
Sudah cukup larut saat Farid tiba dirumah lagi. Tubuhnya terasa lelah tapi hatinya terasa penuh. Perasaan yang sudah lama tidak dirasakannya. Belakangan Farid hanya fokus bekerja saja, tidak ada tempat untuk memikirkan hal lain. Dirinya sudah jarang bersenang-senang apalagi memikirkan untuk punya pacar. Yah kehidupannya sekarang sangat berbeda dengan kehidupannya dulu. Dulu saat keluarganya masih lengkap dan Ayahnya masih ada, hidupnya selalu mudah. Keluarganya bukan orang kaya, tapi dirinya tidak pernah kekurangan. Maklum saja Farid adalah anak tunggal, jadi kedua orang tuanya cenderung memanjakan dan selalu memprioritaskan kebutuhan Farid.
Farid punya wajah yang cukup tampan juga otak yang cukup encer. Tapi kemudahan hidup yang selama ini dijalaninya membuatnya terlena dan malas untuk berusaha lebih. Selama ini Farid hanya menjalani hidupnya seperti air mengalir. Farid tidak pernah belajar terlalu rajin, karena hanya dengan membaca sedikit saja nilainya sudah cukup bagus. Apalagi Farid tidak punya saudara yang menjadi tolok ukur pencapaiannya. Farid di masa muda lebih banyak menghabiskan waktunya dengan bermain-main dan bersenang-senang dengan banyak perempuan. Wajahnya memang tampan dan hal itu cukup membuat para gadis berlomba mendekatinya. Farid tahu betul kelebihannya dan memanfaatkan hal itu demi kesenangan masa mudanya. Tak perlu susah payah merogoh kocek, banyak gadis yang dengan senang hati akan mentraktirnya. Sekedar menjelajah tempat makan dan nonton di bioskop sudah menjadi agenda sehari-hari. Dengan perempuan yang berbeda-beda tentunya. Farid tidak mau terbebani dengan status pacaran. Tanpa adanya status dirinya bisa jalan dengan siapa saja tanpa harus merasa bersalah. Tentu Farid tak munafik, banyak gadis yang merasa tersakiti dengan sikapnya. Tapi salah siapa? Dirinya tidak meminta, tapi mereka sendiri yang mendekatinya.
Begitulah kehidupan Farid dengan gaya hedonnya dulu. Tapi sekarang kehidupannya sudah jauh berbeda. Ayahnya meninggal mendadak karena serangan jantung. Tidak lama setelah itu Ibunya terkena serangan stroke dan menghabiskan biaya yang cukup banyak untuk pengobatan. Farid merasa sangat takut saat Ibunya terkena serangan yang pertama. Belum hilang diingatannya saat Ayahnya pergi dengan mendadak dan Farid sangat takut jika hal yang sama terjadi pada Ibunya. Farid belum siap untuk kehilangan Ibunya dan hidup sebatang kara. Karena itu Farid berdoa dengan sungguh-sungguh agar Ibunya selamat. Dalam hati Farid berjanji untuk berubah dan menjalani hidupnya dengan lebih baik. Untunglah Tuhan masih berbaik hati mengabulkan doanya. Ibunya selamat meski harus menjalani perawatan dan pemulihan yang cukup panjang. Pengobatan Ibunya memakan biaya yang sangat banyak. Tapi yang terpenting bagi Farid adalah kesembuhan Ibunya, jadi Farid melakukan segala cara untuk mendapatkan uang dengan cepat termasuk berhutang. Ibunya perlahan-lahan sembuh dan pulih, tapi hutang keluarganya semakin menggunung. Sekarang Farid baru merasakan kerasnya hidup. Sekarang hidupnya hanya dihabiskan dengan bekerja dan bekerja demi melunasi hutang. Tidak ada lagi waktu untuk bersantai dan bersenang-senang sepertu dulu. Tapi sejak mengenal Mawar, entah mengapa Farid merasa nyaman untuk sekedar berlama-lama mengobrol dengan gadis itu. Sosoknya yang polos tapi berani sangat berbeda dengan para gadis yang dikenalnya dulu. Dan hidupnya yang datar kini kembali terasa berwarna dengan kehadiran Mawar. Tapi sudahlah. Lagi-lagi Farid memilih menepis angan-angannya. Hutangnya masih cukup banyak. Meski tadi Ibunya menyuruhnya berhenti bekerja untuk melanjutkan kuliah, tapi Farid tidak mungkin menurutinya begitu saja. Mana tega Farid membiarkan Ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan untuk bekerja. Tentu sebagai gantinya Farid harus mencari pekerjaan sampingan atau mencari pekerjaan dengan gaji yang lebih besar. Jadi, lupakan sejanak urusan cinta-cintaan yang tak penting. Sekarang dirinya masih harus berjuang.
