Panggil Aku Mawar

Panggil Aku Mawar
Bab 36


__ADS_3

Satu tahap telah terlewati. Jelita sedikit merasa lega setelah memasukkan laporannya dan Gunawan sebagai tersangka utama juga telah ditahan. Tapi masih ada satu hal yang membuat Jelita merasa tidak puas.


"Maaf Nona, kami tidak bisa menemukan bukti keterlibatan saudara Arya dalam kasus hukum ini..."


"Bagaimana mungkin? Apa kalian sudah memeriksa semuanya? Ini jelas mustahil!"


Jelita berbicara dengan suara keras untuk melampiaskan kekesalannya.


"Sabar Je, kita harus bicarakan masalah ini dengan kepala dingin...", ujar Diara berusaha menenangkan bosnya.


"Ya Nona, kami yakin dari semua bukti itu tidak ada satupun yang mengarah pada saudara Arya...."


"Tapi, bukankah dari rekaman CCTV Arya pernah datang ke kantor, tepatnya ke ruangan Gunawan, setelah dia keluar dari perusahaan..."


"Ya benar, tapi tidak ada bukti pembicaraan atau bukti dokumen yang mengarah pada keterlibatan saudara Arya. Kalau boleh tahu, apa anda masih ada menyimpan bukti yang lain?"

__ADS_1


Sebenarnya ini sangat memalukan bagi Jelita. Dengan membongkar kebusukan Arya yang telah memanfaatkan dan mengkhianatinya sama saja artinya mengakui kebodohannya sendiri sebab pernah jauh hati pada lelaki itu. Tapi bagaimanapun juga Jelita harus membongkar fakta ini demi penyidikan lebih lanjut.


"Sebenarnya ini belum bisa dikaitkan dengan kasus Gunawan saat ini, seperti yang anda tahu, Gunawanlah yang mengenalkan saya pada Arya, hingga kemudian kami sempat menjalin hubungan. Dan ternyata sejak awal Arya hanya memanfaatkan saya dan punya rencana jahat terhadap saya. Selain itu dia juga mengkhianati saya dan memiliki kekasih lain saat kami masih menjalin hubungan. Saya punya banyak bukti mengenai hal itu, tapi ini sedikit memalukan..."


Jelita berjalan ke meja kerjanya lalu mulai membuka laptopnya. Jelita membuka satu demi satu video bukti perselingkuhan Arya tanpa suara. Diara mengikuti langkah Jelita dan ikut melihat apa yang dilihat Jelita.


"Je, lo yakin akan buka kasus ini ke orang lain?"


Tanya Diara dengan berbisik.


"Mereka pengacara Di, mereka pasti punya etika dan profesional, lagi pula gimana kita bisa menyelidiki lebih lanjut kalau ini nggak dibuka? Dan pastinya mereka lebih tahu apa yang harus dilakukan dengan semua bukti ini..."


Tanpa memperdulikan peringatan Diara, Jelita sudah membawa laptopnya ke meja di mana para tim pengacara duduk. Di meja kecil yang dikelilingi sofa empuk itu, Jelita akhirnya memperlihatkan kartu as yang selama ini hanya disimpannya sebagai dokumentasi pribadi.


"Dia pernah melakukan perselingkuhan dan saya sempat merekam semua...", Jelas Jelita sambil mengarahkan layar laptop yang menampilkan adegan mes*m.

__ADS_1


Para tim pengacara yang kesemuanya laki-laki mendadak buyar konsentrasinya disuguhi tontonan semacam itu.


"Maaf jika ini agak sedikit v*lgar atau bahkan sangat v*lgar...", ucap Jelita kemudian.


"Peringatan yang terlambat Nona...", jawab salah satu pengacara sambil menelan ludahnya.


Mereka terlihat sangat terkejut tapi juga sekaligus menikmati. Dan yang menjadikan hal ini sulit, mereka harus tetap menjaga profesionalisme dan wibawanya di depan klien, sementara hasr*tnya tiba-tiba memuncak.


Dan Jelita terlambat menyadari, bahwa ternyata keputusannya untuk membongkar skandal ini mempunyai efek samping bagi para pengacaranya yang semua lelaki.


Melihat reaksi mereka, membuat Jelita malu sendiri. Begitupun Diara yang memilih bersembunyi di balik meja kerja Jelita, agar tak menjadi fantasi liar lelaki yang baru saja disuguhi tontonan menarik.


"Baiklah Nona, kami akan meng-copy file nya dan mempelajarinya lebih lanjut, sepertinya cukup sekian hari ini, kami akan mengabari anda untuk selanjutnya..."


"Ya..ya..silahkan, saya tunggu kabar selanjutnya..."

__ADS_1


Ucap Jelita dengan menahan malu.


Dan begitulah, pertemuan hari itu berakhir.


__ADS_2