Panggil Aku Mawar

Panggil Aku Mawar
Bab 19


__ADS_3

"Berapa memangnya uang yang mereka kasih Bu?", tanya Farid, masih saja penasaran


"Delapan puluh juta, padahal hutang kita sama bunga-bunganya cuma sekitar enam puluh lima juta, tapi mereka nggak mau Ibu balikin sisanya, katanya suruh pakai saja untuk keperluan lainnya..."


"Apa Ibu bener-bener nggak tahu siapa orang itu? masalahnya zaman sekarang siapa yang mau ngasih uang segitu dengan cuma-cuma?"


"Ibu bener-bener nggak kenal Rid, kemarin mau Ibu foto buat lapor ke kamu, tapi keburu ketahuan dan mereka ngelarang. Ibu juga udah nolak-nolak, takut kalau malah ada masalah kedepannya, tapi mereka maksa dan berani jamin nggak akan ada masalah sama uang itu..."


Farid diam dan terus berfikir. Keluarganya tidak ada yang sekaya itu untuk memberi bantuan uang secara cuma-cuma. Teman-teman bapak juga tidak ada yang terlalu kaya. Kalau orang kaya yang suka bagi-bagi duit biasanya harus dibikin konten dulu. Lagi pula siapa yang tahu kalau keluarganya punya hutang? Selama ini mereka tidak pernah cerita pada siapapun tentang hutang keluarga karena tidak ingin dikasihani.


"Sudahlah Rid, jangan terlalu dipikirkan, kita berdoa saja supaya uang ini berkah, ngomong-ngomong, kamu juga butuh uang buat tunggakan bayar kuliah kan? Setelah hutang-hutangnya dibayar, kamu bisa pakai sisa uang itu untuk bayar kuliah kamu..."


"Nggak usah Bu, selama kerja aku juga dapat uang tips dari para direksi, juga ada uang bonus yang aku kumpulin buat bayar kuliah, sisa uang itu Ibu simpan aja buat keperluan Ibu. Oh ya, gimana kalau Ibu nggak usah kerja? Uang kita cukup dan hutang kita juga sudah lunas, nanti setelah lulus kuliah biar aku yang cari kerja...jujur aku masih khawatir kalau Ibu harus kerja di luar rumah..."


"Ya sudah, nggak papa Ibu nggak kerja. Yang penting sekarang kamu kuliah yang bener buat masa depan kamu sendiri. Nggak usah lagi mikirin patah hati atau cinta-cintaan yang nggak penting. Setelah lulus, cari kerja yang mapan, setelah itu, baru cari calon istri yang sholehah buat jadi mantu Ibu..."


"Ah Ibu mikirnya kejauhan..."


"Bukan kejauhan, tapi yang namanya masa depan harus direncanakan, jangan buang-buang waktu untuk hubungan yang nggak jelas ujungnya!"


"Ya Bu, udah ah, aku mau bobok dulu..."


Farid langsung bergegas kamar dan menutup pintu sebelum Ibunya mengeluarkan petuahnya lagi. Benar apa yang dikatakan Ibunya, mulai sekarang dia tak boleh memikirkan masalah cinta-cintaan yang hanya bikin sakit hati. Lebih baik fokus untuk masa depan demi membahagiakan Ibunya, orang yang jelas-jelas menyayanginya dan sudah banyak berkorban untuknya. Malam itu akhirnya Farid bisa tidur dengan pulas, setelah beberapa hari kemarin merasa galau.


******


Hari ini adalah hari terakhir Farid bekerja di GAYA.Corp. Tidak seperti biasa, hari ini Farid sengaja datang lebih pagi. Farid butuh waktu untuk membereskan barang-barangnya. Dan tentu saja dia ingin meninggalkan kesan yang baik di hari terakhirnya bekerja. Tapi siapa sangka saat masuk ke pantry sudah ada orang yang datang mendahuluinya. Seorang perempuan sedang sibuk menyeduh kopi dengan coffe maker yang ada di pantry. Dan kali ini entah mengapa Farid tidak ingin menghindarinya.


"Tumben pagi-pagi sudah datang?", tanya Farid pada perempuan yang sedang berdiri membelakanginya.


Perempuan itu menoleh sambil tersenyum.


"Eh, mas Farid...tumben juga Mas Farid jam segini sudah datang?"


"Berarti kita sehati, kemarin-kemarin dateng hampir telat barengan, sekarang datang pagi juga sama-sama..."


"Hehe, Mas Farid mau sekalian ku buatkan kopi?"


"Boleh, pake creamer ya tapi sedikit saja..."


"Baik Mas..."


