
Selamat malam Mawar, gimana nih kabarnya?
Jelita membaca sebuah pesan di aplikasi hijau di ponselnya. Sebuah pesan sederhana, yang biasanya akan diabaikan begitu saja oleh Jelita jika ada lelaki yang mencoba menggodanya. Tapi kali ini pesan itu terasa berbeda, sebab dikirimkan oleh seseorang yang punya kesan cukup mendalam bagi dirinya.
Tanpa sadar Jelita pun tersenyum. Berkali-kali Jelita coba mengetik balasan tapi dihapuskannya lagi. Sampai-sampai Jelita sengaja mematikan sambungan internet di ponselnya agar kebimbangannya tak terbaca oleh seseorang di seberang sana.
Malam juga Mas Farid, alhamdulillah kabarku baik, Mas Farid sendiri bagaimana?
Akhirnya Jelita membalas pesan itu, bersamaan dengan itu teguran Diara menyadarkannya dari lamunan.
"Ngapain sih Je kok jadi senyum-senyum sendiri?"
Jelita hanya menggeleng, tapi masih dengan wajah tersenyum.
"Apa maksud gelengan kepala lo? wah...wah gue jadi curiga, cuma ada tiga jenis orang yang bisa tiba-tiba senyum sendiri. Pertama orang gila, kedua orang yang lagi jatuh cinta, dan ketiga orang yang gila karena jatuh cinta, dan gue yakin banget lo pasti termasuk yang ketiga!"
"Sialan lo Di!", balas Jelita sambil menoyor kepala Diara.
"Jadi siapa yang lelaki beruntung yang berhasil bikin lo jadi kayak orang gila?"
Diara semakin suka menggoda Jelita yang terlihat salah tingkah.
Belum sempat Jelita menjawab, tiba-tiba ponselnya berdering. Panggilan masuk dari orang yang baru saja berbalas pesan dengannya. Jantung Jelita seakan melompat dari tempatnya. Reflek Jelita menjauh dari Diara. Jelita melangkah ke taman belakang sebelum kemudian memberanikan diri mengangkat panggilan itu.
"Hallo Mawar..."
Sapa seseorang di seberang sana. Mendadak kaki Jelita terasa lemas. Tapi Jelita berusaha mengatur nafasnya agar suaranya terdengar normal.
__ADS_1
"Hallo Mas Farid, gimana kabarnya?"
"Alhamdulillah aku baik, cuma lagi kangen berat aja sama seseorang..."
"Ah, Mas Farid sekalinya nelpon udah berani gombal..."
"Eh, siapa yang gombal? aku kan nggal bilang kalau orang yang kukangeni itu kamu..."
"Oh ya sudah kalau begitu, aku tutup ya teleponnya?"
"Eh, jangan! Aduh gitu aja ngambek?"
"Siapa yang ngambek Mas Farid, aku biasa saja kok. Ngomong-ngomong, gimana kerjaan Mas Farid, lancar?"
"Alhamdulillah..."
"Pastinya donk, kan banyak di kelilingi cewek-cewek..."
Diam-diam Jelita suka mengamati CCTV yang merekam aktivitas Farid. Jelita tahu banyak gadis yang mencoba mendekati dan menggoda Farid meski Jelita belum pernah melihat Farid menanggapi salah satu dari mereka. Hal itu yang membuat Jelita masih menaruh sedikit harap.
"Cuma nebak aja Mas Farid, kan dari dulu juga begitu..."
"Cemburu ya?"
"Enggak..."
"Kamu sendiri gimana?"
__ADS_1
"Gimana apanya Mas?"
"Apa udah punya seseorang? Gimana kehidupan kamu di kampung?"
"Belum Mas, aku nggak mikirin pacar-pacaran dulu. Kehidupanku di kampung baik-baik saja..."
"Nggak mikirin pacaran, tapi kalau ada yang datang ngelamar gimana?"
"Ah Mas Farid ngeledek aja, emang siapa yang mau sama gadis kampung kayak aku?"
"Aku..."
Mendengar itu jantung Mawar berdetak semakin kencang. Wajahnya pasti sudah merah. Untunglah mereka hanya bicara lewat sambungan telepon.
"Mawar...Mawar...kamu nggak papa kan?"
Farid terdengar panik, sebab Mawar sama sekali tidak meresponnya.
"Aku nggak Papa Mas Farid, Mas Farid kalau bercanda jangan keterlaluan..."
"Aku serius Mawar, kirimin alamat lengkap rumah kamu, aku akan datang lamar kamu sama Ibuku..."
Mawar membeku ditempatnya berdiri. Apa yang dia dengar seperti mimpi.
"Aku serius Mawar, aku tahu kamu pasti masih dengar aku...kalau kamu kirim alamat rumahmu, aku anggap kamu setuju aku datang. Tapi kalau kamu nggak kirim alamat rumahmu, aku anggap kamu menolakku..."
Mawar masih diam, tak tahu bagaimana harus menjawab.
__ADS_1
"Ok, aku anggap kamu setuju, aku tunggu jawabanmu segera, selamat malam Mawar, selamat tidur..."
Tanpa sempat Jelita menjawab, sambungan itu terputus.