
Mawar berfikir, mungkin berkunjung ke rumah Mona akan jadi pengalaman yang cukup seru daripada dia langsung pulang ke kontrakan kecilnya dan sendirian disana. Maka dari itu saat Mona menawarkan untuk mampir, tanpa berfikir panjang Mawar langsung menyetujuinya.
"Wah jadi nggak sabar, udah lama lo aku penasaran pengen main ke rumah temen selama kerja di jakarta, eh baru kesampaian sekarang, mau ke rumah Mbak Mona..."
"Bukannya selama ini lo sering boncengam sama Farid, emangnya belum pernah diajak ke rumahnya?"
"Belum Mbak, palingan Mas Farid aja yang nganterin aku pulang, lagian bukannya sering lho Mbak, aku baru beberapa kali aja boncengan sama Mas Faridnya..."
"Yang penting kan udah pernah, gimana rasanya di boncengin sama OB paling ganteng?"
"Biasa aja mbak, sama aja kayak lagi naik ojek, emangnya Mbak Mona belum pernah dibonceng sama Mas Farid?"
"Nggak usah ngeledek deh, gue emang belum pernah dibonceng si Farid, puas lo? Farid emang settingannya aja yang ramah, tapi selama ini dia lempeng-lempeng aja kerja-kerja doang dan tertutup kalau sama cewek-cewek, sampai lo dateng baru deh gue perhatiin dia bisa terbuka sama cewek..."
"Oh gitu ya, saya pikir cowok ganteng kayak Mas Farid biasanya playboy..."
" Kalau playboy mah dasar bawaan aja, banyak juga cowok jelek yang playboy dan nggak tahu diri, tapi setahuku kalau Mas Farid ganteng, ramah, sopan, tapi nggak playboy...."
"Jadi selama ini Mbak Mona sudah naksir sama Mas Farid?"
"Mungkin, sebenarnya lebih ke arah gue mengagumi kepribadian dan karakter dia aja sih War, lo ngertin nggak maksud gue? Gue suka, tapi gue nggak banyak berharap dia bakal naksir balik sama gue. Karena sebenernya gue sadar kalau gue nggak pantas sama dia..."
"Kenapa ngerasa nggak pantas Mbak Mona, Mbak Mona sebenarnya cantik kok kalau nggak jutek, Mbak Mona juga baik hati dan pinter bela diri lagi..."
"Heh, lo sebenarnya muji apa ngejek gue sih?"
"Hehehe, maaf Mbak Mona, aku kelepasan, tapi aku jujur kok..."
"Iya, itu juga sebenarnya yang gue suka dari lo, lo jujur dan berani sama gue, nggak kayak anak-anak lain yang kadang suka manis di depan dan ngomongin gue di belakang!"
"Hahaha, aku nggak nyangka lo Mbak Mona bisa suka sama aku juga..."
"Bukan suka yang begitu juga kali..."
"iya...iya...aku ngerti kok mbak..."
__ADS_1
"Makannya itu gue sirik abis sama lo selama ini, kok bisa sih Farid yang ganteng dan perfect banget begitu bisa jatuh hati sama cewek kampungan kayak lo! Padahal gue yang suka ngasih perhatian dari dulu dia cuekin gitu aja"
"Hahahaha", tawa Mawar akhirnya meledak.
Mawar bukannya tersinggung, tapi justru merasa kata-kata yang diucapkan Mona begitu jujur dan apa adanya. Dan Mawar merasa sangat terhibur dengan obrolan mereka malam itu.
Saking asyiknya mengobrol tanpa terasa mereka sudah hampir sampai di rumah Mona.
"Yuk siap-siap, rumah gue turunnya di halte depan itu, tapi nanti masih jalan sekitar sepuluh menitan, nggak papa kan?"
"Iya mbak nggak papa..."
Mawar lalu mengikuti Mona berdiri dan berjalan ke dekat pintu. Setelah turun, mereka kembali melanjutkan obrolan sambil terus berjalan.
"Rumah gue biasa aja, kecil, masuk-masuk ke dalam gang lagi..."
"Iya Mbak Mona nggak papa, kontrakanku juga kecil kok, kalau kita orang kaya ngapain capek-capek kerja jadi OG...."
"Oh iya...ya lupa gue. Ternyata lo pinter juga! Ngomong-ngomong dijakarta lo tinggal sama siapa?"
"Sendirian aja Mbak..."
"Ya belum mbak, orang-orang disini pada cuek nggak kayak dikampung. Paling cuma tetangga kanan kiri aja cuma sekedar kenal. Dikantor palingan cuma Rosa, Mas Farid, sama Mbak Mona ini..."
