
Diara senang karena akhirnya Mama setuju untuk melakukan terapi radiasi sesuai dengan saran dokter. Selain itu seiring hari kondisi Mama semakin membaik. Dan hari itu bertepatan dengan ulang tahun Mama yang ke lima puluh tiga, semua anggota keluarga berkumpul untuk menantikan kepulangan Mama. Ya, Mama punya keinginan untuk pulang ke rumah terlebih dahulu beberapa hari sebelum nanti ke rumah sakit lagi untuk pengobatan selanjutnya.
Diara dan Tomi berada di rumah sakit untuk mengurus kepulangan dan menjemput Mama. Sedangkan Papa berada di rumah bersama Tedy dan Tiara, dua anak Kak Tomi, juga Mbak Naya yang sedang sibuk menyiapkan hidangan dan kue ulang tahun untuk menyambut Mama nanti.
Begitu Mama sampai dirumah dan membuka pintu, Tiara dan Tedy langsung menyanyikan lagu selamat ulang tahun sambil membawa kue berhiaskan lilin-lilin kecil yang siap untuk ditiup.
Mama yang sedang duduk di atas kursi roda dengan di dorong Tomi, nampak terharu dengan sambutan yang diberikan cucu-nya.
"Kalian ini, Mama sudah tua begini, ngapain ulang tahun aja pake dirayain segala? Kalian jadi repot kan?"
Mama pura-pura mengomel, tapi dalam hatinya senang dengan kehangatan sambutan yang diterimanya.
"Tiup lilinnya dong nek!"
Protes Tiara tanpa memperdulikan omelan neneknya.
Mama pun akhirnya menurut meniup lilin.
"Terimakasih banyak ya sayang..."
__ADS_1
Ucap Mama, lalu bergantian mencium kening cucu-cucu nya.
Mama memberikan potongan pertama kuenya untuk Papa. Papa menerimanya dan balas menyuapi Mama. Mereka saling melempar senyuman dan terlihat mesra. Tapi melihat pemandangan itu Tomi malah memilih membuang muka. Diara menyadari perang dingin sedang terjadi antara Papa dan Kakaknya itu. Tapi Diara tak mau ambil perduli. Hari yang indah ini terlalu berharga untuk dirusak dengan masalah yang tak penting.
Acara hari itu dilanjutkan dengan makan bersama di meja makan besar di rumah Papa dan Mama. Sebuah momen yang cukup langka, sebab sudah lama sekali mereka tidak makan di meja makan dengan formasi lengkap begini.
"Terimakasih banyak anak-anak Mama, terimakasih sudah berkumpul dan berada di samping Mama saat Mama harus melewati saat-saat yang berat. Selalu ada hikmah di balik musibah. Dan memiliki kalian di sisi Mama adalah kebahagian yang tak terkira bagi Mama..."
Makan siang hari itu terasa begitu hangat, namun entah mengapa ada perasaan sedih yang menelusup di hati Diara. Semua orang nampak menikmati hidangan di meja makan. Ada nasi kuning lengkap dengan lauk pauknya yang dipesan Naya dari catering yang cukup terkenal. Setelah semua selesai menyantap makan siang, terdengar suara adzan dhuhur berkumandang.
"Sudah adzan, gimana kalau kita shalat berjamaah dulu?"
Setelah shalat selesai, merekapun melanjutkan dengan berdoa masing-masing. Namun tiba-tiba, dalam suasana yang khusyuk itu, Mama jatuh tersungkur di atas sajadahnya.
"Mama..."
Diara mendekati Mama, dan melihat wajah Mamanya berkeringat. Mama susah payah mengatur nafasnya sambil memegangi dada.
Diara membaringkan Mama di atas sajadah.
__ADS_1
"Gimana ini Kak?"
"Kita bawa Mama ke rumah sakit!"
Tapi saat Diara akan beranjak, tangan Mama yang lemah menahannya.
"Jangan kemana-mana, tolong temani Mama sebentar saja...", kata Mama dengan terbata.
Tomi akhirnya memutuskan menelpon ambulance tanpa meninggalkan Mama.
Nafas Mama terlihat makin tersengal. Papa mendekat dan menggenggam tangan Mama.
"Maafkan aku...Maafkan aku Diana..."
Samar-samar Mama mengangguk.
Papa lalu membimbing Mama mengucap dua kalimat syahadat, sebelum akhirnya Mama menghembuskan nafas terakhirnya.
Innalillahi Wa Innailahi raji un.
__ADS_1
Akhirnya Mama meninggal dunia dengan tenang, di rumah, dengan ditemani keluarga, seperti keinginannya.