
Jelita mengemasi barang-barang di kontrakan kecilnya, lalu di jemput Pak Bin untuk pulang ke apartemennya. Sandiwaranya telah berakhir, tapi semua tak lantas bisa kembali seperti sedia kala. Sepotong hatinya tertinggal bersama seorang lelaki yang tak pernah diduganya. Juga kenangan manis yang akan selalu tersimpan di hati. Dan, mungkinkah kelak masih ada kesempatan untuk melanjutkan kisah yang tertunda? Entahlah. Yang jelas, kini tidak ada lagi Mawar. Hanya seorang Jelita yang harus kembali berjuang dengan segala kerapuhannya.
Jelita menguatkan hatinya dan menegakkan kepalanya. Masalah hati, biarlah dia selesaikan nanti. Sebab di depan mata ada masalah yang harus diselesaikannya segera. Bukan karena Jelita haus harta, tapi karena Jelita bertanggung jawab atas kestabilan dan keberlangsungan perusahaan yang menaungi hajat hidup para karyawannya.
Tak ingin buang waktu, Jelita segera datang ke kantor. Jelita akan bertindak tegas dan bergerak cepat. Hari ini Diara sudah mengundang tim pengacara untuk berdiskusi tentang kasus yang akan mereka laporkan.
Jelita masuk ke dalam ruangannya dan Diara sudah siap dengan semua alat bukti yang mereka punya. Tidak berselang lama, tim pengacara datang dan bergabung bersama Jelita dan Diara.
Diara mengeluarkan semua data juga bukti-bukti yang mereka miliki. Mulai dari catatan keuangan, rekaman CCTV, email Gunawan, juga bukti-bukti lainnya.
"Ini sudah lebih dari cukup, kami yakin bisa membantu anda memenangkan kasus ini..."
"Kami tidak ingin sekedar menang, kami ingin masalah ini di usut sampai ke akar-akarnya dan semua yang terlibat harus di hukum seberat-beratnya..."
"Ya tentu saja, kami sangat paham, tapi kita juga harus mencari tahu, berkenaan dengan perusahaan pesaing, apalah itu hanya ulah satu dua oknum seperti di GAYA.Corp atau ada memang para direksi perusahaan yang ingin menyerang perusahaan Nona. Kita harus berhati-hati jika berhadapan dengan perusahaan raksasa..."
Jelita paham, perusahaan kompetitor yang terlibat dalam kasus ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Jelita harus berhati-hati kalau tidak mau hancur sendiri.
"Ya aku tahu, aku hanya ingin tahu tentang kebenarannya. Aku akan menggerakkan orang-orangku untuk menyelidikinya lebih dalam, sementara itu, aku ingin kasus ini segera masuk ke ranah hukum, karena kecurangan yang dilakukannya sudah sangat merugikan perusahaan..."
"Baiklah, kapan anda ingin mulai memasukkan gugatan Nona?"
Jelita berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab,
"Lusa, besok aku ingin bicara empat mata dan meminta pengakuannya secara pribadi. Tapi apapapun nanti jawabannya, kita akan tetap mengajukan tuntutan..."
"Baik Nona, siap laksanakan, anda bisa percaya pada kami..."
Setelah dirasa cukup melakukan pembicaraan empat mata. Akhirnya tim pengaca yang di sewa Jelita undur diri. Tinggalah di dalam ruangan, Jelita bersama Diara berdua saja.
__ADS_1
"Lo hebat Je, gue salut sama lo! Kita pasti bisa selesaikan masalah ini!", kata Diara untuk menyemangati Jelita.
Diara tahu, ini akan jadi perkara besar yang akan menguras emosi dan pikiran mereka, tapi bagaimanapun juga mereka tetap harus menghadapinya.
"Thanks a lot Di, gua nggak tahu gimana nasib gue kalau nggak ada lo, makasih banget lo selalu ada disamping gue dan mendukung gue..."
Jelita mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannnya perlahan. Entah mengapa tiba-tiba dirinya merasa sangat lelah. Sangat lelah.
"Di, cabut dari kantor yuk, kayaknya gue butuh healing sebentar..."
"Hah, kemana?"
"Gimana kalau kita ke puncak?"
"Serius lo?"
"Iyalah, yuk cuz..."
Mereka sudah bekerja keras dan sebentar lagi mereka akan mulai berperang, jadi Jelita pikir mereka butuh amunisi, juga hati dan pikiran yang tenang untuk menghadapi apa yang harus terjadi di depan.
"Ok lah, gue siap-siap dulu..."
Diara membongkar lemari kecil yang ada di ruangan Diara dan mencari baju kasualnya. Begitupun dengan Jelita. Mereka berganti pakaian santai sebelum akhirnya turun ke lobby. Pak Bin memang selaku bisa dindalkan. Hanya dalam waktu kurang dari lima belas menit Pak Bin sudah siap mengantar nona-nona pergi berlibur.
