
Mawar berjalan dengan terburu-buru menuju pantry. Hari ini dia datang terlambat dan merasa badannya kurang sehat. Tapi belum sampai kakinya menapak di pantry, seseorang sudah menyambutnya dengan wajah kesal yang menyeramkan.
"Heh, dari mana saja lo? Anak baru sudah berani-beraninya datang terlambat!" , Mona menatap Mawar dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan sinis.
"Maaf Mbak Mona, kemaren saja lembur sampai malam, paginya saya merasa agak pusing jadi saya terlambat datang ke kantor...", Jawab Mawar dengan jujur.
"Maaf..maaf! Enak banget lo bilang maaf! Lihat nih kerjaan kita seabreg-abreg begini hari ini, lo malah santai-santai datang telat! Gue nggak mau tahu, sekarang lo harus beresin semuanya. Cuci semua gelas yang ada di wastafel, lalu bersihkan ruang meeting sebelum jam 10! Nanti ruangan itu akan dipakai buat meeting, gue nggak mau lagi ya diomelin Bu Lastri atau karyawan lainnya, ngerti kamu?", omel Mona panjang lebar.
"Ya mbak, nanti saya kerjakan sebisanya...", ucap Mawar dengan pasrah.
"Jangan cuma sebisanya, kerjakan dengan sungguh-sungguh dan semaksimal mungkin, gue nggak mau kerajaan lo asal-asalan!"
"Ya mbak..."
"Ya udah, gue tinggal ngopi dulu, habis ini gue cek kerjaan lo, awas kalau ada yang nggak beres!"
"Ya mbak Mona yang galak!"
Mona menyeringai kesal, tapi segera berlalu karena tak ingin memperpanjang percakapan yang hanya akan membuatnya kesal. Anak baru ini benar-benar harus diberi pelajaran. Begitu pikirnya.
Sementara itu Mawar bisa menghembuskan nafas lega, begitu Mona meninggalkannya. Malang sekali nasibnya, sudah kemarin dikerjai Diara, sekarang dia masih dibully Mona. Mawar duduk sejenak untuk menormalkan nafasnya yang memburu. Ternyata tidak mudah menjadi office girl gadungan, meski dia sudah menjalaninya sesantai mungkin.
Tidak, Mawar tidak pernah menggapi secara serius perlakuan buruk Mona padanya. Bagi Mawar sikap Mona justru terlihat sangat kekanak-kanakan. Mawar malah merasa terhibur saat dirinya berdebat dengan Mona dan berhasil membuat Mona merasa kesal. Ada kepuasan tersendiri yang dirasakannya saat Mona merasa dongkol dan habis kesabaran saat menghadapinya. Baginya masalahnya sudah cukup rumit, tak perlu lagi di tambah memikirkan konflik receh yang tak penting.
Setelah merasa cukup beristirahat, Mawar lalu mengerjakan tugas yang diberikan Mona. Aktingnya tentu harus meyakinkan agar orang-orang disekelilingnya tidak curiga. Tapi baru sebentar mencuci gelas, kepalanya terasa pusing. Mawar lalu kembali duduk sambil memijat-mijat kepalanya. Entah datang dari mana, tiba-tiba Farid sudah berada disampingnya dan menepuk-nepuk pundaknya.
"Ada apa Mawar?"
"Eh Mas Farid, nggak papa kok, ini lagi istirahat sebentar habis nyuci gelas..."
"Muka kamu pucat sekali, kamu sakit?"
__ADS_1
"Enggak kok Mas Farid, cuma pusing sedikit, biasanya istirahat sebentar juga sembuh..."
"Yasudah, kamu istirahat dulu saja, tiduran di ruang samping, nanti saya buatkan teh hangat buat kamu..."
"Wah nggak bisa Mas, kerjaan saya banyak, nanti bisa nggak selesai kalau saya kebanyakan istirahat, nanti Mbak Mona bisa marah-marah Mas"
Sambil menyelam minum air. Tentu Mawar tidaklah sepolos itu. Dia bicara begitu untuk mendapatkan pembelaan dari Farid yang pasti akan membuat Mona semakin kebakaran jenggot.
"Jangan pikirkan kerjaan dulu kalau kamu sedang sakit. Kesehatanmu tetap yang utama. Nanti biar aku yang izinkan sama Bu Lastri kalau kamu sakit. Nggak perlu terlalu takut sama Mona, dia juga OG sama seperti kita..."
"Ya Mas, makasih banyak lo..."