"Ooo, hidup di jakarta itu keras lo War, biarpun orang disini cuek-cuek, paling nggak lo harus punya satu temen yang dibisa diandalin..."
"Emang segitunya ya Mbak Mona?"
"Iya, buktinya tadi lo hampir kecopetan kan?"
"Iya juga Mbak..."
"Kalau ada perlu apa-apa mulai sekarang lo bisa hubungi gue, ok?"
"Beneran Mbak? Termasuk kalau ada genteng bocor?"
__ADS_1
"Sialan lo! Lo pikir gue kuli apa? Tapi ternyata lo asyik juga ya buat ngobrol..."
Tanpa terasa mereka terus mengobrol dengan asyiknya hingga tanpa terasa mereka telah sampai di depan rumah Mona. Hal yang baru saja disadari Mawar, bagaimana bisa mereka mengobrol dengan asyik hingga saling bertukar candaan padahal sebelumnya di kantor mereka berdua bagaikan anjing dan kucing.
"Ayo masuk, dirumah cuma ada Bapak sama adik gue, nggak usah sungkan. Mereka mungkin nggak terlalu ramah sama tamu, tapi aslinya mereka baik kok..."
Mawar masuk dan duduk diruang tamu kecil yang hanya beralaskan tikar. Keadaan rumah Mona tidak jauh berbeda dengan kontrakan kecilnya, hanya tentu lebih besar dan terdiri beberapa ruangan. Dari tempatnya duduk, Mawar bisa melihat lelaki paruh baya sedang duduk di atas dipan sambil menonton televisi bersama seorang pemuda yang terlihat berbeda dari pemuda kebanyakan. Ruang tamu dan ruang tengah rumah Mona hanya dibatasi kain gorden tipis dan terbuka separuhnya sehingga Mawar masih bisa melihat situasi di dalam. Tidak lama kemudian Mona datang dengan membawa segelas teh dan perlengkapan P3K.
"Minum dulu, habis itu biar gue obatin luka-lukanya..."
Mawar menyesap teh yang diberikan Mona sedikit demi sedikit. Lumayan untuk menghangatkan tubuh dan menghilangkan dahaganya. Tadi Mawar sempat terkena sabetan belati di lengannya, tapi tidak terlalu dalam. Mona sudah membebatnya dengan kain agar darahnya berhenti mengalir. Tapi tentu saja luka itu harus dirawat dengan cairan antiseptik, lalu diganti dengan perban yang bersih.
Setelah Mawar meletakkan gelasnya, Mona lalu dengan telaten membersihkan dan merawat luka Mawar. Mawar bisa saja langsung pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan lukanya. Tapi dia ingin menghargai tawaran Mona dan lebih dari itu Mawar sebenarnya penasaran dengan kehidupan Mona.
"Aw, pelan-pelan Mbak...",jerit Mawar kesakitan.
"Ah cerewet, lo diem aja, gue udah biasa pegang luka begini doang..."
Mawar akhirnya hanya menggigit bibirnya sambil menahan perih sampai lukanya selesai diobati.
"Makasih banyak y Mbak Mona..."
"Sama-sama, lo tenang aja gue udah biasa ngobatin luka-luka begitu. Bapak gue udah hampir dua tahun kena stroke, cuma bisa tiduran aja, duduk aja harus dibantu, badannya sering lecet karena kebanyakan berbaring, gue selalu obatin lukanya sendiri..."
"Owh..."
Mawar akhinya tahu kenapa Mona punya kotak P3K yang cukup lengkap padahal rumahnya sederhana.
"Kalau yang cowok itu adeknya Mbak Mona ya?", Tanya Mawar penuh rasa ingin tahu.
"Iya itu adek gue, dia agak terbelakang mentalnya, jadi nggak bisa kerja kayak orang normal, tapi sehari-hari dia bisa bantuin gue ngerjain kerjaan rumah tangga yang ringan sama jagain Bapak kalau gue pergi..."
"Jadi selama ini Mbak Mona yang jadi tulang punggung keluarga?"
"Ya bisa di bilang begitu, tapi Bapak juga punya deposito hasil jual tanah dan rumah di desa, bunganya setiap bulan diambil buat nambah-nambah biaya hidup, kalau Ibu sudah lama meninggal..."
__ADS_1
"Oh, aku jadi salut deh sama Mbak Mona...", puji Mawar dengan tulus.
Kali ini Mawar melihat Mona sebagai sosok yang berbeda dan mengagumkan. Ternyata di balik sikapnya yang galak dan sok berkuasa, Mona adalah sosok perempuan kuat yang menjadi tulang punggung keluarga.