Panggil Aku Mawar

Panggil Aku Mawar
Bab 62


__ADS_3

Diara merasakan kesedihan yang dalam saat melihat Bu Rusmini menghembuskan nafas terakhirnya. Hatinya terasa miris melihat wanita tua itu berjuang seorang diri hingga nafas terakhirnya. Perawat lalu membantu menutupkan kain selimut hingga menutupi wajah Bu Rusmini.


Innalillahi wa innaillaihi raji un.


Satu jiwa lagi telah berpulang. Masih terekam jelas dalam ingatan Diara bagaimana Mama menghembuskan nafas terakhirnya. Dan kini Diara harus kembali menyaksikan peristiwa serupa di depan matanya. Betapa, manusia sesungguhnya hanya menunggu giliran menghadapi kematian.


Diara menghapus air mata dan menguatkan hatinya. Bagaimanapun, hanya dirinya satu-satunya orang yang bertanggung jawab akan jenazah Bu Rusmini saat ini. Sejenak Diara berkonsultasi dengan para perawat tentang prosedur pengurusan dan pemulangan jenazah di rumah sakit tersebut. Akhirnya Diara memutuskan untuk menggunakan jasa pengurusan jenazah yang sudah bekerjasama dengan pihak rumah sakit. Tentu saja untuk itu Diara harus menambahkan sejumlah nominal. Tapi setidaknya semua akan diurus dengan baik, mulai dari memandikan, mengkhafani, sampai pemakaman. Hingga Diara tidak perlu khawatir lagi.


Diara akhirnya memutuskan untuk pergi ke rumah tempat tinggal Arya dan Ibunya untuk mengabarkan kematian Bu Rusmini kepada para tetangga. Pemakaman akan diadakan esok pagi. Diara akhirnya memilih pulang ke rumah terlebih dahulu malam itu.

__ADS_1


Begitu banyak hal yang terjadi hari ini dan semua di luar perkiraannya. Diara merasa amat lelah. Diara membersihkan diri dan memaksakan untuk makan sedikit. Sebelum kemudian Diara mulai memejamkan matanya. Dirinya harus beristirahat, sebab besok masih ada hari panjang yang menantinya.


Keesokan harinya, Diara kembali bangun pagi-pagi. Diara langsung bergegas pergi ke rumah sakit untuk memastikan pemulangan jenazah yang akan dilakukan pagi ini. Setelah itu Diara pergi ke rumah Arya. Ternyata disana para tetangga sudah berkumpul dan tenda-tenda sudah didirikan. Bu Rusmini dikenal sebagai pribadi yang baik dan ramah oleh para tetangga, sehingga kabar kematiannya mengundang simpatik dari para tetangga. Dan terutama karena Arya, anak semata wayang Bu Rusmini masih mendekam di penjara.


Diara berkoordinasi dengan pengurus RT setempat, memastikan semua keperluan untuk para pelayat dan peroses pemakaman telah siap.


Tidak lama berselang mobil ambulance datang membawa jenazah Ibu Rusmini. Para tetangga menyambutnya dengan penuh rasa haru. Tidak ada saudara, kerabat, ataupun keluarga. Sebab Bu Rusmini memang hanya tinggal bersama anak semata wayangnya di perantauan.


Diara mengambil semua foto di setiap prosesi. Mungkin nanti Diara bisa mengabarkan dan bercerita pada Arya. Entah bagaimana hancurnya hati Arya nanti jika mengetahui Ibunya meregang nyawa seorang diri.

__ADS_1


Dan entah mengapa Diara justru mengirim pesan pada Jelita untuk memberi tahu kabar duka ini. Dalam hati Diara bertanya-tanya, akankah Jelita merasa puas saat tahu bahwa apa yang diinginkannya telah tercapai?


Diara mengikuti semua prosesi pemakaman sampai selesai. Jenazah masuk ke dalam liang lahat dan tanah makam ditutupkan. Doa-doa dilantunkan para pelayat, mengiringi kepergian jenazah ke tempat peristirahatan terakhirnya. Akhirnya satu lagi perjalanan anak manusia telah berakhir. Apa yang berasal dari tanah telah kembali ke dalam tanah.


Diara menunggu hingga akhir, memastikan sendiri bahwa prosesi pemakaman sudah berjalan sebagaimana mestinya. Setidaknya dia telah menunaikan apa yang di amanahkan kepadanya. Satu persatu para pelayat meninggalkan area pemakaman, begitu pun dengan para petugas pemakaman.


Diara melangkahkah kakinya menjauh dari makam yang masih basah itu. Tiba-tiba seseorang menghampiri dan memeluknya dengan erat.


Diara memandang Jelita.

__ADS_1


"Apa yang jadi keinginan lo sudah tercapai, apa lo puas sekarang?"


__ADS_2