
Sudah seminggu lebih Farid tidak lagi bekerja sebagai OB di GAYA.Corp. Entah mengapa Mawar merasa ada sesuatu yang kurang. Dan kini hidupnya terasa hampa. Padahal jelas, Farid bukanlah motivasi utamanya bekerja sebagai OG, bahkan kehadirannya tidak ada di dalam rencana.
Mawar jadi kurang bersemangat dalam bekerja. Dan entah mengapa, mungkin karena kurangnya konsentrasi banyak pekerjaan Mawar yang tidak beres. Seperti siang itu, saat dia membuatkan kopi untuk Diara yang ternyata rasanya malah asin, karena Mawar salah memasukkan garam alih-alih memasukkan gula. Dan tentu Diara memanfaatkan kesempatan itu untuk memarahinya habis-habisan di depan Mona, musuh bebuyutannya
.
"Udah berapa bulan emangnya lo kerja jadi OG? Masak bedain gula sama garam aja nggak bisa hah! Apa jangan-jangan lo sengaja ngerjain gue?", Teriak Diara dengan nada tinggi.
"Maaf mbak saya nggak sengaja, sekali lagi saya minta maaf..."
"Maaf-maaf, ganti kopi saya sama yang baru dan Lo! Tolong ajarin anak baru ini bikin kopi yang bener!"
"Ya mbak..."
Mawar membawa kembali gelas kopinya yang asin dengan diikuti Mona. Tentu saja sepeninggal mereka Diara tertawa jahil. Tapi Mawar harus menerima omelan tambahan dari Mona, seniornya.
"Makannya kalau kerja jangan ngalamun aja! Masak hal sepele begini bisa salah, malu-maluin aja! Gue juga kan yang kena marah! Huh..."
Mawar membuat kopi yang baru dan Mona mencicipinya sedikit untuk memastikan rasanya sesuai.
"Nah begini baru bener, biar gue aja yang anterin!", Begitu seloroh Mona.
Dan pastinya Mona akan mengaku pada Diara kalau dialah yang membuat kopinya untuk mencari muka.
Mawar pasrah saja dan kembali sibuk dengan pekerjaan yang lainnya. Dasar menyebalkan, begitu gerutunya dalam hati.
__ADS_1
Mawar kembali bergelut dengan pekerjaannya, mencuci gelas, merapikan ruangan pantry, menyapu dan mengepel, lalu sejenak Mawar beristirahat. Tiba-tiba Mawar merasa bosan dengan rutinitasnya yang itu-itu saja. Lalu apa yang harus dilakukannya?
Mawar akhirnya menghubungi Pak Bin dan memberitahu kalau nanti sore Pak Bin tidak perlu menjemputnya seperti biasa. Hari ini Mawar ingin pulang sendiri ke kontrakan kecilnya. Selama ini Mawar hanya sesekali saja menyambangi kontrakan kecil itu jika sedang bersandiwara, terutama jika Farid memaksa untuk mengantarkannya pulang. Tapi kali ini Mawar ingin kesana karena keinginannya sendiri. Mawar ingin mengenal lebih dekat lingkungan tempat barunya itu yang selama ini hanya dilihatnya sekilas saja.
Setelah menyelesaikan semua tugasnya dengan cukup baik, akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu tiba juga. Apalagi kalau bukan jam pulang kantor. Hari ini tidak ada rapat dan hanya sedikit pegawai yang kerja lembur, jadi hari ini Mawar bisa pulang tepat waktu.
Mawar melangkahkan kakinya seorang diri, melintasi lobby, lalu menyusuri halaman gedung yang cukup luas. Entah mengapa masih terlintas sekelebat bayangan Farid yang berhenti menawarinya tumpangan. Tapi sayangnya itu hanya khayalannya saja. Nyatanya dia harus tetap melangkahkan kakinya meski merasa lelah setelah tenaganya terkuras setelah seharian bekerja.
Mawar melangkah menuju halte busway tidak jauh dari gerbang gedung kantornya. Disana suasana cukup padat karena memang waktunya para karyawan pulang kerja. Mawar tetap masuk meski harus berdesak-desakkan dengan para calon penumpang yang lainnya, sebab dirinya ingin cepat sampai dirumah untuk beristirahat.