Farid tersenyum melihat Mawar yang sekarang sudah mahir menggunakan coffe maker. Kalau begini setidaknya dia bisa tenang meninggalkan Mawar.

__ADS_1


Mawar meletakkan dua cangkir kopi di meja, lalu duduk di samping Farid.


"Aku mau sarapan dulu Mas, Mas Farid mau?"


"Nggak usah buat kamu aja, aku sudah sarapan tadi, biar aku minum kopi aja..."


Mawar mulai sibuk menyuap makanan ke mulutnya. Dan Farid mencicipi kopi buatan Mawar yang ternyata lumayan lezat.


"Kopinya enak, kamu udah bisa pakai coffe maker sekarang..."


"Lumayan Mas, aku kan suka minum kopi juga..."


"Hari ini hari terakhir aku kerja disini..."


"Hmm, terus gimana rencana Mas setelah keluar dari sini?"


Farid hanya diam, terlihat ragu untuk menjawab.


"Nggak papa kalau Mas Farid nggak mau cerita, semoga Mas Farid jadi orang yang sukses dimanapun Mas Farid berada..."


"Makasih banyak, sukses juga buat kamu..."


"Aku minta maaf kalau ada sikap atau kata-kataku yang menyinggung Mas Farid selama kita berteman..."


Lalu kemudian hening beberapa saat dan mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Sampai kemudian seseorang mengetuk pintu pantry yang terbuka.


"Permisi, Mas Farid, bisa kita bicara sebentar?"


Tanya Bu Lastri masih berdiri di depan pintu.


"Ya Bu..."


"Sebentar ya Mawar..."


Farid lalu berjalan mengikuti Bu Lastri yang tadi memanggilnya.


"Ada apa ya Bu?", Tanya Farid saat mereka sedang berjalan.


"Pak Andy, kepala HRD memanggil kamu. Ada yang ingin beliau bicarakan denganmu. Ayo, biar kuantar ke ruangannya..."


Farid heran, tapi tidak sopan kalau terlalu banyak bertanya.

__ADS_1


"Baik Bu..."


Farid berjalan mengikuti Bu Lastri sampai ke sebuah ruangan yang pintunya tertutup. Selama menjadi karyawan, Farid baru sekali bertemu Pak Andy saat wawancara kerja dulu.


"Ini ruangan Pak Andy, ayo masuk..."


Bu Lastri mengetuk pintu, lalu dari dalam Pak Andy berteriak untuk menyuruhnya masuk.


"Ini yang namanya Farid, Pak..."


"Ya...ya..., kamu boleh keluar..."


"Saya tinggal dulu ya Farid..."


Bu Lastri langsung keluar tanpa menunggu jawaban Farid. Dan sekarang tinggalah Farid berdua dengan Pak Andy.


"Benar ini hari terakhir kamu bekerja?"


"Ya Pak..."


Pak Andy lalu sibuk membuka-buka berkas yang ada di tangannya.


"Dari data yang saya baca, saat ini kamu masih berstatus mahasiswa tingkat akhir jurusan Teknik Informatika Universitas Prasasti, benar?"


"Benar Pak..."


"Dan alasanmu berhenti bekerja karena ingin melanjutkan kuliah, benar begitu?"


"Ya Pak..."


"Lalu dulu, kenapa kamu harus meninggalkan bangku kuliah untuk bekerja sebagai OB?"


Farid terlihat menimbang sebekum akhirnya menjawab.


"Karena masalah keluarga dan saya membutuhkan penghasilan..."


"Baiklah saya tidak akan bertanya lebih jauh karena itu privasi kamu, sekarang bisa tolong tunjukkan saya IPK kamu? Mungkin kamu bisa melihat dari web kampus atau sejenisnya, saya hanya ingin tahu perkiraannya..."


Farid masih menduga-duga kemana arah percakapan ini, tapi dia menuruti saja permintaan Pak Andy. Memdownload rekap nilainya dan memperlihatkannya pada Pak Andy.


"Wow, kamu cukup cerdas juga ternyata, padahal kampus kamu lumayan susah untuk dapat nilai segini..."


Farid hanya tersenyum mendengar pujian itu.

__ADS_1


"Langsung saja ke pokok persoalan, kami melihat performa dan atitude kerja kamu selama ini cukup baik dan dari latar belakang pendidikan kamu juga mumpuni, kami berniat menawari kamu untuk megang disini sebagai staff IT. Selama magang, pekerjaan dilakukan secara part time dan jam kerjanya bisa dibicarakan nanti, dan setelah lulus nanti kamu juga berkesempatan menjadi karyawan tetap di GAYA.Corp, bagaimana apa kamu berminat?"


__ADS_2