Panggil Aku Mawar

Panggil Aku Mawar
Bab 55


__ADS_3

Arya akhirnya memilih pulang ke rumah sakit, tempat dimana 'rumah' nya berada, sang Ibunda tercinta. Arya ingin mengatakan banyak hal. Tapi kata-kata tertahan di ujung lidahnya. Dia tidak sampai hati, untuk menyakiti dan mengecewakan Ibunya. Dan lagi pula, Ibunya sedang tertidur pulas.


"Ibu, maafkan aku...",


Lirih Arya berucap, sebelum akhirnya memilih keluar dari kamar perawatan dan pergi ke rooftop. Disana Arya berteriak sekencang-kencangnya. Melampiaskan semua kekesalan yang memenuhi dadanya. Berbagai pertanyaan memenuhi benaknya. Bagaimana video itu tersebar dan siapa yang menyebarkannya? Kenapa harus begini? Kenapa harus sekarang? Firasatnya mengatakan, kalau dirinya akan kalah. Arya merasa ada sebuah skenario yang sedang di rancang untuk menjebaknya. Ya dirinya memang memikiki dosa besar dimasa lalu. Menyakiti banyak hati yang berharap pada dirinya. Arya sadar dirinya memang pantas mendapatkan balasan yang setimpal. Tapi, kenapa harus saat ini, disaat Ibunya sakit dan dia benar-benar harus ada disamping Ibunya. Arya benar-benar merasa cobaan ini berat.


Arya menikmati angin sore yang berhembus menerpa wajahnya sambil memandang semburat jingga yang mulai menghiasi langitnya. Arya menguatkan hatinya dan mencoba berdamai dengan kenyataan. Bagaimanapun juga, apa yang terjadi harus tetap dia hadapi.


Matahari perlahan tenggelam, haripun beranjak gelap. Arya kembali turun ke ruang perawatan sang Ibu. Arya mengecup lembut kening Ibunya dan ternyata hal itu membuat sang Ibu terbangun.


"Kamu sudah datang le?"


"Ya Bu..."


"Kamu pasti capek, maaf Ibu jadi ngrepotin kamu begini..."


Arya menggeleng.


"Ini nggak seberapa dibanding kerepotan Ibu membesarkanku, iya kan?"


Ibunya hanya tersenyum.


"Bu, bagaimana kalau nanti nggak bisa datang kesini jagain Ibu lagi?"

__ADS_1


"Memangnya kamu mau pergi kemana lagi to le?"


"Mungkin aku akan ambil kerjaan di luar kota Bu..."


"Kenapa harus sampai ke luar kota segala le? Kenapa nggak disini saja biar bisa dekat sama Ibu?"


Arya terdiam. Tidak tahu bagaimana harus menjelaskan perkara ini. Ibunya sudah lama tidak menyiarkan siaran televisi dan Arya tidak ingin Ibunya tahu tentang kasus yang tengah menimpanya.


"Ya sudah le, tidak apa-apa, pergilah kemanapun yang kamu mau, kejarlah impiam-impianmu dan berbahagialah...insyaAllah Ibu akan kuat dan akan selalu mendoakanmu..."


Mendengar itu entah mengapa Arya jadi terharu sampai menangis. Arya memeluk tubuh Ibunya yang terasa semakin ringkih, lalu meraih tangan Ibunya dan menciumnya dalam-dalam.


"Maafkan Arya Bu...maafkan Arya..."


"Sudah-sudah le...nggak papa..."


Tidak seperti biasanya, percakapan mereka kali ini benar-benar mengharukan. Tanpa keduanya sadari ini akan menjadi pertemuan yang terakhir bagi mereka.


"Arya pulang sebentar ya Bu, mau ambil baju-baju sama makan dulu..."


"Ya le, kamu sekalian istirahat saja dulu dirumah, Ibu nggak papa kok..."


"Ya Bu..."

__ADS_1


Arya melangkah pergi meninggalkan ruang perawatan Ibunya. Dan entah mengapa instingnya mengatakan untuk melakukan sesuatu. Arya berjalan ke meja perawatan dan bicara pada perawat yang sedang berjaga.


"Mbak, saya minta tolong titip jaga Ibu saya yang ada di ruang 4B..."


"Baik Mas..."


Jawab perawat itu sambil tersenyum. Arya lalu mengangsurkan sebuah amplop yang cukup tebal. Perawat itu terkejut dan mengangsurkan kembali amplop itu.


"Tidak perlu Mas, itu sudah jadi tugas kami..."


"Tidak apa, tolong diterima, kemungkinan saya tidak bisa datang menjenguk Ibu dalam waktu yang lama...Tolong jaga dan rawat Ibu saya dengan baik..."


"Baiklah, saya akan usahakan sebaik-baiknya..."


Dengan begitu, Arya akhirnya bisa pergi dengan tenang.


Arya sampai di rumah sederhana yang biasa dia tinggali bersama Ibunya. Apartemennya sudah dia jual dan sebagian uangnya sudah habis untuk biaya berobat sang Ibu.


Arya masuk ke dalam rumah, membuat mie instan lalu menyantapnya dengan nikmat. Setelah itu Arya merebahkan tubuhnya sejenak di tempat tidur.


Dan kemudian pintu rumahnya diketuk dari luar dengan keras.


"Selamat malam, kami dari kepolisian diberi tugas untuk melakukan penangkapan terhadap saudara Arya..."

__ADS_1


Akhirnya yang ditakutkannya terjadi juga. Sudah dua kali Arya diperiksa sebagai saksi dan kini statusnya sudah naik menjadi tersangka


__ADS_2