Panggil Aku Mawar

Panggil Aku Mawar
Bab 12


__ADS_3

Uang...uang...dan uang. Itulah yang selalu dikejar Jelita saat itu. Hidupnya terasa sempurna. Pencapaian demi pencapaian di raih tanpa kesulitan berarti. Lihatlah, kini semua orang menatapnya dengan hormat hanya karena dirinya memiliki uang. Tidak ada lagi orang-orang yang merendahkan keluarganya kerena Jelita selalu mengirimkan uang, untuk renovasi rumah juga untuk semua kebutuhan lainnya.


Dengan uangnya Jelita mencoba membahagiakan keluarga kecilnya, membeli apa saja yang dia inginkan untuk keluarganya agar mereka tak pernah kekurangan seperti dulu. Tapi Jelita tidak bisa meluangkan banyak waktunya karena kesibukannya. Dan keluarganya pun memahami itu. Jelita merasa itu sudah cukup, sementara di ibu kota Jelita semakin fokus membangun bisnisnya.


Jelita bangga pada apa yang telah diraihnya. Kesuksesan yang digenggam di usia muda karena hasil kerja kerasnya sendiri. Semua orang memuji dan menyanjungnya, menjadikannya sosok inspirasi. Bukan hanya uang, tapi ketenaran juga didapatnya. Namanya menjadi terkenal dan dibicarakan dimana-mana. Seorang designer muda yang sukses merintis karir dari bawah. Sedikit demi sedikit perusahaan yang dirintisnya juga berkembang karena nama besarnya di dunia fashion design. Tidak sulit mencari orang yang mau menanamkan modalnya dan penjualannya pun selalu memuaskan. Karirnya sebagai designer juga tetap bersinar bahkan merambah event-event internasional.


Jelita merasa bahagia dan hidupnya sempurna. Dia memiliki banyak uang dan uang membuat semua orang bersikap baik padanya, tidak seperti dulu saat dirinya tak punya apa-apa dan bukan siapa-siapa. Kebahagiannya semakin sempurna saat Jelita memiliki seorang kekasih tampan yang selalu berada disisinya. Arya Anggara. Lelaki tampan itu bahkan begitu memuja Jelita dan memperlakukannya bagaikan ratu. Perempuan mana yang takkan luluh diperlakukan seperti itu. Hidupnya terasa sempurna dan Jelita merasa bahagia. Jelita merasa seperti terbang ke langit ke tujuh, sebelum kemudian jatuh terhempas ke dasar jurang.


Ya, begitulah yang Jelita rasakan saat tahu sang kekasih mengkhianati dan hanya memanfaatkannya semata. Ternyata apa yang selama ini dimiliki hanya sebuah kepalsuan. Setelah itu musibah demi musibah mulai datang menggerogoti hidup Jelita yang sempurna.


Kekasihnya berkhianat, Ayahnya meninggal sebelum Jelita sempat berbakti. Bahkan sudah lebih dari satahun Jelita tidak sempat menengok sang Ayah karena jadwalnya yang padat.


Setelah Ayahnya meninggal Jelita sempat mengajak sang Ibu ke ibu kota. Berniat untuk menghabiskan waktu bersama sang Ibu selagi sempat. Tapi ternyata keputusan itu justru membuat Ibunya terluka.


"Nak, kapan kamu akan menikah? Ibu sudah tidak sabar melihatmu menikah selagi Ibu masih hidup. Ibu tidak mau menyusul Ayahmu sebelum kamu menikah..."


Namun jawaban yang bisa di berikan Jelita malah mengecewakan Ibunya. Mana mungkin Jelita menikah sedangkan kekasihnya jelas-jelas berkhianat. Akhirnya sang Ibu memilih pulang ke kampung halamannya karena merasa lebih nyaman tinggal disana. Tapi tak berselang lama Ibunya jadi sering sakit-sakitan. Kehilangan pasangan hidup dan mendengar kegagalan pernikahan Jelita, membuat kondisi kesehatan sang Ibu jadi menurun. Jelita sempat pulang ke kampung halaman untuk menemani sang Ibu di saat-saat terakhirnya sampai kemudian sang Ibu meninggal dunia. Jelita merasa menjadi anak yang gagal karena tak sanggup mengabulkan keinginan terakhir sang Ibu. Melihat dia menikah.


Sepeninggal Ibunya, Jelita kembali ke ibu kota dan kembali tenggelam dalam kesibukannya.

