
Farid akhirnya memilih menepikan sepeda motornya di sebuah warung lesehan pinggir jalan yang kebetulan mereka lewati.
"Kenapa berhenti disini Mas?"
"Mau makanlah, masak mau ngopi?"
"Bukan begitu, kan katanya Ibunya Mas Farid udah siapin makanan kalau Mas Farid pulang, nanti mubadzir lagi?"
"Nggak papa, aku kan bisa makan dua kali. Kalau kamu pulang ke rumah sendirian udah capek. Pasti cuma bikin mie instan atau jangan-jangan malah nggak makan lagi, ya kan?"
"Harusnya Mas Farid nggak perlu repot-repot, aku bisa makan sendiri kok nanti..kan aku jadi tambah nggak enak..."
"Nggak repot sama sekali kok, dan kamu tenang aja...aku yang bayarin kok, anggap aja syukuran karena aku udah dapat kerjaan baru..."
"Makasih banyak Mas Farid..."
Mawar akhirnya pasrah dan memakan makanan yang dipesankan Farid sebagai makan malamnya.
"Kenapa sekarang malah diam? Tadi di kantor kamu pe de banget nyamperin aku di depan orang-orang?"
"Eh?"
Mawar terkejut ditanya begitu saat dia mulai menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Jujur, aku bingung sama sikap kamu...", jelas Farid akhirnya.
"Maaf, tadi aku udah lancang negur Mas Farid didepan teman-teman Mas Farid, Mas Farid marah sama aku?"
"Enggak, kenapa aku harus marah?"
"Tapi Mas Farid merasa terganggu kan? Karena aku datang disaat Mas Farid lagi asyik sama cewek-cewek itu?"
"Nggak kok, aku malah seneng karena kamu datang, aku jadi ada alasan buat pamit..."
"Emangnya Mas Farid nggak malu berteman sama aku?"
"Kenapa harus malu? Kita sama-sama manusia ciptaan Tuhan.."
Mawar kehabisan kata-kata dan memilih untuk melanjutkan makannya.
"Makan yang banyak, supaya kenyang dan pulangnya bisa langsung istirahat..."
"Ya Mas, Mas Farid sendiri kenapa cuma makan gorengan aja?"
"Kalau aku justru nggak boleh makan banyak-banyak diluar. Nanti makanan dirumah siapa yang mau habisin?"
"Enak ya Mas masih ada Ibu?", Mawar reflek bertanya.
"Ya enak, masih ada yang ngurusin. Kamu sendiri, gimana kabarnya orang tua dan keluarga kamu didesa?"
"Aku udah nggak punya orang tua Mas, sudah meninggal semuanya, saudara juga udah nggak ada..."
"Maaf, aku nggak bermaksud ngingetin kamu..."
"Nggak papa Mas, kan aku sendiri yang mulai tanya.."
"Ah iya ya...jadi selama ini kamu hidup sendiri donk? sudah berapa lama?"
__ADS_1
"Baru sekitar 2 tahunan ini Mas, Bapak, Ibu, lalu adikku meninggal dengan selang waktu yang tidak lama.."
"Yang kuat ya Mawar, percaya Allah nggak akan menguji hambanya di luar batas kesanggupan. Jadi selama ini kamu hidup sendiri?"
"Iya Mas, aku di jakarta hidup sendiri. Pulang ke kampung juga sudah nggak ada keluarga dekat. Makannya aku berniat menetap disini saja..."
"Kalau gitu harusnya kamu cepat menikah biar ada teman..."
"Belum ada yang mau Mas..."
Jawab Mawar malu-malu.
"Kalau ada yang mau, apa kamu siap?"
"Hah?"
Lagi-lagi Mawar terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan Farid. Mawar kemudian hanya bisa menunduk malu.
"Boleh aku jujur sama kamu?"
"Emangnya dari tadi Mas Farid bohongin aku?"
"Hahahaha..."
Akhirnya tawa Farid meledak, mencairkan kebekuan diantara mereka.
"Kenapa Mas, ada yang lucu?"
"Ada, kamu yang lucu!"
"Dimana lucunya Mas?"
"Hahaha, maksudku aku pengen bicara dari hati ke hati sama kamu, tentang hubungan kita!", Jelas Farid kemudian.
"Hubungan kita?"
"Iya hubungan kita,.."
