
Diara memilih masuk ke dalam dan membiarkan Jelita menikmati waktunya bersama tamu spesialnya.
Jelita memberanikan diri membuka pintu. Jelita hampir tak percaya dengan sosok yang berdiri di depannya. Rasanya benar-benar seperti mimpi.
"Assalamualaikum...", Farid kembali mengucapkan salam begitu Mawar membukakan pintu untuknya.
"Walaikum dalam Mas Farid, ayo masuk...maaf rumahku hanya sederhana begini..."
"Rumah kamu bagus kok, masih model kampung, tapi lumayan besar dan bersih...", puji Farid dengan jujur.
Jelita hanya tersenyum. Dalam hati merasa bersyukur karena orang-orang suruhannya benar-benar membersihkan rumahnya dengan baik.
"Tunggu sebentar Mas Farid, aku mau bikin minum dulu..."
Jelita segera masuk ke dalam. Tapi yang membuat minum dan camilan bukan dirinya, melainkan Diara. Jelita keluar membawa nampan berisi teh hangat dan pisang goreng cryspi.
"Makasih banyak Mawar, seharusnya kamu nggak perlu repot-repot..."
"Nggak repot kok Mas Farid, sudah semestinya kita menjamu tamu bukan? Ayo silahkan diminum Mas..."
Farid meneguk sedikit teh hangat yang terhidang di meja, lalu mengambil pisang goreng dan mulai menggigitnya.
"Aku nggak nyangka, Mas Farid beneran datang ke kampung halamanku..."
"Kenapa nggak nyangka, aku kan sudah bilang aku mau datang, jadi aku pasti tepatin janjiku kecuali kalau memang ada alasan yang tidak memungkinkan..."
__ADS_1
Sejenak suasana hening. Baik Jelita maupun Farid sejenak menyibukkan diri dengan mengunyah makanan. Sebenarnya Jelita ingin bertanya tentang maksud kedatangan Farid. Tapi Jelita takut dikira tidak sopan dan terlalu berharap.
"Jadi, apa kesibukan kamu di rumah selama ini?"
Farid membuka percakapan dengan basa-basi.
"Nggak sibuk Mas, paling cuma ngurusin kebon sama bersih-bersih aja..."
Farid mengangguk-angguk menanggapi jawaban Jelita.
"Apa kamu nggak mau balik ke ibu kota Mawar?"
"Belum tahu Mas Farid, aku masih bingung. Disana ataupun disini aku udah nggak punya keluarga lagi..."
"Apa aku nggak bisa jadi alasanmu buat kembali ke ibu kota?"
"Maksud Mas Farid apa?"
"Kamu tahu maksudku, aku punya perasaan lebih sama kamu...dan ternyata jarak dan waktu yang memisahkan kita tidak membuat perasaanku berubah...jadi aku pengen mencoba sekali lagi...Mawar apa kamu mau menikah denganku?"
Mendadak Farid berlutut sambil mengangsurkan sebuah kotak perhiasan berisi cincin yang cantik.
Jelita pun terpaku, tidak siap dengan perlakuan Farid yang terlalu manis dan di luar ekspektasinya.
"Mas Farid, apa ini tidak terlalu mendadak, kita bahkan baru saja bertemu setelah beberapa bulan tidak ada komunikasi sama sekali..."
__ADS_1
"Ya, ini memang mendadak..."
Farid lalu mulai bercerita tentang alasannya melamar Mawar dalam waktu yang cukup singkat. Farid bercerita tentang Ibunya yang sempat sakit sampai kemudian Ibunya punya permintaan agar dirinya segera menikah.
"Jadi alasan Mas Farid melamarku karena permintaan Ibu to?"
Tanya Mawar kemudian.
"Ya begitulah, sebenarnya aku belum punya rencana menikah dalam waktu dekat...tapi waktu Ibu minta aku buat segera menikah entah kenapa satu-satunya yang terpikir cuma kamu walaupun kita sudah lama tidak berjumpa..."
Akhirnya Jelita tahu alasan Farid tiba-tiba melamarnya.
"Sebenarnya Ibu mau ikut langsung kesini ketemu kamu, tapi ternyata Ibuku malah masuk angin. Kalau aku ngulur waktu, takutnya kamu bakal mikir aku cuma main-main dan ingkar janji, jadi akhirnya ku putusin buat tetap datang biarpun sendiri...", Jelas Farid kemudian.
"Nggak Papa Mas Farid, lagian kasihan Ibunya Mas Farid kalau jauh-jauh kesini..."
"Jadi gimana? Apa kamu menerima lamaranku?"
Jelita baru sadar kalau sejak tadi Farid masih mengulurkan tangannya yang memegang kotak perhiasan.
Jelita terlihat berfikir sebelum akhirnya menjawab.
"Tolong kasih aku waktu Mas Farid, ada sesuatu yang perlu aku jelasin sama Mas Farid sebelum aku kasih jawaban. Minggu depan, aku akan ke ibu kota buat ketemu sama Mas Farid, nanti aku kabari buat ketemuan di kantor..."
"Di kantor?"
__ADS_1
"Ya dikantor, Mas Farid masih kerja di GAYA Corp kan?"
"Iya, ok Mawar aku tunggu jawabannya segera..."