Terkadang rencana random dan mendadak seperti ini dibutuhkan untuk tetap waras menghadapi realita. Sebab pekerjaan dengan segala permasalahannya tak kan habis meski dikerjakan duapuluh empat non stop. Jadi mari bersenang-senang sejenak.
Lalu lintas menuju puncak di hari kerja terhitung ramai lancar. Itulah sebabnya Jelita lebih suka jalan-jalan dan berlibur di saat hari kerja. Sebab berlibur di akhir pelan hanya akan menghabiskan waktu di jalan. Kalau akhir pekan Jelita lebih suka menghabiskan waktu untuk sekedar beristirahat atau nongkrong ditempat hiburan yang tidak terlalu jauh jaraknya.
Tidak berselang lama, mobil Pak Bin berhenti di sebuah villa dengan bangunan minimalis milik Jelita.
__ADS_1
Vila itu berukuran 400m persegi, yang berdiri di lahan seluas satu setengah hektar. Di pekarangan villa ditanami berbagai pepehonan buah-buahan, tanaman sayur-sayuran juga aneka buah. Vila itu juga dilengkapi berbagai fasilitas, seperti kolam renang, lapangan basket, jalur sepeda, juga ada kolam ikan dan air mancur mini yang menyejukkan mata dan telinga. Villa itu selalu nampak bersih dan terawat, karena ada sepuluh orang yang bekerja untuk mengelolanya. Dulu Jelita sengaja membangun villa ini untuk menyambut keluarganya, jika sesekali mereka mengunjunginya ke ibu kota. Tapi Jelita hanya sempat mengajak keluarganya tiga kali saja, karena padatnya jadwal pekerjaan.
Sekarang villa ini sesekali juga disewakan kepada para wisatawan dan hasilnya Jelita gunakan untuk menutup biaya perawatan dan membayar para pekerja.
"Enak banget ya Je disini, kalau boleh gue mau dimutasi kerja jadi pegawai disini aja deh Je...", ucap Diara sambil berlarian diantara pepohonan mangga yang sedang berbuah.
"Hahaha, tapi gajinya cuma seperlima aja dari gaji lo sekarang, mau?"
"Ah elo Je, nggak bisa disamaain aja ya? Lo kan tahu gue mata duitan, gue masih butuh nabung biar bisa hidup bebas dari ortu sepenuhnya..."
"Heh, kalau mau lepas dari ortu lo harusnya nikah, bukannya nabung!"
"Iya juga sih Je, tapi kan gue jomblo, udahlah Je sesama jomblo jangan bahas masalah nikah-nikahan, lagian kita kan kesini mau healing.."
"Iya juga ya Di, yaudah yuk...gue pengen metik mangga dan stroberi, habis itu gue pengen makan sambil berenang ala-ala floating breakfast gitu Di..."
"Ini udah siang Je, bukan floating breakfast namanya, yang ada malah kulit kita jadi gosong..."
"Terserah lah Di, gue nggak peduli apa namanya...ayo kita bersenang-senang disini, tar sekalian aja kita nginep, pulang besok pagi aja dan langsung cus ke kantor buat tempur..."
"Iya..iya Je terserah lo aja deh, gue ngikut!"
Dan begitulah akhirnya mereka menghabiskan sisa hari itu di villa. Jelita dan Diara kalap memetik buah-buahan yang tumbuh lebat di perkebunan itu. Tapi mereka sudah kenyang hanya dengan memakan beberapa potong mangga seusai makan siang. Akhirnya mereka hanya rebahan dan berakhir dengan tidur siang yang nyaman.
Sore harinya Jelita meminta pegawainya menyiapkan perlengkapan barbeque lengkap dengan jagung bakar dan aneka camilan. Jelita juga memesan kembang api meski malam ini bukan malam tahun baru.
Semua siap dalam sekejap. Malam itu mereka benar-benar bersenang-senang, berpesta di balkon villa dengan aneka hidangan lezat, lalu duduk beralaskan bebek yang mengapung di atas kolam renang sambil membicarakan hal-hal ramdom.
Jelita dan Diara sangat menikmati moment itu dan baru masuk ke kamar pukul dua belas malam. Bagaimanapun mereka butuh beristirahat. Mereka tidur denga. lelap dan bangun kesiangan keesokan harinya. Pak Bin sudah menunggu untuk mengantarkan mereka kembali ke kantor. Dan akhirnya mereka berdua sampai di kantor tepat pukul sembilan.
__ADS_1
Diruangan Jelita, Gunawan sudah menunggunya dari tadi dengan wajah pucat.