__ADS_1


Jelita hanya sesekali saling berkirim kabar dengan adiknya yang telah menikah di kampung halaman. Tentu Jelita juga rutin mengirimkan uang untuk membantu adiknya yang tidak seberuntung dirinya. Jelita pikir dia sudah berbuat banyak, tapi kemudian Jelita mendengar kabar adiknya meninggal dengan mendadak. Tanpa sepengetahuannya ternyata adiknya sudah lama mengidap kanker getah bening. Selain itu ternyata suami adiknya juga kerap melakukan kdrt dan menggunakan semua uang pemberian Jelita untuk berfoya-foya, sehingga adiknya tidak bisa berobat dengan layak. Jelita menyesal karena terlambat tahu tentang semuanya. Andai saja dia tahu lebih awal tentu dia bisa melindungi adiknya, Melati dan mungkin adiknya tidak akan pergi secepat ini.


Sekarang tinggalah Jelita hidup sebatang kara, tanpa ada keluarga yang tulus menyayanginya. Sekarang Jelita hanya punya Diara dan Pak Bin sebagai orang yang bisa dia percaya, selebihnya hanyalah kepalsuan. Jelita tidak bisa membedakan apakah orang-orang di sekitarnya tulus atau hanya memandangnya sebab harta dan kedudukannya.


"Je...je.. lo kenapa Je?", tanya Diara sambil menepuk-nepuk bahu Jelita.


"Lo ngelamun ya Je? Lo mikirin apa sih sampai bengong begitu?", tanya Diara dengan panik.


"Sorry Di, gue cuma keinget keluarga gue yang udah nggak ada..."


"Sorry Je, bukannya gue nggak bersyukur, gue cuma belum siap aja, lo tenang aja, gue janji bakal memperbaiki hubungan gue sama keluarga secepatnya..."


"Haha, udahan ah mellow-mellow nya, habisin makanannya terus pulang yuk...udah pegel banget nih badan gue pengen rebahan.."


"Yaudah yuk, gue juga sama..."


Mereka segera sibuk menghabiskan makanan.


"Di, gue ada tugas spesial buat lo?", tiba-tiba Jelita berkata.

__ADS_1


"Apaan sih Je pake spesial kayak nasgor aja..."


"Tolong lo suruh orang buat selidiki asal-usul Mas Farid, kayaknya dia bukan OB biasa deh...", Terang Jelita dengan hati-hati.


"Hahahan, bilang aja lo naksir, pake acara detektif-detektifan segala, kenapa nggak lo tanya-tanya langsung aja ke orangnya? Kalau dia beneran sayang lo pasti dia bakal jawab semua keingintahuan lo dengan jujur..."


"Justru itu Di, lo tahu sendiri kan gimana manisnya si Arya sama gue, tapi ternyata di belakang gue dia brengs*k begitu...sejauh ini kita masih cuma berteman aja, tapi setidaknya gue pengen tahu aja gimana dia yang sebenarnya Di..."


"Siap laksanakan Bos, lo tinggal tunggu hasilnya aja...tapi menurut gue dia beda banget sama si Arya, apalagi dia kenal lo sebagai Mawar, tapi oklah kita selidiki aja biar lo yakin..."


"Thanks Di, yuk cuz kita pulang, udah malam juga..."


"Malam ini gue nginep di apartemen lo ya Je.."


"Yoi, tapi lo udah pamit kan?"


"Udah kok..."


Begitulah kebiasan Jelita jika sedang berkonflik dengan keluarganya. Sebenarnya hubungan Diara dengan keluarganya cukup harmonis. Hanya saja sudah tiga tahun belakangan, keluarga Diara kerap menyinggung dan menekan Diara agar segera menikah. Diara yang belum siap juga tidak punya kekasih tentu tidak suka diperlakukan begitu. Diara memilih semakin menyibukkan diri dengan pekerjaan agar tak terlalu sering bertemu keluarganya dan terus ditanya-tanya. Tapi orang tuanya bukannya berhenti menganggunya, malah semakin bersemangat hingga menyodorkan beberapa pria untuk dikenalkan pada Diara. Beberapa kali Diara sempat bertemu dengan pria-pria yang dikenalkan orang tuanya. Tentu Diara hanya diam dan memasang 'mode jutek'. Orang tuanya lalu memarahinya karena Diara dianggap tidak sopan. Di lain kesempatan jika Diara tahu lebih dulu tentang rencana orang tuanya untuk menjodohkan dirinya, Diara akan memilih kabur dan menginap di apartement Jelita seperti sekarang. Diara butuh beberapa hari menginap di apartement Jelita hingga kemarahan orang tuanya mereda dan dirinya bisa kembali pulang kerumah dalam keadaan damai. Entah sampai kapan drama semacam ini akan berakhir. Mungkin sampai dirinya menemukan lelaki yang tepat untuk dikenalkan pada orang tuanya. Tapi sebelum itu, Diara tentu harus berusaha menyembuhkan traumanya, meski itu bukan berarti dirinya akan melupakan Juna begitu saja

__ADS_1


__ADS_2