Panggil Aku Mawar

Panggil Aku Mawar
Bab 57


__ADS_3

Hari ini adalah hari minggu dan Diara belum punya agenda apapun untuk mengisi hari liburnya yang sepi. Biasanya Diara hanya akan menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang. Sekedar memanjakan diri setelah satu minggu penuh berkutat dengan pekerjaan yang menguras tenaga dan pikirannya. Tapi entah mengapa hari ini Diara sama sekali tidak berminat untuk mencari kesenangan semu seperti yang biasa di lakukannya. Ya, Diara akhirnya menyadari bahwa yang di dapatnya dari segala kegiatan berfoya-foya hanyalah semu. Dirinya memang akan merasa senang saat pergi shoping, ke salon, atau yang lainnya. Tapi saat semua itu selesai, selesai juga kebahagiaannya di hatinya. Dan yang tertinggal hanyalah perasaan sepi dan kosong seperti sebelumnya.


Hari ini, Diara ingin melakukan sesuatu yang berbeda. Dan entah mengapa justru hal itu yang terlintas di pikirannya. Diara sudah memutuskan, dirinya akan pergi untuk menjenguk Arya di penjara. Pagi-pagi sekali Diara sudah bangun, lalu Diara memutuskan untuk pergi ke pasar terlebih dahulu. Sudah lama sekali Diara tidak pernah melakukan kegiatan seperti ini, berbelanja ke pasar tradisional. Dulu Diara sering melakukannya saat mulai merintis bisnis kulinernya bersama Juna. Tapi sejak Juna meninggal Diara tidak pernah melakukannya lagi. Dan sekarang entah mengapa Diara ingin melakukannya dan ternyata rasanya cukup seru dan menyenangkan. Diara membeli berbagai bahan makanan yang akan diolahnya pagi itu.


Pulang dari berbelanja Diara langsung sibuk mengolah bahan-bahan yang sudah di belinya. Tumis kangkung, ayam goreng mentega dan tempe goreng adalah menu yang dipilihnya. Diara memasak cukup banyak dan membungkusnya. Rencananya Diara akan membawanya saat menjenguk Arya nanti Konon katanya makanan di penjara hanya ala kadarnya saja. Diara ingin Arya dan kawan-kawannya sesama napi bisa menikmati makanan yang lezat bergizi walaupun hanya sesekali saja.


Selesai dengan masakan, Diara segera mandi dan bersiap-siap. Diara hanya mengenakan celana jeans dan t-shirt. Diara ingin berpenampilan sesederhana mungkin agar tidak mencolok. Diara akhirnya berangkat dengan perasaan antusias yang belum pernah dirasakannya sebelumnya.


Sampai disana Diara bertemu dengan polisi yang berjaga dan menyampaikan maksudnya. Setelah melalui beberapa prosedur akhirnya Diara dipertemukan dengan Arya di sebuah ruangan.


"Ngapain lo repot-repot jengukin gue disini?"


Tanya Arya dengan raut wajah yang tak senang. Meskipun mengesalkan Diara berusaha tetap bersikap tenang.


"Karena gue pengen ketemu sama lo!"


Arya mencibir dan tertawa dengan sinis.


"Kalau ini karena gue pernah berjasa menggagalkan aksi bunuh diri lo yang konyol, lo nggak perlu merasa berhutang budi..."


Sejujurnya, Diara menjenguk Arya kemari karena merasa kasihan pada Ibunya Arya Dan yang kedua adalah karena rasa bersalahnya. Dirinya tahu benar kalau ini ulah sahabatnya, Jelita yang sengaja menjebak Arya. Tapi Diara tak punya keberanian untuk membuka kebenaran ini pada siapapun karena alasan etika dan persahabatan.


"Lo nggak perlu alasan gue datang jenguk lo kesini. Dan dari pada kita buang-buang waktu buat ngobrol yang nggak jelas, mendingan sekarang lo telepon nyokap lo aja!"

__ADS_1


Ucap Diara sambil menyodorkan handphone ke depan Arya.


Wajah Arya berubah menjadi antusias. Sebab hal inilah yang paling dibutuhkannya. Ponselnya disita dan sejak ditangkap Arya memohon izin untuk bisa menelpon Ibunya, tapi tidak juga diizinkan.


"Makasih banyak Di, kali ini gue bener-bener berhutang budi sama lo!"


"Nggak ada hutang piutang diantara kita, ini namanya saling tolong menolong!"


Tak ingin membuang waktu, Arya langsung menyambar ponsel yang disodorkan Diara. Sejenak Arya terlihat bingung.


"Gue simpen nomor nyokap lo, namanya Bu Rusmini kan?"


Arya mengangguk dan segera mencari nama yang dimaksud. Arya menunggu sesaat sampai kemudian teleponnya diangkat.


"Walaikum salam, Arya? Arya? Ini benar kamu le?"


"Iya Bu, maaf kemarin pergi mendadak, jadi nggak sempat pamit sama Ibu. Aku dapat pekerjaan bagus Bu, gajinya besar tapi di lepas pantai jadi susah sinyal...tapi Ibu tenang aja aku pasti usahain untuk bisa hubungin Ibu..."


"Iya le...Iya..., kamu tenang saja, Ibu bisa jaga diri, jangan khawatirkan Ibu dan fokus bekerja saja..."


"Ya Bu, sudah dulu ya Bu ada temen yang nungguin...."


"Ya le, sampai ketemu lagi..."

__ADS_1


Arya segera mengakhiri panggilan itu. Walaupun ingin, Arya tidak bisa berlama-lama berbicara pada Ibunya. Dia tidak terbiasa berbohong pada Ibunya karena biasanya beliau tahu kalau dirinya sedang berbohong. Karena itulah Arya tak mau terlalu banyak bicara.


"Makasih banyak Di...", ucap Arya dengan tulus.


"Yoi sama-sama, gue pamit dulu. Kapan-kapan kalau luang gue kesini lagi biar lo bisa telponan sama nyokap lo..."


"Yoi..."


Diara mengemasi barangnya dan segera bangkit dari duduknya. Tapi saat akan melangkah, tangan Arya menahan tangannya.


"Di, boleh gue minta tolong satu lagi?"


"Apa?"


"Tolong pantau kondisi nyokap gue dan jenguk beliau sesekali..."


"Ok, gue akan usahain sebisa mungkin..."


"Makasih banyak Di, semoga hidup lo di penuhi kebahagian ke depannya..."


Diara mengangguk dan tersenyum, lalu melangkah pergi. Hati Diara terasa penuh. Ada rasa puas dan bahagia yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Ternyata seperti ini rasanya saat kita dengan tulus berbagi dan menolong sesama. Diara senang mendengar Arya dan Ibunya bercakap-cakap walau hanya sebentar. Pun Diara senang membayangkan makanan buatannya nanti disantap oleh para napi di dalam sana.


Diara berjalan dengan langkah yang terasa ringan, menyusuri halaman lapas menuju tempat dimana mobilnya terparkir. Sebelum akhirnya sebuah suara yang amat dikenalnya mengagetkannya.

__ADS_1


"Diara! Lo ngapain disini?"


__ADS_2