Akhirnya Mawar bisa sedikit bersantai. Meski hanya beralaskan karpet tipis, paling tidak Mawar bisa merebahkan tubuhnya. Kemarin semalaman dia sibuk membahas kasus Gunawan bersama Diara. Meski masih mengenakan pakaian kebesaran OG, Diara nekat menyekapnya di ruangannya karena tak mau lembur sendirian.
Tidak lama berselang, Farid datang dengan membawa teh hangat, beberapa roti dan snack, juga obat sakit kepala.
"Terimakasih banyak Mas Farid, maaf jadi merepotkan..."
Mawar yang tadi pagi memang belum sempat sarapan, langsung melahap roti dan beberapa biskuit pemberian Farid. Segelas teh hangat juga langsung tandas dalam sesaat.
Tanpa sadar Farid tersenyum sambil memperhatikan Mawar. Pemberiannya sangatlah sederhana dan harganya tidak seberapa, tapi melihat Mawar sangat menikmatinya, hatinya menjadi hangat.
"Aku tinggal dulu ya, kamu istirahat dulu aja disini, nanti aku bantuin ngomong kalau mau minta izin Bu Lastri..."
"Ya mas, sekali lagi terimakasih banyak ya..."
Tapi kemudian baru beberapa saat Farid meninggalkannya sendiri, seseorang sudah menghampirinya dengan raut wajah yang siap menerkam.
"Mawar, gimana tugas yang gue kasih? Udah beres semuanya?", Mona bicara sambil menahan geram.
"Belum mbak, tapi kepala saya pusing, jadi saya istirahat dulu sebentar...", Jawab Mawar dengan ekspresi pura-pura lugu.
__ADS_1
"Alasan saja! Enak sekali baru kerja sebentar sudah santai-santai begini!"
"Tapi saya benar-benar pusing tadi mbak..."
"Saya nggak mau tahu, pokoknya sekarang juga lo harus beresin pekerjaan lo dan harus selesai tepat waktu, jangan santai-santai lagi karena nanti gue bakal dateng buat ngecek lagi, ngerti?"
"Ngerti mbak..."
Mawar hanya bisa pasrah dan sudah bersiap mengerjakan kembali tugasnya. Lagi pula pusingnya sudah hilang dan Mawar merasa jauh lebih baik. Tapi kemudian dari arah koridor Mawar bisa mendengar keributan.
"Jangan mentang-mentang senior kamu jadi bisa bertindak seenaknya nyuruh-nyuruh orang begini Mona!"
Itu jelas suara Farid, meski belum lama kenal Mawar sudah hafal diluar kepala.
"Saya cuma nyuruh dia mengerjakan tugasnya kok Mas, kenapa sih Mas Farid perhatian sekali dan selalu membela Mawar?"
"Tapi dia sedang sakit, sudah sepantasnya kalau dia diberikan keringanan untuk beristirahat sebentar..."
"Bukan salah saya, dia sendiri yang setuju untuk mengerjakannya!"
"Mona! Saya dengar sendiri kamu terus menyuruhnya mengerjakan ini dan itu, bahkan kamu sampai mengancamnya segala!"
Mendengar itu Mona hanya tertunduk dengan mata memerah menahan tangis. Sementara itu, tanpa disadari rekan-rekan mereka mulai berkerumun karena mendengar keributan ini. Dan bukannya melerai, mereka malah sengaja menonton dan kepo dengan perseteruan yang terjadi.
"Kalau kamu memang tidak sanggup mengerjakan tanggung jawabmu, biar aku yang mengerjakannya, tapi jangan bersikap semena-mena pada Mawar!"
Setelah mengucapkan itu, Farid segera pergi meninggalkan Mona.
Sedangkan Mona segera pergi ke kamar mandi dan pecahlah tangisnya disana. Harga dirinya benar-benar terluka, dirinya yang telah lebih dulu mengenal Farid harus rela dikalahkan orang baru seperti Mawar yang kampungan. Bahkan Farid rela memarahinya demi membela perempuan itu.
Sementara itu, di lingkungan para OG dan OB, bahkan sampai para pegawai di bagian lain, gosip dengan cepatnya tersebar. Gosip tentang cerita cinta segitiga antara Farid, Mawar, dan Mona yang hampir menyebabkan pertumpahan darah.
__ADS_1
Mawar tentu juga mendengar tentang gosip-gosip itu. Tapi Mawar memilih untuk bersikap sok lugu dengan berpura-pura tak tahu apa-apa dan menjalani pekerjaannya seperti biasa. Sejenak Mawar tertawa atas kemenangannya, tapi entah kenapa diam-diam Mawar justru merasa kasihan kepada Mona.