Panggil Aku Mawar

Panggil Aku Mawar
Bab 75


__ADS_3

Farid pulang ke rumah dengan langkah gontai. Kejutan yang di dapatnya hari ini benar-benar membuatnya merasa frustasi. Semua rencana yang telah disusunnya tiba-tiba menjadi kacau balau. Kemarin dirinya sudah berpamitan kepada Ibunya sekaligus meminta doa restu untuk melamar pujaan hatinya walaupun belum secara formal. Dengan tulus Ibunya mendoakan bahkan Ibunya terlihat sangat senang.


"Ibu pasti doakan le, semoga lamaran diterima dan kalian bisa segera menikah secepatnya..."


Ya, Ibunya sama sekali tidak mempermasalahkan saat Farid bercerita bahwa gadis yang disukainya hanyalah gadis kampung biasa yang dulu pernah menjadi rekannya sewaktu bekerja sebagai OB. Bagi Ibunya yang penting dirinya bisa bahagia dan harus bertanggung jawab atas pilihannya sendiri. Berbekal dukungan dan doa Ibunya lah Farid merasa yakin. Tapi sekarang, entah apa yang harus dikatakan kepada Ibunya nanti. Sebab mustahil bagi Farid melanjutkan rencananya untuk melamar Mawar secara resmi setelah tahu siapa sebenarnya pujaan hatinya itu.


Farid mengecek ponselnya dan melihat ada sepuluh misscall dari Mawar. Farid sudah tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya kepada gadis itu. Farid memilih mengabaikannya. Farid memilih untuk tidur, karena besok dirinya harus kembali bekerja seperti biasa.


Keesokan harinya, Farid kembali berangkat ke kantot seperti biasa. Tapi entah mengapa Farid merasa tidak begitu bersemangat. Sepertinya dirinya harus mulai melamar pekerjaan di perusahaan lain. Terus berada di GaYA.Corp hanya membuat Farid merasa tidak nyaman.


Di tengah menjalankan pekerjaannya tiba-tiba atasannya menghampirinya dan bilang kalau dirinya di panggil Ibu Jelita. Kali ini Farid benar-benar tidak ingin menemui Jelita. Farid memilih mengabaikan panggilan itu, tapi Farid tetap pergi keluar agar atasannya tidak curiga.


Farid melanjutkan pekerjaannya hingga saatnya pulang tiba. Entah mengapa, meninggalkan kantor membuatnya merasa sedikit lega. Farid langsung memacu sepeda motornya menuju rumah.


Langkahnya terhenti sesaat saat melihat di ruang tamu ada orang saling bercakap-cakap. Sepertinya Ibunya sedang ada tamu. Farid akhirnya memutuskan untuk tetap masuk sambil sedikit membungkuk.


Dan Farid terkejut begitu mendengar lebih jelas suara wanita yang sedang memgobrol dengan Ibunya. Dan saat Farid menegakkan kepalanya, pandangan mereka langsung bertemu. Dan hatinya berdetak lebih kencang. Mawar. Bisa-bisanya gadis itu berada di rumahnya?

__ADS_1


"Kok malah bengong? Kamu baru pulang Farid? Kok nggak bilang-bilang sih kalau pacar kamu mau datang?"


Farid hanya bisa menggaruk kepala dengan salah tingkah.


"Sana mandi dulu, lalu temani Mawar makan, Ibu sudah masak banyak tadi di bantuin Mawar..."


Farid ingin protes, tapi Ibunya langsung mendorongnya masuk ke dalam.


Jelita tertawa kecil melihat adegan Ibu dan anak itu.


Farid segera mandi dan kemudian bergabung dengan Mawar dan Ibunya yang sudah menunggunya di meja makan.


"Jadi kapan Ibu dan Farid boleh datang untuk melamar secara resmi?"


Farid sampai tersedak mendengar perkataan Ibunya, sementara Jelita juga salah tingkah tapi tetap mengulum senyum.


"Saya ikut saja, bagaimana baiknya menurut Ibu dan Mas Farid..."

__ADS_1


"Bagus...jadi kapan Farid kamu mau melamar Mawar?"


"Hm....nanti aku pikir-pikir dulu Bu...."


"Jangan kelamaan mikirnya, Ibu sudah nggak sabar pengen punya cucu!"


Perkeraan Ibu kembali membuat keduanya salah tingkah.


"Ya Bu..." Jawab Fadid akhirnya.


Mereka kembali fokus menghabiskan makanan. Setelah selesai Mawar sibuk membantu membereskan piring ke dapur.


"Farid kamu antarkan Mawar pulang kan? Kasihan anak gadis kalau pulang sendirian..."


"Ya Bu..."


Farid pun akhirnya mengantarkan Jelita pulang. Tapi dalam perjalanan Farid membelokkan sepeda motornya ke sebuah cafe.

__ADS_1


"Aku pengen ngobrol-ngobrol dulu sama kamu..."


Kali ini Jelita sudah pasrah. Usahanya sudah maksimal. Tapi jika Farid tidak mau menerima, Mawar akan mengikhlaskan.


__ADS_2