Tapi entah bagaimana, Mawar merasa ada beberapa orang yang mendesaknya hingga tubuhnya terdorong sampai di bagian pojok halte. Sampai kemudian, salah satu diantara orang itu menarik tas dari lengannya. Semua terjadi begitu cepat sampai akhirnya Mawar tersadar bahwa orang itu sedang mencoba merampas tas tangannya. Mawar tentu tidak tinggal diam, Mawar berusaha membela diri dan mempertahankan apa yang menjadi miliknya sebab Mawar ingat di dalam tasnya ada beberapa dokumen perusahan yang berharga dan rahasia juga dompet dan ponselnya, tempat semua harta karunnya tersimpan.
Beberapa saat sempat terjadi tarik menarik diantara mereka hingga kemudian salah satu dari komplotan itu mengeluarkan sebilah senjata tajam dan mengarahkannya tepat di depan wajah Mawar.
Reflek Mawar berteriak meminta pertolongan.
Sebenarnya sedari tadi beberapa mata sudah menoleh ke arah keributan itu, menerka-nerka apa yang tengah terjadi. Tapi ketika Mawar berteriak, barulah semua orang di halte itu sadar jika ada copet di dalam halte yang sedang melancarkan aksinya. Dan tanpa di duga seorang wanita merangsek mendekat ke arah Mawar yang masih berusaha mempertahankan diri, namun tenaganya jelas kalah. Perempuan itu dengan sigap melancarkan tendangan demi tendangan yang diarahkan ke beberapa bagian vital pria-pria pencopet itu. Para pencopet yang tidak siap dengan serangan mendadak itu seketika limbung dan dengan cepat Mawar menarik kembali tasnya dan melangkah menjauh. Sekali lagi, sebelum para copet itu mencoba berdiri, Perempuan itu melancarkan kembali beberapa kali tendangan, hingga senjata tajam terlepas dari salah satu pencopet dan dia pun memungutnya.
"Dasar amatiran! Beraninya keroyokan lawan cewek!"
Tanpa diduga, para calon penumpang yang semula hanya diam menonton, satu persatu mulai merangsek maju dan melayangkan pukulan demi pukulan. Mungkin tadi mereka masih ragu untuk menyerang, sebab melihat pencopet yang memegang senjata tajam. Tapi setelah senjata tajam itu terlempar, tidak ada lagi yang ditakutkan dan merekapun mulai menyerang.
Beberapa saat terjadi perkelahian, sampai kemudian petugas halte berinisiatif untuk melerai dan menelpon polisi.
Perlahan-lahan suasana mulai kondusif, beberapa orang masih bertahan memegang tiga orang pencopet agar tidak kabur dan sebagian yang lain beranjak pergi satu persatu karena punya urusan masing-masing. Tidak lama kemudian, petugas kepolisian datang untuk mengamankan tiga orang tersangka juga meminta keterangan dari para saksi ditempat kejadian.
__ADS_1
Setelah kerumunan mulai mulai terurai barulah Mawar punya kesempatan untuk menghampiri perempuan yang telah menyelamatkan hidupnya tadi.
"Mbak Mona, makasih banyak ya....aku nggak nyangka lo justru mbak Mona yang jadi penyelamat di saat aku dalam bahaya seperti tadi...", kata Mawar dengan tulus.
"Lo pikir gue sejahat itu sampai nggak bakal nolongin orang yang dianiaya di depan mata gue?"
"Hehe, iya..saya tahu kok Mbak Mona ini sebenarnya orang baik, cuma kadang-kadang suka nyinyir aja,..."
"Eh..eh...udah ditolongin masih berani ngeledek lagi!"
"Maaf...maaf Mbak Mona cuma bercanda kok, makasih banyak lo..aku cuma nggak nyangka aja kalau Mbak Mona ternyata sehebat itu..."
"Jangan salah, gini-gini gue ini pemegang sabuk hitam taekwondo, zaman sekarang perempuan juga harus bisa bela diri, nggak selalu ada orang yang bisa diandalin buat melindungi kita selain diri sendiri..."
"Iya...iya Mbak, mungkin lain waktu aku bisa belajar bela diri dari Mbak Mona..."
"Enak aja, gue ini orang sibuk, mana ada waktu buat ngajarin lo!"
"Hehehe, iya deh tahu mbak, yaudah yuk kita pulang sama-sama mbak..."
"Emangnya dimana rumah lo?"
Mawar lalu menyebutkan daerah tempat tinggalnya.
"Wah lumayan jauh itu, mending lo mampir kerumah gue aja sebentar, biar gue obatin dulu luka-luka lo.. "
__ADS_1
"Ya Mbak Mona, sekali lagi trimakasih banyak ya Mbak..."
Kejadian itu membuat Mawar menyadari satu hal. Terkadang orang yang terlihat jahat diluar lebih baik dari orang yang berpura-pura baik tapi menusuk dari belakang.