Panggil Aku Mawar

Panggil Aku Mawar
Bab 23


__ADS_3

Mawar masuk ke dalam ruangan Diara saat jam istirahat dan langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa empuk yang ada disana. Kejadian kemarin masih membuatnya shock dan tubuhnya terasa lelah.


"Jadi gimana ceritanya sampai lo bisa hampir kecopetan segala?", tanya Diara mulai mengintrogasi.


"Ya gitu deh Di, namanya juga desak-desakkan di halte, eh ternyata gue malah dipepet copet, nasib...nasib..."


"Hahaha, sukurin, siapa suruh aneh-aneh naik busway segala, kan ada Pak Bin...untung lo nggak kenapa-kenapa, btw gimana caranya lo bisa sampai lolos dari copet-copet itu?", cecar Diara kembali.


"Eh malah nyukurin gue lagi? Iya gue beruntung banget karena ketemu Mbak Mona yang ternyata jago bela diri dan mau nolongin gue..."


"Mona? Maksud lo Mona rival lo si OG yang kata lo sok-sok an dan ngeselin itu?"


"Iya Diara sayang...emangnya Mona yang mana lagi? Gue juga kaget awalnya, nggak nyangka dia jago bela diri dan mau susah-susah nolongin gue dan ternyata dia nggak seburuk yang gue pikirin selama ini....gue bahkan diajak mampir ke rumahnya dan diobatin luka gue disana...."


"Cie...cie ada yang punya sohib baru nih?"


"Hahaha, lo jangan cemburu ya Di, kapan-kapan kalau gue udah bongkar rahasia lo mesti gue kenalin sama dia dan kita pasti bakal nyambung kalau seru-seruan bertiga...", seloroh Jelita dengan yakin.


"Tapi yang gue nggak yakin, yang lo bilang kapan-kapan itu kapan Je? Sampai kapan lo mau jadi jongos di kantor punya lo sendiri? Bukti yang kita punya udah cukup buat nyeret Gunawan dan antek-anteknya ke penjara. Dan si Farid, OB ganteng kesayangan lo juga udah move on nggak jadi OB lagi! Jadi sekarang apa alasan lo masih betah jadi OG?"


"Sabar Di, sedikit lagi...gue masih belum yakin kalau Arya udah nggak terlibat, sedangkan tempo hari gue masih mergokin dia datang ke kantor ini buat ketemu Gunawan..."

__ADS_1


"Iya juga sih Je, gue juga penasaran sih sebenarnya. Kenapa kita nggak satupun nemuin bukti keterlibatan Arya lagi sampai sekarang. Tapi nggak mungkin juga kita nuduh tanpa bukti Je...."


"Kalau rekaman cctv dan penyadapan kita nggak bisa jadi barang bukti yang valid ya Di?"


"Ya nggak bisa dong Je, itu kan cuma rekaman percakapan aja dan nggak menunjukkan data valid apapun. Salah-salah malah kita yang dituntut balik karena melanggar privasi orang. Lagi pula kalau kita tuntut dengan pasal pembunuhan berencana juga nggak bisa orang lo jelas-jelas masih hidup begini..."


"Iya juga ya Di, tunggu sebentar lagi deh Di...gue masih pengen cari tahu lagi...."


"Ya udah asal jangan kelamaan aja, bisa-bisa perusahaan keburu bangkrut kalau lo nggak cepat ambil tindakan..."


"Ya Di..."


Jelita masih menyimpan rekaman percakapan Arya dengan Ayu, kekasih gelapnya. Disana jelas terdengar mereka sedang membicarakan rencana pembunuhan akan dirinya. Arya akan menikahinya secepatnya. Lalu setelah itu Arya akan mengajak Jelita pergi berbulan madu ke berbagai negara juga pelosok daerah di indonesia. Saat itulah pembunuhan atas diri Jelita akan di eksekusi dan disamarkan sebagai kasus kecelakaan. Tentu dengan rencana yang sangat matang dan para eksekutor yang berpengalaman. Arya tahu Jelita sudah tidak memiliki keluarga dekat. Dan sebagai suaminya kelak, tentu saja Aryalah yang nanti akan menguasai semuanya. Sebuah rencana yang sungguh indah sekaligus kejam. Indah bagi dua sedjoli yang gila harta. Dan kejam bagi Jelita tentu saja.


Namun sikap Jelita yang selalu mengulur-ngulur waktu pernikahan membuat Arya kesal dan hilang akal.


