
"Boleh gue jenguk nyokap lo?", tanya Diara saat hati dan pikirannya sudah terasa lebih tenang.
"Ngapain lo harus repot-repot jenguk nyokap gue? Kita nggak ada hubungan apa-apa. Gue nggak mau nyokap salah paham kalau gue bawa cewek ketemu dia...."
"Mama gue baru aja meninggal kemarin setelah pulang dari rumah sakit ini. Sedangkan selama ini gue bahkan nggak tahu kalau Mama gue berjuang melawan kanker sendirian. Dalam keadaan Mama seperti itu, Papa justru selingkuh, dan seminggu lagi Papa bakal nikahin selingkuhannya. Gue emang anak yang nggak berguna, gue nggak tahu apa-apa dan gue nyesel banget nggak sempet memberi dukungan yang cukup buat Mama..."
Entah mengapa Diara jadi menceritakan masalah pribadinya pada pria asing di depannya. Pria yang jelas dia tahu punya trade record yang buruk. Dan setelah mengatakan itu, Diara merasa menjadi lebih lega.
Mendengar cerita itu membuat sikap Arya melunak dan turut bersimpatik pada nasib Diara.
"Ok, lo boleh jenguk nyokap gue, semoga setelah itu lo bisa ngerasa lebih baik dan lebih menghargai hidup lo...Nyokap gue bahkan rela menjalani pengobatan yang menyakitkan, hanya untuk memperpanjang umurnya beberapa bulan untuk bisa punya waktu lebih lama sama gue. Anak yang nggak tahu diri ini!"
Kata-kata Arya kembali membuat Diara terenyuh.
"Ayo ikut, jangan bengong aja!"
Diara tersadar dari lamunannya dan mengikuti langkah Arya.
"Tunggu!"
Teriakan Diara menghentikan langkah Arya yang berjalan lebih dulu di depan.
__ADS_1
"Kenapa lagi?"
"Gue mau ke minimarket dulu di bawah, lo bisa tolong tunggu disini sebentar? Atau lo kasih tahu ruang perawatan nyokap lo biar nanti gue nyusul aja..."
"Kalau lo mau beli sesuatu buat Nyokap gue mendingan nggak usah. Nyokap gue udah sulit makan dan nggak butuh apa-apa. Tapi kalau ada yang jengukin dan masih peduli aja, pasti beliau udah senang banget...."
Diara terlihat berfikir sebentar mendengar jawaban Arya. Memang benar dirinya setidaknya ingin membelikan sesuatu untuk Ibunya Arya. Rasanya tidak sopan kalau datang dengan tangan kosong.
"Ruang Nyokap gue di Dahlia nomor 21, lo mau bareng gue atau nyusul aja?"
Tanya Arya lagi karena melihat Diara bengong.
"Yaudah gue bareng lo aja..."
Hati Diara menciut saat melihat keadaan Ibunya Arya. Ibu Arya tampak tua dan lelah, dengan wajah pucat, rambut rontok dan alat bantu makan menempel di mulutnya. Keadaannya terlihat sangat memprihatinkan, berbeda dengan Mama Diara yang masih terlihat normal sampai menjelang kematiannya. Mungkin itulah efek pengobatan kanker hingga Mama menolak waktu itu.
"Siapa ini le?"
Tanya Ibunya Arya dengan terbata saat melihat anaknya membawa teman.
"Teman Arya Bu, katanya pengen jengukin Ibu..."
__ADS_1
"Cantik le temanmu...makasih ya nak sudah mau datang jenguk Ibu..."
Diara lalu meraih tangan Ibu Arya untuk bersalaman dan menciumnya. Tapi tiba-tiba Ibu Arya menariknya.
"Jangan Nak, berdiri di sana saja, jangan dekat-dekat Ibu. Ibu bau, sering muntah dan banyak kotoran dimana-mana, beginilah kalau manusia sudah nggak berdaya nak..."
Diara bingung bagaimana harus bersikap.
"Nggak papa Bu, saya sudah biasa sebab Mama saya kemarin juga sakit kanker...", Ucap Diara untuk menenangkan Ibunya Arya.
Diara tetap melangkah menjauh agar Ibunya Arya merasa nyaman.
Ibunya Arya terlihat senang dengan kedatangan Diara. Beberapa saat mereka terus mengobrol. Ibunya Arya sangat bersemangat meski bicara dengan terbata diselingi dengan batuk sesekali. Hingga kemudian Ibunya Arya memuntahkan sesuatu dari mulutnya, cairan kuning yang agak berbau.
"Sebaiknya kamu pulang saja..."
Ucap Arya sambil sibuk membantu Ibunya.
Diara sadar kehadirannya menganggu dan membuat mereka tak nyaman.
"Baiklah, saya pamit dulu, senang bisa bertemu Ibu, semoga lekas kembali sehat..."
__ADS_1
Setelah mengucapkan itu, Diara melangkah pergi.