
Akhirnya hari yang di tunggu-tunggu pun tiba. Hari itu adalah hari pernikahan antara Mawar Jelita Rosadi dan Muhammad Farid.
Acara akad nikah dilaksanakan di sebuah masjid tidak jauh dari rumah mempelai pria. Karena Ayah Jelita sudah meninggal dan tidak ada saudara yang menyanggupi untuk menggantikan sebagai wali nikah, maka pernikahan itu akhirnya dilaksanakan dengan wali hakim. Suasana haru pun semakin terasa saat kalimat ijab dan qobul dilafalkan.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau, Muhammad Farid bin Sulaeman dengan ananda Mawar Jelita Rosadi binti Muhammad Yusuf dengan mas kawin logam mulia seberat dua puluh lima gram di bayar tunai..."
"Saya terima nikah dan kawinnya, Mawar Jelita Rosadi dengan mas kawin tersebut di bayar tunai...."
"Bagaimana para hadirin, sah?"
"Sah...sah...sah..."
__ADS_1
Bersamaan dengan itu air mata meluncur deras di wajah Jelita. Pernikahan ini adalah impiannya, menikah dengan seorang pria yang mencintainya dengan tulus tanpa memandang harta dan kedudukannya. Tapi disisi lain Jelita merasa sedih, dirinya harus menikah tanpa kehadiran orang tua dan keluarga yang sangat menantikan momen ini. Begitu pula dengan Farid. Begitu selesai mengucap ijab qabul, air mata Farid langsung meluncur mengingat Ayahnya yang telah tiada. Tapi Farid bersyukur Ibunya masih sempat menyaksikam dirinya menikahi wanita pilihannya. Dan para tamu yang hadir pun turut merasakan keharuan hingga tidak sedikit yang ikut meneteskan air mata. Suasana akad nikah itupun berubah menjadi haru biru. Namun begitu hal itu justru menambah kesan sakralnya pernikahan dalam kesederhanaan.
Selesai akad nikah, mereka mengambil foto bersama kekuarga terdekat. Saudara dan tetangga Jelita dari kampung halamannya juga turut hadir meski jumlahnya tidak banyak.
Setelah itu acara di lanjutkan dengan resepsi yang di gelar di depan rumah Farid dengan memasang tenda.
Jelita terlihat sangat cantik dengan gaun berwarna ungu muda dan Farid pun tampak tampan dengan warna pakaian senada.
Berbeda dari acara akad nikah yang haru, acara resepsi pernikahan Jelita terlihat meriah dan semua orang nampak turut berbahagia.
"Ya ampun Mawar, gue beneran nggak nyangka kalau lo itu sebenarnya konglomerat. Habisnya akting lu bagus banget si..kayaknya selain sebagai designer sama pengusaha, lo juga cucok deh kakau jadi artis..."
__ADS_1
Mona bicara panjang lebar saat bersalaman dengan Jelita. Celotehan Mona itu tak ayal memancing tawa semua orang yang mendengarnya.
Dan dialah Diara, sahabat sekaligus orang yang paling berjasa dalam perjalanan hidup dan cinta Jelita.
"Selamat ya Je, semoga lo bahagia selalu sama pangeran pilihan lo..."
"Makasih banyak Di, gua nggak tahu gimana hidup gue tanpa lo, semoga lo juga cepat ketemu jodoh ya Di...."
Cukup lama mereka saling berpelukan sampai akhirnya Diara berpindah menyalami Farid.
"Selamat ya bro, ingat jaga sahabat gue baik-baik dan jangan bikin dia nangis!"
__ADS_1
Farid pun mengangguk yakin.
Meski acara resepsi itu hanya sederhana, tapi tamu yang datang lumayan banyak hingga Jelita dan Farid merasa lelah. Tapi mereka berdua sangat lega dan bahagia. Bahwa akhirnya mereka sampai juga di tahap ini setelah melewati perjuangan yang panjang. Ini baru permulaan Dan entah apalagi cobaan yang harus mereka lalui di depan nanti.