Sementara di tempat lain, Mawar sedang bersiap untuk tidur saat seseorang mengetuk pintunya. Siapa orang yang datang malam-malam begini? Seingat Mawar yang tahu tentang kontrakan kecilnya hanya Pak Bin, Diara, dan Farid yang mengantarnya tadi. Mawar membuka pintu dan terkejut saat melihat orang yang sangat dibencinya berdiri di depan pintu.
"Arya?"
"Selamat malam Jelita sayang..."
"Ngapain kamu kesini?"
"Seharusnya aku yang tanya, ngapain kamu tinggal di kontrakan kumuh begini?"
"Bukan urusan kamu, sekarang cepat kamu pergi dari sini!"
"Jangan marah-marah gitu dong sayang, aku bisa jelasin semuanya, ini cuma salah paham..."
__ADS_1
"Pergi dari sini atau aku akan teriak!"
"Tenang dulu sayang, aku nggak akan pergi sebelum kamu nerima lamaranku..ayo sayang..kita lanjutkan rencana pernikahan kita secepatnya..."
"Dasar cowok brengs*k! Untuk apa aku menikah sama laki-laki yang jelas-jelas cuma mempermainkanku!"
Jelita melayangkan telapak tangannya bersiap untuk menampar mantan kekasihnya itu. Tapi sebelum mendarat, Arya lebih dulu menangkap tangan Jelita.
"Tenang sayang, mari kita bicarakan masalah kita baik-baik, jangan pakai kekerasan, perempuan cantik sepertimu tidak pantas bermain kasar..."
"Berhenti merayuku bajing*n!"
Arya meraih kepala Jelita dan mendekatkan bibirnya, bersiap untuk menyesapnya. Jelita yang tak siap dengan serangan mendadak itu tak bisa mengelak. Tapi saat bibir mereka saling menempel, Jelita menggigitnya sekuat tenaga sampai Arya kesakitan dan bibirnya sedikit berdarah.
"Aw, dasar perempuan sialan!"
"Hahaha, bagaimana rasanya ciuman mautku? Mau kucium lagi sayang?", tantang Jelita dengan berani.
Arya melepaskan ciumannya dan sejenak menjauh dari Jelita. Arya mengusap bibirnya dengan tangannya dan melihat darah segar disana. Sialan! Sebagai laki-laki Arya merasa sangat terhina dan harga dirinya terkoyak oleh perlakuan Jelita. Arya kembali berjalan mendekat, kemudian tangannya mencengkram bahu Jelita dan menuntunnya ke tempat tidur tipis di kontrakan itu. Arya membanting tubuh Jelita hingga terhempas di atas tempat tidur dan punggungnya terasa sakit.
__ADS_1
"Mau apa kau bajing*an?"
"Aku hanya menuruti keinginanmu, jika kau tak suka aku merayumu dengan manis, mari lakukan dengan cara kasar seperti yang kamu inginkan!"
"Apa maksudmu bajing*an, pergi dari sini sekarang juga!"
"Kamu sendiri yang memaksaku melakukan ini, jadi jangan salahkan aku nanti!"
"Jangan macam-macam, aku bisa menuntutmu nanti!"
"Maka lakukanlah itu nanti, marilah kita bersenang-senang terlebih dahulu malam ini, aku akan memperk*samu, jika cari ini bisa membuatmu jatuh ke pelukanku lagi!
"Jangan lakukan atau aku akan teriak!"
Sebelum Jelita sempat berteriak, Arya lebih dulu menyumpal mulut Jelita dengan kain. Arya mulai beraksi menyentuh setiap lekuk tubuh Jelita. Jelita mencoba berontak, tapi tenaganya kalah. Jelita ingin berteriak, tapi suaranya tak bisa keluar.
"Tenang saja sayang, aku sudah cukup ahli, ini tidak akan menyakitkan, akan kubuat kau menikmatinya, lalu nanti memintaku lagi...dan lagi..."
"Dasar bajing*an sialan!"
__ADS_1
Jerit Jelita dalam hati, sedang dirinya benar-benar tak berdaya saat ini.