
Di dalam kamarnya yang terkunci Diara kembali menangis dan menangis, meluapkan semua amarah dan kekesalannya.
Dari luar terdengar pintu di ketuk berkali-kali.
"Diara! Diara!", panggil Papa sambil mengetuk pintu.
__ADS_1
Diara mengabaikan panggilan itu dan tetap menangis dan menangis. Tidak lama berselang suara ketukan pintu itu berhenti. Dan samar-samar Diara bisa mendengar suara langkah kaki Papa yang menjauh. Dan sekali lagi, Diara semakin terluka.
Diara masih ingat jelas, dulu bagi Papanya dirinya adalah yang nomor satu. Papanya yang selalu membelanya saat dirinya sedang bertengkar dengan Kak Tomi. Papa yang selalu mengantar dan menjemputnya pulang sekolah. Papa yang selalu menyeleksi setiap laki-laki yang datang mendekatinya. Papa yang rela menggendongnya kemana-mana saat kakinya patah saat kecil dulu. Tapi kini Papanya sudah berpaling dan tega mengabaikan dirinya demi perempuan lain. Selama ini, Diara belum pernah merasakan patah hati karena ditinggalkan. Juna adalah kekasih pertama dan terakhirnya sampai saat ini. Dan mereka pun dipisahkan oleh maut dimana Juna meninggal karena melindunginya. Tapi kini, Diara benar-benar merasa sakit, saat cinta pertamanya telah tega mengkhianati Mama dan dirinya.
Diara terus menangis dan menangis. Entah apa yang sebenarnya dia tangisi. Diara merasa hatinya sakit sekali. Diara benci Papa. Diara benci Kak Tomi. Diara benci Jelita. Seolah-olah tidak ada seorangpun di dunia ini yang perduli padanya. Hanya Mama yang selama ini mencintainya dengan tulus, tapi Mama telah tiada. Dan dari semua itu, Diara benci dirinya sendiri karena sudah menyia-nyiakan Mama. Diara menyesali kebodohannya selama ini. Disaat Mama selalu menunggunya dirumah dengan segala perhatian dan kasih sayangnya dirinya malah memilih pergi karena keegoisannya. Diara menyesal tidak membalas cinta Mama dengan cukup. Dirinya tidak lebih baik dari Papa, yang bahkan tidak tahu jika Mama sedang berjuang melawan penyakitnya seorang diri. Diara menyesali kelalaiannya yang tidak sempat berbakti sebelum Mama pergi.
__ADS_1
Diara mengambil mobil dan menyetir di jalanan tanpa arah dan tujuan. Diara hanya terus berputar-putar sampai merasa tubuhnya lelah. Diara ingin lari. Diara ingin pergi. Tapi dirinya tidak punya tujuan.
Diara ingin mencari ketenangan yang abadi. Seperti Mamanya yang sudah merelakan semua hal menyakitkan dalam hidup dan tidur dengan tenang.
Ya, itulah yang Diara inginkan saat ini. Diara mulai berfikir, bagaimana cara paling indah dan tidak menyakitkan untuk mengakhiri ini semua. Diara mulai membayangkan satu persatu kemungkinan dan pilihan.
__ADS_1
Diara akhirnya pergi ke sebuah tempat yang tinggi. Di sebuah atap gedung berlantai tujuh itu Diara memandang langit yang nampak biru terhampar. Diatas sana semua terlihat indah. Diara ingin pergi ke tempat yang indah itu, dimana permasalahan hidupnya akan hilang dalam sekejap. Diara ingin pergi kesana dan bertemu dengan Mama. Diara melangkah perlahan sambil memejamkan mata. Dirasakannya hembusan angin menerpa wajahnya, terasa dingin dan menyegarkan. Diara telah sampai di ujung gedung. Diara memberanikan diri membuka matanya. Diara lalu menengadah dan memandang langit di atas. Ya di sanalah tempat Mamanya berada. Tempat yang indah dan tenang. Bukan di dunia yang penuh dengan manusia yang tamak dan serakah. Diara mengayunkan kakinya, hingga salah satu kakinya melayang di udara. Tubuhnya terasa ringan diterpa angin. Ya, inilah saatnya. Diara menjatuhkan tubuhnya, tapi kemudian merasakan sebuah tangan menarik tubuhnya dengan kasar hingga tubuhnya jatuh membentur sesuatu yang keras.
"Aw!", Diara memekik menahan sakit.