Mendengar itu Mawar kembali disergap ketakutan yang aneh. Mawar kembali teringat bagaimana hubungan cintanya kandas dengan cara yang paling menyakitkan. Rasa cinta yang berubah jadi benci dan dendam, yang bahkan belum tuntas hingga sekarang. Rasanya Mawar belum siap jika harus memulai suatu hubungan. Terdengar amat berat, seperti ada beban yang akan menimpanya.
"Aku pikir setelah kamu nolak aku waktu itu, semua udah berakhir. Tapi ternyata aku salah. Karena perasaan nggak bisa kita atur semau kita..."
Ucapan Farid kembali menyadarkan Mawar. Dan semua terasa benar. Itu pula yang terjadi pada dirinya. Mawar tidak ingin jatuh cinta disaat traumanya masih jelas membayangi hidupnya. Tapi hatinya tidak bisa diajak berkompromi.
"Kalau boleh tahu, apa alasan kamu menolakku waktu itu?"
Selama ini Farid masih merasa tak terima dan merasa janggal dengan penolakan Mawar. Bukan karena dia merasa ganteng dan kepedean, tapi karena sedikit banyak Farid juga bisa merasa kalau Mawar juga ada rasa untuknya.
"Maaf kalau waktu itu aku mempermalukan Mas Farid di depan umum, aku nggak bermaksud seperti itu. Aku cuma kaget dan ternyata aku belum siap untuk menjalin hubungan dengan siapapun..."
"Bukan salah kamu, aku sendiri yang memilih menyatakan perasaan di depan umum. Kalau boleh tahu kenapa kamu belum siap menjalin hubungan?"
Mawar hanya diam dengan pandangan menerawang.
"Apa ada laki-laki lain di hati kamu?"
Mawar hanya menggeleng, lalu menyesap minumannya.
__ADS_1
"Lalu kenapa?"
"Maaf mas Farid, ada alasan yang nggak bisa aku jelasin..."
"Ya sudah nggak papa, aku nggak akan maksa..."
Farid lalu memakan gorengan di depannya sambil menyesap minumannya sedikit demi sedikit. Beberapa saat hanya hening. Dan mereka larut dalam kesibukan masing-masing. Menyantap makanan.
"Mawar..."
"Ya, Mas Farid?"
"Apa kamu ada perasaan sama aku?"
Lagi-lagi Mawar hanya diam.
"Nggak usah dijawab, aku udah tahu jawabannya, kamu pasti cemburu kan lihat aku dikerubutin cewek-cewek?"
"Idih Mas Farid pede banget!!", seloroh Mawar dengan mencibir.
"Hahaha..", Farid menertawakan reaksi Mawar yang menurutnya lucu itu.
"Mawar, kita sama-sama sudah dewasa, sama-sama mengerti perasaan satu sama lain meski tidak ada hubungan yang mengikat..."
Kata-kata Farid terhenti menggantung, membuat Mawar menegakkan kepalanya karena penasaran, lalu menatap mata Farid lekat-lekat.
Farid tersenyum membalas tatapan Mawar. Senyuman yang terasa sejuk dan menentramkan.
"Jadi, mari kita berteman dan menghabiskan waktu bersama seperti sebelumnya. Itu sudah cukup buatku, asal kamu tidak menghindariku...masalah jodoh...biarlah takdir yang menentukan....dan kapanpun kamu siap untuk berbagi cerita, saat itu aku akan siap untuk mendengarkan..."
"Makasih banyak Mas Farid, tapi Mas Farid jangan dekat-dekat sama cewek lain!"
Jawaban Mawar yang tidak terduga membuat Farid kembali tertawa.
"Hahaha, emangnya kamu mau apa kalau aku deket-deket sama cewek lain?"
"Mau aku teror ceweknya sampai nggak bisa tidur dan jauhin Mas Farid...."
"Hahaha, kamu tuh aneh, nggak mau ada ikatan tapi posesif!"
"Biarin!"
"Cemburu ya?"
"Nggak!"
Mawar membuang muka, menghindari tatapan Farid yang coba untuk menggodanya.
"Pulang yuk udah malam!"
Tanpa terasa malam telah beranjak larut.
Mawar mengangguk dan mengikuti langkah Farid.
Farid mengantarkan Mawar ke kontrakan kecilnya dan sepanjang perjalanan mereka terus mengobrol.
Dan begitulah hubungan mereka kemudian kembali akrab seperti sebelumnya. Tetap berteman meski tanpa ikatan. Dan baik Mawar maupun Farid sama-sama menikmati hal itu.
__ADS_1