Panggil Aku Mawar

Panggil Aku Mawar
Bab 24


__ADS_3

"Pernikahan apa? Sudahlah, akhiri saja semua drama licikmu ini! Aku sudah muak, tak perlu bersandiwara lagi, aku sudah tahu semuanya..."


"Apa maksudmu sayang, aku benar-benar tidak mengerti?"


Arya masih saja berpura-pura bodoh.


Jelita mengeluarkan ponselnya. Lalu mencari sebuah file dan memperdengarkan sebuah rekaman percakapan dengan loudspeaker. Percakapan tentang rencana pembunuhan yang akan dilancarkannya pada Jelita, kekasihnya.


Arya tampak kaget, wajahnya pucat dan tangannya gemetar.


"Aku sudah tahu semuanya, jadi tidak perlu pura-pura bodoh lagi!"


Arya limbung dan jatuh berlutut di hadapan Jelita.


"Maafkan aku....maafkan aku...", begitu katanya dengan terbata.


"Dasar pecundang! Tidak cukup kata maaf, kau harus membayarnya!"


"Tunggu, aku bisa menjelaskan semuanya, ini tidak seperti yang kamu pikirkan Jelita..."


"Oh ya?", tanya Jelita sambil mengerutkan keningnya.


Sudah tertangkap masih saja mau mengelak. Tapi baiklah, mari kita dengarkan bersama omong kosong buaya ini.


Jelita diam sambil menatap Arya, menunggu penjelasan selanjutnya.


"Ku akui aku salah, aku telah sangat jahat merencanakan ini padamu, tapi ditengah perjalanan aku sudah berubah pikiran. Tepatnya ketika aku dan Ayu mulai cekcok dan aku menyadari kalau kamulah orang yang selalu ada untukku. Aku sungguh minta maaf Jelita, tapi percayalah aku sudah menyesal dan membatalkan rencana ini jauh-jauh hari..."


"Aku tidak perlu omong kosongmu. Itu tidak ada gunanya buatku. Sekarang, ikuti perintahku kalau kamu masih ingin selamat!"


"Berikan semua informasi tentang rencana licik Gunawan, keluarlah dari permainan dan pergilah sejauh mungkin, selama kau tidak mengusikku, aku janji tidak akan mengusikmu!"


"Baiklah, jika hanya itu yang kamu inginkan, aku akan melakukannya....sekali lagi...aku sungguh-sungguh minta maaf..."


"Minta maaflah pada Ibumu, mungkin dia menyesal telah melahirkan penjahat sepertimu..."

__ADS_1


Jelita berlalu meninggalkan Arya yang masih mematung menatapnya dengan perasaan bersalah yang dalam.


Jelita telah mengutus beberapa orangnya untuk 'mengurus' Arya. Memastikan Arya memberikan informasi yang diperlukan, lalu membuangnya ke pengasingan dan tetap mengawasinya sampai waktu yang belum ditentukan.


*****


Farid sedang berkonsentrasi penuh untuk memulai rutinitas barunya. Dan kali ini dua sekaligus. Kuliah dan bekerja part time. Lama tidak menggeluti dunianya membuatnya sedikit oleng. Biasanya sehari-hari dia hanya bergelut dengan gagang pel dan cangkir-cangkir kopi, kini dia harus kembali memeras otaknya di depan layar komputer, berhadapan kembali dengan coding dan berbagai bahasa pemograman yang ternyata cukup memusingkan.


"Welcome to the club bro, dari awal gue udah curiga kalau lo pasti bukan OB biasa, tapi nggak nyangka juga gue kalau lo bakal jadi rekan sejawat, yah biarpun posisi lo masih pegawai magang sih...", sapa Roni, salah satu pegawai di divisi IT yang dipercaya untuk membimbing Farid.


Roni sendiri sudah mengenal Farid sejak Farid masih menjadi OB dan merasa cocok dengan pembawaan Farid yang ramah dan cukup asyik diajak ngobrol, berbeda dengan para OB lainnya.


"Thanks bro, tapi jujur gue masih agak nge-blank sekarang, maklum udah lama nggak pegang komputer, tapi gue bakal usahain biar nggak kecewain kalian..."


"Yoi, disini kerja sih santai tapi targetnya yang kadang nggak santai, saran gue secepatnya lo belajar, gue bakal kasih tugas-tugas ringan dulu buat lo latihan, minggu depan udah turun tugas spesial dari big bos-nya IT spesial buat lo. Disana nanti kemampuan lo akan diuji. Apa lo beneran sanggup dan pantas dipekerjakan di divisi IT nantinya. So, selamat berjuang!"


Hari itu, Roni menjelaskan secara singkat tentang sistem jaringan dan aplikasi-aplikasi yang digunakan oleh perusahaan.


