
"Diara! Lo ngapain disini?"
Diara menoleh, dan mendapati Jelita sedang berjalan ke arahnya.
"Hey Je, lo disini juga?"
"Iya, jadi lo ngapain disini?"
Ulang Jelita dengan pertanyaan yang sama.
"Oh, gue jenguk saudara jauh gue yang kebetulan lagi ditahan disini..."
Ucap Diara dengan terbata. Tentu saja Diara mengarang cerita, sebab entah bagaimana dia tidak ingin Jelita tahu bahwa dirinya ada disini untuk menjenguk Arya.
"Saudara jauh siapa?", Tanya Jelita lagi yang tampak tak puas.
"Adalah, lo nggak kenal! Udah ah gue mau cabut dulu Je!", Diara ingin segera pergi dari hadapan Jelita. Tapi saat tangannya sudah meraih pintu mobil, Jelita kembali memanggilnya.
__ADS_1
"Diara!!", teriak Jelita dengan kencang.
Terpaksa Diara urung masuk dan kembali menatap Jelita.
"Ada apa lagi sih Je sampai teriak begitu?"
"Lo bohongin gue! Gue tahu lo barusan ketemu Arya. Jadi sejak kapan Arya jadi saudara jauh lo?"
Tadinya Jelita datang bersama pengacaranya untuk bertemu Gunawan. Ada beberapa urusan pekerjaan yang ingin ditanyakannya. Tapi tanpa sengaja Jelita justru melihat Arya duduk bersama seorang perempuan yang dikenalnya. Jelita lalu terus mengamatinya hingga yakin bahwa perempuan yang sedang bersama Arya adalah Diara, sahabatnya.
Diara akhirnya memilih jujur, meski entah apa yang dipikirkan Jelita tentangnya.
"Oh, jadi gara-gara ini makannya selama ini lo selalu belain dia dan nggak pernah dukung gue? Sejauh mana hubungan lo sama dia dan sejak kapan? Bisa-bisanya lo malah berhubungan sama cowok brengs*k yang udah hancurin hidup gue!"
Jelita berbicara dengan nada penuh emosi.
"Je, ini semua nggak seperti yang lo pikirin..."
__ADS_1
"Lalu apa? apa yang mau lo jelasin setelah gue lihat semua dengan mata kepala gue sendiri?"
Diara menghembuskan nafas dengan putus asa.
"Je, di dunia ini bukan cuma lo satu-satunya orang yang punya masalah, dan nggak semua orang harus dukung lo sementara elo bahkan nggak perduli sama orang-orang di sekitar lo! Kita udah cukup lama saling kenal, tapi kalau cuma gara-gara lo mergokin gue sama Arya lo nggak bisa percaya lagi sama gue, its fine. Mulai sekarang ayo kita jalan masing-masing..."
Diara berjalan dan segera masuk ke dalam mobilnya, meninggalkan Jelita yang masih mematung mencerna kata-katanya. Semua yang dia lihat dan dia dengar begitu mendadak. Jelita benar-benar tidak mengerti dan merasa Diara menjadi sosok yang berbeda. Bukan lagi sahabat yang selalu berdiri disampingnya seperti selama ini.
Diara pulang ke rumah dan memilih untuk meringkuk di atas tempat tidurnya yang nyaman. Diara merasa sangat lelah hari ini. Sangat amat lelah. Diara butuh waktu untuk beristirahat sepenuhnya.
Keesokan harinya Diara masuk ke kantor seperti biasa. Diara menenggelamkan diri pada pekerjaan di layar komputer yang seakan tiada habisnya. Diara harus bekerja keras, menyelesaikan seluruh pekerjaan yang sudah menjadi tanggung jawabnya. Diara sudah mengambil sebuah keputusan besar. Diara ingin pergi dengan terhormat alias resign dari perusahan milik Jelita yang selama ini telah memberikan penghidupan sekaligus menjadi tempat pelarian yang nyaman baginya. Diara butuh waktu untuk menepi. Menata kembali jalan hidupnya yang selama ini hanya sekedar mengalir mengikuti arus.
Maka hari itu juga, setelah selesai menulis surat pengunduran diri, Diara memberanikan diri untuk masuk ke ruangan Jelita.
"Je, sebaiknya mulai sekarang lo cari orang buat pengganti gue..."
Diara bicara sambil mengangsurkan selembar surat pengunduran diri kepada Jelita.
__ADS_1