Panggil Aku Mawar

Panggil Aku Mawar
Bab 44


__ADS_3

Saat akan melangkah masuk, Diara dan Tomi melihat Papanya sedang duduk di samping Mama. Mama terlihat senang saat Papa menyuapinya makan. Sepintas pemandangan itu bagaikan pasangan senja yang masih romantis. Ah, andaikan saja....


Diara mengamati sebentar pemandangan itu, sebelum akhirnya mereka masuk bergabung bersama orang tua mereka.


"Papa kapan datang?"


Tanya Diara untuk berbasa-basi.


"Baru saja, kalian sudah makan?"


"Sudah, baru saja kami dari cafetaria..."


"Baguslah, Mamamu jadi manja begini sama Papa, minta disuapin segala, hehehe..."


"Ya kan, kapan lagi minta disuapin makan sama suami kalau nggak lagi sakit nggak mungkin keturutan..."


"Ah Mama, kalau Mama minta pasti Papa mau kok suapin Mama..."


Mereka mengobrol sambil melempar senyum, seolah keharmonisan itu nyata, padahal tak lebih dari sandiwara. Bagaimana kalau seandainya Mama tahu yang sebenarnya?.


Tapi sayang kehangatan itu harus terganggu saat ponsel Papa berdering. Dan Papa pun pamit keluar untuk mengangkatnya.


Rasa penasaran membuat Diara keluar mengikuti Papanya.


Dari obrolan yang dihiasi kata-kata manis itu Diara bisa menebak bahwa yang menelpon Papa adalah seorang perempuan.


"Siapa Pa?"


Tanya Diara langsung. Papa terlihat terkejut sebelum menjawab.


"Teman kerja Papa..."


"Perempuan yang tadi pagi?" Tuduh Diara sambil menatap tajam Papanya.


"Ya, Mamamu sudah tahu dan tidak keberatan..."

__ADS_1


"Apa maksudnya Pa?"


"Dia calon istri Papa, dan Mamamu sudah memberi izin..."


Diara bagaikan tersambar petir di siang bolong. Meskipun Diara sudah menerka-nerka, tapi pengakuan langsung dari Papanya bagaikan sebilah pisau yang manancap tepat di jantungnya. Diara merasakan sakit yang teramat sangat.


"Papa jahat!"


Diara berlari sambil terisak. Entah bagaimana perasaan Mama, jika dirinya saja merasa sehancur ini.


"Diara!!"


Papanya memanggilnya, tapi tidak mengejarnya. Papanya justru berbalik arah. Pastilah Papa lebih memilih meladeni perempuan itu. Dan hal itu membuat Diara semakin terluka. Cinta pertamanya mengabaikannya karena sedang jatuh cinta.


Diara berlari ke arah taman dan menumpahkan semua kesedihannya disana. Diara menangis dan terus menangis. Sampai kemudian ponselnya berdering. Telepon dari Tomi.


"Kamu dimana Di?"


Diara tak langsung menjawab sebab masih mengatur nafasnya.


"Kamu cepat balik sini jagain Mama ya? Aku mau jemput anak-anak sebentar.."


Diara hanya menjawab singkat.


Dihapusnya air mata yang membasahi wajahnya. Dia harus kuat dan tidak boleh terlihat sedih di depan Mama.


Diara lalu ke toilet untuk cuci muka sebelum kembali ke kamar perawatan Mama.


Sampai disana Diara mendapati Mama tengah tertidur pulas. Wajahnya terlihat tenang dan damai. Diara mencium tangan Mamanya dan meletakkan kepalanya di dekatnya.


Betapa berat cobaan yang menimpa Mama, tapi wanita itu tak mengeluh sedikitpun, bahkan terlihat begitu tenang. Dan bahkan setelah Mama tahu semuanya?


Tanpa sadar Diara pun ikut jatuh tertidur.


Diara terbangun saat merasakan belaian lembut di kepalanya.

__ADS_1


"Mama udah bangun?"


"Udah dari tadi sayang, kamu capek banget ya sampek ketiduran disini?"


Diara hanya menggeleng. Nyatanya Diara memang tidak bisa tidur saat pulang ke rumah, dan entah mengapa dirinya malah jadi mudah tertidur saat mununggui Mama.


"Mama mau apa, mau makan apa, biar Diara ambilin..."


"Mama mau minum ait putih saja, haus..."


Diara lalu menyerahkan segelas air putih yang ada di atas nakas.


"Mama mau jalanin terapinya kan Ma, biar Mama bisa sembuh, biar bisa lebih lama bareng-bareng sama Diara?"


"Pasti Kakakmu ya yang suruh kamu bujukin Mama? Mama sudah tua...sudah cukup menikmati semua yang ada di dunia, untuk apa kalian buang-buang uang dan energi untuk pengobatan Mama yang harapannya sangat tipis? Kalau memang sudah waktunya, kalian harus ikhlaskan Mama..."


"Mama kenapa bicara seperti itu, harapan itu selalu ada Ma, asalkan kita berusaha. Lagi pula untuk apa Diara capek-capek kerja, kalau uangnya nggak kepake. Uang bisa dicari Ma, tapi Mama adalah segalanya buat kita. Mama mau kan berjuang demi Diara?"


Ucap Diara sambil dengan nada memelas.


"Ya sudah, terserah kalian saja, Mama akan jalani pengobatan yang disarankan dokter, tapi kalian harus janji satu hal sama Mama..."


"Apa itu Ma?"


"Apapun yang terjadi nanti, kalian harus ikhlas menerima hasilnya dan tetap jalani hidup dengan sebaik-baiknya..."


"Ye...gitu dong Ma, Mama pasti sembuh dan nanti kita bakal jalan-jalan bareng..."


Mama tersenyum menyaksikan tingkah Diara yang bersorak seperti anak kecil.


"Dan satu lagi Diara..."


"Apalagi Ma?"


"Mama sudah tahu apa yang dilakukan Papamu. Dulu, Mama memang merasa sakit dan terluka. Tapi percayalah, sekarang Mama sudah baik-baik saja. Rasanya sudah tidak ada urusan dunia yang membebani Mama, Mama sudah merelakan semuanya, jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan Mama...Jangan menangisi Mama berlebihan, nanti muka kamu jadi jelek, nanti jadi susah lagi dapat jodoh!"

__ADS_1


Mama lalu tertawa. Mencoba menertawakan leluconnya sendiri.


Diara memaksakan diri untuk tersenyum meski hatinya terasa sesak.


__ADS_2