
Malam itu, Diara duduk di meja makan rumahnya seorang diri. Dengan setengah hati Diara menyantap makan malamnya berteman sepi. Sungguh ironi, dulu saat Mamanya masih ada dan selalu menunggunya pulang, Diara malah lebih memilih menginap di kantor atau pulang saat malam telah larut. Tapi kini disaat sudah tidak ada siapapun yang menunggunya, Diara justru lebih sering pulang ke rumah tepat waktu.
Diara melihat ke arah jam dinding yang masih menunjukkan pukul delapan malam. Matanya belum mengantuk. Diara membawa piringnya yang masih berisi setengah dan pindah duduk di sofa. Sepertinya akan lebih nyaman makan disana. Iseng Diara menyalakan televisi agar suasana tidak terlalu sepi.
Televisi menyala menampilkan siaran berita, breaking news : pemeran video porno berisial AA resmi ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka. Diara langsung menajamkan matanya dan mengamati sosok pesakitan yang sedang digiring petugas kepolisian. Meski wajahnya disensor, Diara masih mengenali dengan yakin dari postur tubuhnya kalau pria berinisial AA itu jelas adalah Arya Anggara. Ternyata Jelita benar-benar bertindak di luar ekspektasinya. Begitulah perempuan jika sudah punya kemauan dan keberanian. Saat mencintai Jelita rela melakukan apa saja dan memberikan segalanya kepada orang yang dicintainya. Tapi saat disakiti, Jelita benar-benar membalaskan rasa sakit hatinya tanpa kenal ampun. Bahkan meski menurut Diara cara yang dilakukan Jelita tidaklah benar, tapi Diara tetap kagum pada power yang dimiliki sahabatnya itu.
Siaran berita itu telah selesai dan tanpa sadar makanan dipiringnya juga telah tandas. Diara memilih masuk ke kamar dan merebahkan tubuhnya yang terasa lelah. Tiba-tiba terlintas di benak Diara, bayangan Ibunya Arya yang sedang dirawat di rumah sakit. Wanita tua dengan tubuh ringkih dan kuyu. Bagaimana nasibnya, jika anak semata wayang yang setia merawatnya justru mendekam di dalam tahanan? Diara jatuh iba. Diara tak kuasa membayangkan jika hal serupa terjadi kepada mamanya. Di saat orang yang sedang sakit membutuhkan dukungan dan kehadiran orang tercinta, tapi pada kenyataannya dia malah harus berjuang sebatang kara.
Diara akhirnya memilih memejamkan matanya lebih awal. Ditepisnya segala pikiran buruk yang kerap hinggap di dalam benaknya. Diara sudah memutuskan dia harus hidup dengan lebih baik dan jadi orang yang bermanfaat walaupun dengan cara yang sederhana.
Keesokan harinya Diara datang ke kantor dan bekerja seperti biasa. Hari itu Diara kembali memilih pulang tepat waktu sebab ada sesuatu yang ingin di kerjakannya. Diara lalu mampir ke supermarket untuk membeli sedikit buah-buahan. Setelah itu Diara langsung meluncur menuju rumah sakit tempat Ibunya Arya dirawat.
"Selamat malam Ibu...", sapa Diara saat membuka pintu ruang perawatan.
Dikihatnya Ibunya Arya sedang duduk termenung dengan tatapan kosong. Mendengar sapaan Diara membuatnya sedikit terkejut.
Diara berjalan mendekat, lalu meraih tangan wanita tua itu untuk menciumnya.
Beliau tampak sungkan, namun bibirnya tersenyum.
"Diara, kamu datang lagi nak?"
"Iya Bu..."
__ADS_1
"Tapi Arya sudah tiga hari ini tidak datang kesini nak...terakhir dia bilang ada kemungkinan akan bekerja di luar kota..."
"Tidak apa-apa, saya kesini untuk menjenguk Ibu, bukan untuk mencari Arya...."
"Ibu pikir, apa kalian punya hubungan yang spesial?"
"Ah, tidak Ibu kami hanya teman biasa..."
"Arya sebenarnya anak yang baik dan lembut hatinya, hanya saja mungkin dia tumbuh besar dengan perasaan dendam di hatinya, dia akan butuh seseorang yang mau menerimanya dengan tulus di sisinya..."
Diara hanya tersenyum menanggapi itu.
"Saya bawa sedikit buah-buahan, apa Ibu mau makan?"
"Ya, Ibu ingin anggur hijau itu..."
"Sudah cukup..."
"Kenapa hanya sedikit Bu?"
"Ini enak sekali, tapi kalau terlalu banyak saya hanya akan memuntahkannya..."
"Oh..."
__ADS_1
"Ibu, apa sudah sempat menghubungi nomor Arya?", tanya Diara kemudian.
"Sudah beberapa kali, tapi ponselnya tidak aktif..."
"Boleh saya minta nomor Ibu?"
"Tentu saja silahkan, tolong simpan juga nomormu di ponsel Ibu..."
"Baik bu, terimakasih banyak..."
"Sama-sama..."
"Oh ya Bu, sepertinya sudah cukup, saya pamit dulu ya Bu...Ibu juga pasti ingin istirahat...lain kali saya akan datang lagi menjenguk Ibu.. "
"Tentu saja, Ibu akan senang kalau kamu mau datang...pulanglah, ini sudah malam dan hati-hati di jalan..."
Diara menyalami Ibu Arya sebelum melangkah keluar.
Di luar, Diara menghampiri meja perawat. Ada sesuatu yang ingin dia bicarakan.
"Mbak, saya titip tolong jaga Ibu Rusmini ya...dan kalau ada apa-apa dengan beliau atau ada situasi yang darurat mbak bisa tolong hubungi saya..."
ucap Diara sambil mengangsurkan karru namanya.
__ADS_1
"Baik mbak..."
Setelah memastikan bahwa perawat itu paham apa yang dimintanya, akhirnya Diara bisa pulang ke rumah dengan tenang.