
"Gue pernah mergokin Papa jalan sama cewek muda..."
Diara terkejut mendengar cerita Tomi, tapi kemudian Diara ingat percakapan Papa via telepon yang di dengarnya tadi pagi. Mungkinkah...? Diara cepat-cepat mengusir pikiran buruk dalam benaknya.
"Sorry Di, mungkin gue aja yang salah lihat, udah-udah nggak usah dipikirin, sekarang kita fokus aja ngerawat Mama..."
"Ya kak, kita fokus aja ke Mama, yang lain-lain kita bahas lain kali..."
"Yups..."
Merekapun akhirnya sepakat.
"Oh ya Kak, aku mau pulang sebentar ya? Pengen mandi sama bawa baju-baju Mama sama aku dirumah..."
"Yaudah, pulang aja, biar aku yang jagain Mama disini...malam ini kamu tidur dirumah aja, besok pagi baru kesini lagi.."
"Ya Kak..."
Diara pun segera melangkah pulang ke rumah. Rumah yang rasanya mulai terasa asing, sebab belakangan Diara semakin jarang pulang ke rumah. Sekalipun pulang, Diara hanya akan menghabiskan beberapa jam di dalam kamar untuk tidur.
Diara memasuki kamarnya lalu mengambil beberapa potong bajunya dan dimasukkan ke dalam tas dengan asal. Setelah itu Diara masuk ke kamar orang tuanya, membuka lemari Ibu dan mengambil beberapa pakaiannya juga. Saat menarik pakaian Ibunya keluar, Diara menjatuhkan sesuatu.
Diara lalu mengambil dan memeriksanya. Ternyata itu adalah obat herbal untuk kanker. Hati Diara serasa tertampar. Diam-diam Mamanya menghadapi penyakitnya seorang diri tanpa pernah mengeluh. Sementara selama ini Diara hanya sibuk memikirkan urusannya sendiri. Merasa menjadi anak paling tertekan hanya karena tuntutan orang tua yang sebenarnya sangat wajar. Diara mengusap air matanya yang tanpa sadar telah meluncur. Diara menguatkan hatinya dan merapikan kembali barang-barang yang berjatuhan ke tempatnya.
Malam ini Papa tidak pulang ke rumah, entah kemana perginya Papa, sebab kata Kak Tomi, Papa juga tidak berada di rumah sakit.
Keesokan harinya, Diara segera mengemasi barang-barang yang akan di bawanya
Setelah semua siap, Diara memutuskan untuk mandi. Diara lalu merias wajahnya tipis-tipis agar terlihat cerah. Diara ingin saat bertemu Mamanya nanti, tidak ada sisa kesedihan yang terlihat di wajahnya. Setelah selesai, Diara lalu melangkah keluar rumah. Betapa terkejutnya Diara saat pintu rumah terlebih dulu dibuka dari luar. Dan setelah itu nampak wajah terkejut Papa nya yang sedang berdiri menggandeng tangan perempuan. Menyadari kehadiran Diara, Papanya buru-buru melepas gandengan tangannya.
"Ngapain kamu disini pagi-pagi? Nggak biasanya?"
Tanya Papa Diara dengan nada sinis.
"Diara ambil baju sama baju Mama. Mama udah sadar Pa, Papa nggak nengokin Mama di rumah sakit?"
"Kamu duluan saja, nanti Papa nyusul..."
"Siapa perempuan ini Pa?"
__ADS_1
"Ini teman kantor Papa, ada pekerjaan Papa yang ketinggalan jadi Papa balik ke rumah...sudah sana pergi, nanti Mama kamu kelamaan nungguin"
Meski merasa kesal dan tak puas dengan penjelasan Papanya, Diara memilih melanjutkan langkahnya untuk menuju ke rumah sakit.
Ternyata Mama sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Langkah Diara terhenti didepan pintu saat melihat Mamanya tidak sendirian. Dia dalam sana ada Kak Tomi, beserta istri dan anak-anaknya sedang menjenguk Mama. Wajah Mama nampak selalu tersenyum meski agak sedikit pucat. Nampaknya Mama sangat bahagia dengan kehadiran cucu-cucunya. Hati Diara menghangat dan Diara sangat bersyukur akan hal itu. Setidaknya meski dirinya belum bisa membahagiakan Mama, ada Kak Tomi dan keluarganya yang bisa membuat Mama bangga.