Roni bicara panjang lebar sambil mempraktekkan langsung apa yang dijelaskannya di depan komputer. Farid pun memperhatikan dengan seksama dan kagum dengan kecepatan kerja Roni. Secara garis besar Farid bisa memahami sistem kerja, jaringan komputer, dan beberapa aplikasi dasar yang banyak digunakan di GAYA.Corp.


"Gimana nih Mas Bro, udah cukup jelas kan?"


"Bagus! Nah biar bisa lebih jelas lagj, lo harus turun langsung menangani masalah-masalah IT perusahaan sehari-hari. Cuma kasus-kasus remeh sih, tapi lumayan banyak, sehari bisa hampir seratus. Dan keluhannya datang dari berbagai divisi, jadi ya lumayan puyeng juga.. "


Farid hanya menangangguk-angguk mencoba untuk memahami situasi kerja yang ada dihadapannya. Maklum saja bekerja di divisi IT adalah pengalaman baru baginya.


Setelah dirasa cukup mengerti, Roni menyuruh Farid duduk di sebuah meja. Di depannya ada sebuah komputer dengan layar menyala. Menampilkan sebuah aplikasi email dengan banyak pesan masuk yang rata-rata berisi email keluhan teknis tentang IT.


"Baca satu-satu, lalu cacat di buku ini ya, tulis keluhan singkat dan nama pengirim serta divisinya, nantinya kita yang harus tangani satu-satu..."


"Baik Mas..."


Farid mulai membuka email, membaca, dan mencatatnya sesuai instruksi Roni. Tapi baru sebentar telepon disampingnya sudah berdering.


"Angkat teleponnya!"

__ADS_1


Teriak Roni dari mejanya. Farid pun mengangkatnya.


"Tanya dari siapa? divisi apa? kirim email jam berapa? Lalu cocokkan dengan email di komputer dan catat..."


Farid mengikuti semua instruksi Roni dengaan benar. Setelah telepon ditutup Roni menghampiri ke mejanya.


"Bagus! kalau orang yang suka nelpon itu orang yang nggak sabaran nunggu masalahnya diberesin, jadi sebagai tim IT kita harus bertindak cepat menyelesaikan keluhan mereka. Sekarang cus, lo coba ikuti gue ke divisi marketing. Katanya ada masalah sama aplikasi penjualan disana..."


"Jadi, kita harus datangin satu-satu ya Mas?"


"Ya nggak juga, cuma yang perlu aja. Sebagian besar bisa kita selesaiin dari ruang IT, lalu konformasi balik kalau masalah sudah diselesaikan..."


"Oh gitu ya Mas..."


Farid berjalan mengikuti Roni ke bagian divisi marketing yang dimaksud. Kali ini sepertinya kasusnya cukup spesial, karena yang minta tolong adalah Bu Tika, yang tidak lain adalah Kepala Divisi Marketing.


"Selain harus cekatan, lo juga harus ramah dan sabar buat ngadepin orang-orang, terutama para kepala divisi. Mereka memang ahli di bidangnya, tapi kadang ada yang gaptek, jadi kita tetap harus sopan dan sabar, ngerti?"


"Ya Mas.."


"Nanti lo yang tangani, gue cuma lihatin aja, kasusnya nggak berat kok, cuma Bu Tika ini suka nggak ngerti kalau kita arahin lewat telepon, jadi harus datangin langsung supaya lebih jelas..."


Begitu sampai di ruangan yang dimaksud, perempuan setengah baya yang bernama Bu Tika langsung bicara panjang lebar dengan nada menggebu-gebu menjabarkan masalahnya.


Farid memeriksa komputer Bu Tika dan menemukan masalah yang dimaksud. Hanya dengan beberapa kali klik, masalah selesai. Bu Tika mencoba membuka aplikasi dan mengecek kendala yang tadi dia keluhkan.


"Oh, jadi cuma begini ya Mas? Aduh saya jadi malu, maaf sudah merepotkan. Tapi masnya kok ganteng sih? anak IT baru ya?"


Farid hanya tersenyum canggung, lalu pamit untuk pergi karena masalahnya sudah selesai. Ternyata tidak sesulit yang dibayangkan.


"Gampang kan? Ini daftar beberapa aduan, masih di divisi marketing, gue yakin lo bisa tanganin sendiri, gue tinggal dulu ya bro!"


Tanpa menunggu persetujuan Roni sudah pergi, meninggalkan Farid yang kemudian dikerubuti cewek-cewek divisi marketing.


"Eh Mas Farid, lama nggak kelihatan tambah ganteng aja sih? Udah naik jabatan ya sekarang jadi anak IT? kalau begini sih cocok jadi suami masa depan akyu..."

__ADS_1


Seloroh salah satu perempuan lalu ditimpali sorakan oleh yang lainnya.


Sepertinya kenaikan jabatan juga membuat pesonanya naik berkali-kali lipat. Terbukti dengan banyaknya para gadis yang berlomba-lomba menyapa dan menarik perhatiannya.


__ADS_2