Panggil Aku Mawar

Panggil Aku Mawar
Bab 35


__ADS_3

Setelah di hubungi oleh Jelita, hari ini tim pengacara kembali datang ke kantornya.


"Jadi, apa kita sudah bisa mulai sekarang?"


"Ya, masukkan laporan sekarang!"


"Baik, dari hasil penyelidikan, dari perusahaan kompetitor Vivian ada sekitar dua oknum yang terlibat dan mereka hanya mencari keuntungan secara pribadi, sama sekali tidak ada hubungannya dengan perusahaan. Jadi ini hanya perkara tikus-tikus kecil, saya rasa semua akan aman terkendali..."


"Bagus kalau begitu, tapi ada satu target lagi yang kemungkinan terlibat. Namanya Arya Anggara. Setelah laporan masuk, kita juga akan menguliti orang itu..."


"Baiklah Nona, anda bisa tenang, kami akan mengurus semuanya..."


Setelah itu pengacara yang bernama Sunan itu keluar dari ruangan Jelita dan segera melaksanakan tugasnya.


Laporan dimasukkan beserta semua bukti pendukungnya.


Berselang tiga hari, Gunawan dipanggil sebagai saksi untuk dimintai keterangan mengenai kasus yang menjeratnya. Gunawan menjawab dengan jujur dan mengakui semua perbuatannya. Karena Gunawan sadar, mengelak pun akan percuma.


Dan akhirnya pada pemanggilan berikutnya Gunawan sudah ditetapkan sebagai tersangka.

__ADS_1


Gunawan memilih menyerahkan diri daripada harus ditangkap di depan keluarganya.


Saat berpamitan dengan istrinya adalah hal terberat yang harus dihadapi Gunawan. Gunawan baru tersadar bahwa dirinya telah melakukan sebuah kesalahan besar. Bukan perbuatannya yang dia sesali, tapi tangisan istrinyalah yang dia sayangkan. Andai saja waktu bisa kembali, mungkin dia harus menahan diri. Andai saat akan berbuat dia mengingat nasib keluarganya.


Tapi semua sudah terlambat. Kini Gunawan hanya bisa pasrah akan nasibnya.


"Kenapa Mas? Kenapa kamu bisa berbuat sejauh ini? Apa kamu tidak memikirkan kami?"


"Sudahlah, semua sudah terjadi, tolong ikhlaskan semuanya. Aku titip anak-anak. Aku percaya kamu kuat, jaga dirimu baik-baik..."


Gunawan akhirnya melangkah pergi dengan diiringi isak tangis sang istri. Entah bagaimana nanti istrinya menjelas pada anak-anaknya yang sudah beranjak remaja. Mereka pasti sudah tak bisa dibohongi, tapi Gunawan juga tak memiliki keberanian untuk berterus terang. Gunawan akan menerima jika nanti anak-anaknya akan membencinya. Atau bahkan jika mereka malu untuk mengakuinya sebagai Ayah. Gunawan hanya berharap anak-anaknya tidak akan mengikuti jejak kebodohannya. Itu saja sudah cukup baginya.


Kedatangan Gunawan disambut oleh polisi yang bertugas. Gunawan kembali harus menjalani proses interogasi sebelum nantinya akan dijebloskan ke penjara. Dalam proses interogasi kali ini Gunawan lebih banyak ditanyai tentang kemungkinan keterlibatan pihak lain. Gunawan menjawab semua pertanyaan dengan jujur dan apa adanya. Gunawan membeberkan dua orang oknum yang terlibat dari perusahaan kompetitor, yaitu Hendra dan Gery. Entah apa motif keduanya. Gunawan sendiri tidak tahu menahu. Yang Gunawan tahu mereka hanya melakukan kerjasama yang saling menguntungkan.


"Tidak ada..."


"Apakah anda yakin?"


"Ya..."

__ADS_1


"Bagaimana dengan Arya Anggara?"


"Dia sama sekali tidak terlibat..."


"Saya dengar dari pelapor anda yang mengenalkannya dengan Nona Jelita dengan sebuah tujuan tertentu..."


"Itu adalah masalah pribadi tidak ada sangkut pautnya dengan kasus hukum saya saat ini..."


"Apa anda yakin?"


"Yakin..."


"Apa hubungan anda dengan saudara Arya Anggara?"


"Dia adalah keponakan saya..."


"Apa tujuan anda mengenalkannya pada Nona Jelita?"


"Maaf, itu ranah pribadi..."

__ADS_1


"Baiklah, jika suatu hari kami menemukan keterlibatan saudara Arya salam kasus ini, hukuman anda bisa diperberat karena anda menolak untuk bekerjasama..."


Setelah sesi interogasi berakhir, Gunawan segera dijebloskan ke sel tahanan.


__ADS_2