"Sebenarnya apa yang kamu inginkan, kenapa kamu terus mengulur waktu seakan hanya mempermainkanku saja?"


Mendengar pertanyaan konyol itu Jelita hanya berdecak dan tersenyum sinis. Jelita sudah tidak tahan lagi untuk melakukan sandiwara. Selama ini dia selalau menahan diri. Berpura-pura bodoh dan mengikuti permainan Arya. Tapi sepertinya sekaranglah waktu yang tepat untuk membongkar semuanya.


"Seharusnya aku yang bertanya bajing*n, sebenarnya apa yang kau inginkan dariku?"

__ADS_1


Sejak memergoki Arya berselingkuh diam-diam Jelita memata-matai semua gerak-gerik Arya. Seluruh sudut di apartement Arya telah dipasang kamera tersembunyi. Dan ponsel Arya dan Ayu juga telah disadap. Ditambah mata-mata yang selalu mengikuti mereka ke manapun juga. Jelita memastikan akan menelanjangi Arya dan Ayu sampai kekulit-kulitnya. Mencari tahu semua rencana busuk mereka lalu membalasnya berlipat-lipat.


Jelita telah berhasil memutar balikkan permainan. Dia kuasai Arya yang gila harta itu dan dia jadikan budak cinta yang rela mengkutinya kemana-kemana. Meskipun Arya hanya melakukannya demi mengincar hartanya semata, tapi Jelita tak perduli. Melihat hal itu tentu Ayu, si wanita murahan akan kepanasan. Posisi Ayu tak lebih hanyalah wanita pemu*s n*fsu yang akan segera ditinggalkan Arya saat Jelita memanggilnya.


Disisi lain Jelita juga ingin membuat Arya merasakan sakit hati dan kekecewaan yang dia rasakan. Dikirimkannya lelaki penggoda untuk Ayu yang sedang kesepian. Dan ternyara dasar perempuan murah, Ayu mudah sekali masuk ke dalam perangkap. Tidak butuh lama untuk membuat Ayu tergoda akan pesona lelaki bayarannya. Dari sanalah Jelita mengambil celah untuk mengadu domba pasangan sedjoli serakah itu hingga hubungan dan rencana mereka hancur berantakan.


Ayu merasa sangat kecewa dan sakit hati saat berkali-kali Arya meninggalkannya begitu saja usai mereka bercint*. Apalagi Arya meninggalkannya karena panggilan Jelita yang jelas-jelas karena urusan sepele. Ayu perlahan-lahan kehilangan rasa percaya karena cemburu. Hingga pertengkaran demi pertengkaran pun terjadi diantara mereka.


Hubungan keduanya mulai renggang dan Ayu kerap merasa kesepian. Saat itulah Roger, si pria bayaran datang menggoda. Roger mendekati Ayu dengan intens dan memberikan semua perhatian dan hal-hal manis yang tidak didapatkan Ayu dari Arya lagi. Perlahan Ayu merasa nyaman dan takhluk. Meski hubungan mereka juga dilakukan diam-diam. Saat itulah Jelita menyusun skenario agar perselingkuhan Ayu dan Roger tertangkap basah oleh Arya dan pecahlah perang dunia.


Tentu Arya dan Ayu bertengkar hebat, saling menyalahkan dan sama-sama mencari alasan pembenaran akan sikapnya. Sampai kemudian terucap kata putus dari keduanya.


Mission complete.


Jelita tertawa puas di balik layar. Ternyata memang begitu mudahnya menjebak orang-orang yang sedang dikuasai nafsu. Mereka akan dengan cepat memakan umpan seperti ikan yang kelaparan. Permainan telah berakhir. Jelita sudah bosan memainkan sandiwara. Jadi inilah waktu yang tepat untuk membongkar semua kebusukkan-kebusukannya. Dia akan menendang Arya sejauh-jauhnya. Tapi tentu, pembalasan yang sebenarnya harus direncanakan dengan lebih matang.


"Jelita sayang, apa maksudmu? Dan kenapa kamu memanggilku dengan sekasar itu sayang?"


Oh, ternyata Arya masih bertahan memainkan sandiwara.


Sekali lagi Jelita melempar senyum. Pernikahan? itu hanya mimpi di siang bolong. Jelita tentu tak sudi menikah dengan pria licik seperti Arya.

__ADS_1


__ADS_2