong, padahal tadinya sangat percaya diri.
Selang beberapa detik pecahlah tawa dari para penonton alias rekan-rekan mereka, diselingi suara sorakan.
"Huuu..."
__ADS_1
"Dasar cewek gila!"
"Mimpi lo dapat bos!"
"Dasar nggak tahu diri!"
Mawar bisa mendengar suara-suara sumbang yang mengejeknya.
Sementara Farid masih berdiri mematung dengan wajah merah menahan malu. Penolakan ini tentu sama sekali tidak diduganya. Apalagi dia nekat menyatakan perasaan di depan rekan-rekannya. Tapi mau bagaimana lagi, dia hanya bisa pasrah dan berlapang dada.
"Yasudah kalau itu yang kamu mau, aku pergi dulu...", Farid mencoba menguatkan diri dan tersenyum melepas sang pujaan hati.
Jadi sekarang, kemana dia harus pergi? Rasanya dia ingin bersembunyi dan menghilang, agar semua orang tak bisa melihatnya. Mungkin benar kata Ibunya. Berhenti bekerja di GAYA.Corp adalah keputusan terbaik untuk dirinya dan masa depannya. Mungkin memang dirinyalah yang selama ini terlalu bodoh dan naif. Bahkan perempuan yang terlihat polos seperti Mawar pun menginginkan pasangan yang mapan. Sedang dirinya hanyalah pria rendahan dengan uang pas-pasan. Atau mungkin ini juga karma karena dulu dirinya suka seenaknya mempermainkan perasaan wanita? Entahlah.
Sepanjang sisa hari itu Farid hanya berusaha fokus untuk menyelesaikan pekerjaan. Tak dihiraukan tatapan orang-orang yang mungkin menganggap dirinya konyol dan menyedihkan. Toh tidak lama lagi dia akan keluar dari GAYA.Corp dan melupakan semua drama memalukan yang di buatnya hari ini, juga melupakan perempuan yang telah mengecewakannya itu.
__ADS_1
Sementara Mawar juga tak kalah kalut dengan peristiwa yang baru saja terjadi. Bagi Mawar, Farid yang mengungkapkan perasaan di depan banyak orang tak pernah dibayangkannya. Dan hal itu jujur membuatnya terkejut dan juga panik. Mawar pikir, dirinya akan senang dengan ungkapan cinta dan kejelasan hubungan diantara mereka. Tapi ternyata pemikirannya salah. Ternyata dirinya belum siap untuk menjalin hubungan dengan siapapun. Dan melihat sorot mata Farid yang jelas terluka membuat Mawar merasa bersalah.
Flasback of
Jelita masih ingat jelas bagaimana dia menghadapi masa-masa kelam dalam hidupnya. Di malam dia dikabari bahwa ayahnya sedang kritis, dia justru memergoki tunangannya berselingkuh. Jelita menyempatkan diri untuk menyusun sejumlah rencana agar memiliki bukti-bukti yang kuat untuk mengungkap pengkhianatan juga rencana jahat tunangannya bersama selingkuhannya. Jelita menyuruh Diara menyewa mata-mata untuk mengawasi segala aktivitas tunangannya juga wanita selingkuhannya. Jelita menyuruh orang memasang alat penyadap dan juga kamera tersembunyi di beberapa sudut apartemen tunangannya. Tapi ternyata, akibat terlalu lama mengulur waktu, Jelita jadi tidak sempat bertemu dengan Ayahnya untuk yang terakhir kali. Dan saat sampai dirumahnya di kampung halaman ternyata ayahnya telah tiada.
Setelah kepergian ayahnya Jelita akhirnya memutuskan menghabiskan waktu di kampung halamannya hingga satu bulan lamanya. Sejenak Jelita ingin menepi dari hiruk pikuk kesibukan yang selama ini telah menyita seluruh waktu dan hidupnya. Tetapi, selama dirinya pergi, penyelidikan tetap berjalan. Bahkan selama waktu itu Jelita memberikan kesempatan pada tunangannya agar bisa berbuat sesuka hatinya. Pada Arya tunangannya, Jelita menjelaskan kalau dirinya batal berangkat ke London dan langsung bertolak ke kampung halamannya untuk menjenguk sang ayah yang kemudian malah meninggal dunia. Jelita tentu tidak mengatakan bahwa malam itu dia pergi ke apartemen Arya dan memergoki aktifitas menjijikkan yang dilakukan Arya bersama selingkuhannya. Selama satu bulan di kampung halaman itu pula, Jelita masih menahan diri, bersikap manis dan berkomunikasi dengan Arya seperti biasa seolah tidak terjadi apa-apa. Jelita menolak Arya yang ingin menyusul ke kampung halamannya dengan berbagai alasan. Dalam hati Jelita merasa muak dengan sikap sok manis Arya yang dulu selalu membuatnya luluh. Jelita tidak ingin Arya yang pandai bersandiwara mencari muka di depan keluarganya sementara hubungan mereka sebenarnya telah hancur.
Jelita memang pandai berpura-pura. Sekuat hati Jelita berusaha menyembunyikan sakit hati dan kesedihan dari orang-orang di sekitarnya. Jelita bisa bersikap tenang demi menutupi semuanya. Terutama demi keluarganya yang masih dalam keadaan berduka. Jelita tidak ingin membebani siapapun dengan masalahnya.
Tapi siapa yang tahu bahwa jauh di dalam hatinya, Jelita hancur berkeping-keping. Di serang oleh musuh adalah hal biasa. Tapi dikhianati sekaligus dijatuhkan oleh orang paling dekat, paling dipercaya, sekaligus dicintai membuat dunia jelita langsung terbalik. Jelita sedih, takut, dan khawatir. Jika orang yang paling dekat dengannya saja bisa berkhianat, lalu siapa lagi yang bisa dia percaya?
Selama ini Jelita hidup sebagai orang yang naif. Selalu berfikir positif, mudah percaya, dan baik pada siapa saja. Jauh dari keluarga membuatnya mudah dekat dengan orang-orang disekitarnya. Tapi sekarang Jelita menyadari bahwa yang dia miliki adalah fana. Harta dan kedudukan memang bisa membuat orang-orang berhenti merendahkannya, bahkan berbalik memujanya. Tapi tidak ada ketulusan disana. Yang ada hanyalah kepalsuan.
Jelita yang merasa muak dengan kehidupan dan rutinitasnya di ibu kota memutuskan sejenak beristirahat di kampung halamannya. Mencoba menjalani kehidupan sederhana seperti di masa kecilnya dulu. Ternyata dalam kesederhanaan itu hidupnya terasa lebih hangat dan menentramkan. Hal yang dulu tidak pernah disadari dan selalu dikeluhkannya. Jelita bersyukur disaat-saat terpuruknya, dia masih punya keluarga yang menerimanya dan rumah untuk pulang. Jika tidak mungkin saat itu dirinya sudah gila.
__ADS_1