
Farid memilih tempat duduk yang agak tersembunyi untuk mereka berdua, lalu mempersilahkan Mawar memesan minuman.
"Mau pesan apa Mawar?"
"Terserah Mas Farid aja..."
Akhirnya Farid memilih memesan dua jus alpukat dan kentang goreng, karena tadi mereka sudah makan di rumah. Farid masih bersikap baik dan sopan. Tapi Jelita bisa merasakan bahwa perlakuan Farid sangat berbeda. Biasanya Farid selalu bersikap akrab dan hangat, tapi sekaramg ada kesan dingin yang membuat hati Jelita terluka.
Mereka sama-sama saling diam sampai akhirnya pesanan mereka datang.
"Ayo diminum dulu, maaf aku cuma sanggup ngajak kamu ketempat seperti ini..."
__ADS_1
Terdengar nada sindiran dalam perkataan itu yang membuat Jelita jadi tidak nyaman.
"Memangnya kenapa dengan tempat seperti ini? Bukannya biasanya kita malah makan di pinggir jalan?"
Balas Jelita dengan berani.
"Sebenarnya apa maksud kamu dengan semua ini? Jujur saja aku jadi bingung harus bersikap bagaimana. Kamu adalah direktur sekaligus pemilik perusahaan yang seharusnya aku hormati, tapi aku justru terlanjur terbiasa menganggapmu sebagai Mawar..."
"Tapi, apa kamu masih mau sama aku? Aku hanya orang biasa yang nggak punya apa-apa di bandingkan kamu yang punya segalanya? Gimana nanti kalau orang-orang pikir aku hanya numpang hidup dan manfaatin kamu saja?"
"Lalu kenapa sebelumnya Mas Farid tertarik sama Mawar, perempuan kampung yang norak dan nggak berpendidikan? Lagi pula kenapa harus perduli perkataan orang?"
__ADS_1
"Nggak ada alasan, rasa tertarikku sama kamu sebagai Mawar muncul begitu saja tanpa perduli sama latar belakangmu dan apapun kata orang tentang kamu..."
"Begitu juga dengan aku Mas Farid aku memang suka dan akan menerima seperti apapun keadaanmu dan kita tidak perlu mendengarkan apa kata orang..."
"Jadi, Jelita, ibu direktur yang terhormat, apa kamu benar-benar masih mau jadi istriku yang hanya orang biasa?"
"Tolong panggil aku Mawar saja...namaku Mawar Kurniasih, nama yamg diberikan kedua orang tuaku yang sudah meninggal. Nama Mawar mengingatkan aku akan kehidupanku yang sederhana dan bahagia bersama keluargaku dulu, sedangkan Jelita adalah nama yang aku pakai untuk mencari hoki dan popularitas, dan ternyata itu semuanya semu...dan tentu saja Mas Farid, aku akan menerimamu kalau kamu juga tidak keberatan menerimaku..."
"Makasih Mawar, tapi aku punya satu persyaratan sebelum kita ke jenjang pernikahan. Aku ingin selama kita menikah aku yang akan bertanggung jawab menafkahimu dan anak-anak kita dengan hasil keringatku. Apa kamu sanggup hidup sederhana dengan mengandalkanku?"
"Tentu saja Mas Farid, justru itu yang aku inginkan, hidup bahagia dalam kesederhanaan..."
__ADS_1
Akhirnya malam itu, mereka berbicara dari hati ke hati, saling terbuka mengungkapkan segala kekhawatiran yang terpendam dan saling menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dan pada akhirnya mereka sepakat untuk mewujudkan mimpi indah itu bersama. Menikah dan membangun rumah tangga impian.