Entah apa yang dilakukan Papanya bersama wanita muda yang tadi pagi dilihatnya. Insting Diara mengatakan ada hubungan tak biasa diantara keduanya. Apapun itu, Diara tidak ingin merusak kebahagiaan Mamanya dengan hal itu. Mamanya tidak boleh tahu, cukuplah Mama berbahagia dengan anak dan cucunya.
"Diara, ayo masuk Mama nanyain kamu dari tadi..."
Sapa Kak Naya, istri Kak Tomi saat melihat Diara hanya berdiri di depan pintu.
"Ya Mbak..."
Diara lalu masuk, bergabung bersama keluarga kakaknya.
"Eh anak kesayangan Mama sudah datang..."
"Gimana, Mama udah baikan?"
"Eh, emang Mama sakit ya? Mama malah jadi seneng kalian semua jadi ngumpul nungguin Mama begini...", jawab Mama sambil bercanda.
Tidak berselang lama, Kak Tomi dan keluarganya pamit. Tinggalah Diara dan Mama berdua saja di dalam kamar perawatan itu.
"Diara, maafin Mama kalau selama ini selalu maksain kamu...sekarang Mama sadar semua yang terbaik akan punya waktunya sendiri...nikmatilah hidupmu, lakukan apapun yang kamu mau dan nanti kalau kamu sudah siap, buka hatimu untuk seseorang yang akan menjagamu selama sisa hidupmu. Dulu Mama punya keinginan untuk melihat kamu bahagia sebelum Mama dipanggil, tapi sekarang apapun yang akan terjadi Mama sudah ikhlas..."
"Ma..Mama pasti sembuh, Mama pasti panjang umur sampai nanti Diara nikah dan ngasih cucu buat Mama..."
"Iya sayang, mama juga maunya begitu, tapi apapun kehendak Tuhan kita harus ikhlas, dan satu lagi pesan Mama, apapun yang terjadi kamu harus jaga hubungan baik sama Papa kamu..."
Kenapa Mama bicara seperti itu. Mungkinkah Mama sudah tahu kalau Papa bermain api di belakangnya? Diara ingin memastikan, tapi bingung bagaimana caranya.
"Diara!"
Tiba-tiba sebuah suara mengagetkannya. Ternyata Kak Tomi sudah kembali setelah mengantarkan anak dan istrinya.
"Ya Kak? Kakak kesini lagi?"
"Iya, tadi cuma nganterin Naya sama anak-anak sampai lobby..."
__ADS_1
"Mama harus banyak istirahat, jangan ngobrol terus sama anak bandel ini.."
Seloroh Tomi sambil memukul ringan kepala Diara.
"Apaan sih!"
"Makan dulu yuk Di, biar Mama istirahat dulu..."
"Aku belum laper banget sih Kak.."
"Makanlah Di, Mama nggak papa kok ditinggal sendirian, kalian juga harus sehat-sehat biar bisa jagain Mama.."
"Yaudah Ma, kita tinggal dulu ya..."
Diara akhirnya menurut, mengikuti Tomi untuk pergi ke cafetaria. Tomi bukan sekedar ingin mengajak Diara makan, melainkan ada hal penting yang ingin dibicarakannya tanpa melibatkan Mama.
"Kita makan disini aja, ada yang mau aku omongin sekalian..."
"Ya Kak..."
Akhirnya mereka memesan dua mangkuk bakso dan dua air mineral lalu memilih duduk di salah satu sudut cafetaria.
"Ada apa Kak?"
"Kanker mama sudah masuk stadium empat. Dokter menyarankan terapy radiasi untuk meringankan sakit dan memperpanjang umur Mama, tapi Mama nggak mau, Mama malah bilang mau pulang aja..."
"Astaghfirullahaladzim..."
Diara tidak menyangka kalau penyakit Mamanya sudah separah ini.
"Kamu harus tetap tenang dan jangan tunjukin muka sedih di depan Mama. Menurut kamu gimana Di? Aku sebenarnya masih pengen Mama berjuang, tapi..."
"Biar aku yang coba bujuk Mama Kak, paling nggak kita harus mengusahakan yang terbaik kan?"
Tomi mengangguk setuju.
"Semoga aja Mama kuat.."
Mereka menyelesaikan acara makannya, lalu kembali ke ruangan Mama.
__ADS_1
Dan saat akan melangkah masuk, Diara dan Tomi melihat Papanya sedang duduk di samping Mama. Mama terlihat senang saat Papa menyuapinya makan. Sepintas pemandangan itu bagaikan pasangan senja yang masih romantis. Ah, andaikan saja...