
Hati Diara yang sempat menikmati ketenangan kini kembali bergemuruh. Firasatnya mengatakan ada kabar buruk yang sedang menantinya. Hatinya terasa mendung, semendung lagit siang ini yang sedang menumpahkahkan air matanya. Ya, diluar hujan masih turun bahkan semakin deras. Langit siang yang biasanya terang benderang kini diselimuti mendung yang pekat di selingi kilatan petir yang sesekali menyambar.
Dalam perjalanan itu pikiran Diara kembali melayang pada Nyonya Rusmini. Wanita tua yang belum lama dikenalnya, tapi entah bagaimana terasa amat familiar bagi Diara. Wanita yang dalam kondisi tak berdayanya, mampu memberinya pelajaran yang sangat berharga, bahkan menampar dirinya akan kebodohan yang sempat dilakukannya. Wanita tua yang entah bagaimana nyaris dianggap Diara sebagai pengganti Mama. Mungkin karena sedikit persamaan nasib dan persamaan penyakit yang diidap Mama dan Bu Rusmini. Tulus Diara berdoa semoga Bu Rusmini diberikan kekuatan dan kebahagian sampai akhir hidupnya nanti.
Tanpa disadari taksi online yang ditumpanginya sudah sampai di lobby rumah sakit. Diara buru-buru menghapus air matanya yang tanpa sadar membasahi wajahnya. Diara membayar ongkos taksi online, lalu segera turun.
Dengan langkah yang memburu Diara bergegas naik menuju ruang perawatan Bu Rusmini. Sampai di sana, Diara melihat Bu Rusmini sedang berbaring dengan di kelilingi beberapa perawat. Nampaknya mereka kasihan dengan Bu Rusmini yang sebatang kara, jadi memberikan perhatian lebih kepada wanita tua itu.
Beberapa saat Diara hanya berdiri di depan pintu sambil mengamati pemandangan di dalam. Sampai kemudian seorang perawat menyadari kehadirannya dan menghampiri Diara.
"Silahkan masuk Nona, anda kerabat Nonya Rusmini?".
"Iya..."
"Baiklah, Ibu tadi sempat menurun kondisinya, tapi alhamdulillah sekarang sudah kembali stabil...silahkan kalau ingin dijenguk..."
"Baik mbak, terimakasih banyak..."
__ADS_1
Perawat itu memberi tanda pada rekan-rekannya agar keluar. Kemudian Diara masuk mendekat pada Bu Rusmini.
"Kamu datang lagi Diara?"
"Ya Bu, bagaimana keadaan Ibu? Apa yang dirasa?"
"Ibu baik-baik saja, maaf jadi merepotkan kamu..."
"Tidak Bu, saya sama sekali tidak repot..."
"Terimakasih sudah menjenguk Arya dan berinisiatif untuk menelpon Ibu saat di penjara..."
"Ya, Ibu sudah tahu semuanya, mana mungkin Ibu tidak mendengar berita itu? Kamu tenang saja, Ibu baik-baik saja kok. Arya memang pantas mempertanggung jawabkan perbuatannya. Semoga nanti setelah dia keluar, dia bisa jadi manusia yang lebih baik dan bijaksana..."
"Tentu saja Bu, Arya pasti tidak akan mengecewakan Ibu. Makannya Ibu harus sembuh supaya bisa ketemu lagi sampai Arya keluar nanti..."
"Ibu sudah tua Diara, rasanya Ibu sudah lelah...kamu masih muda, cantik, dan baik hati...Ibu doakan semoga kamu sukses dan hidup dengan bahagia...terimakasih banyak kamu sudah sangat baik pada Ibu dan Arya...seandainya nanti kalian bisa bersama, Ibu pasti akan senang sekali..."
__ADS_1
Mendengar itu Diara jadi malu sendiri.
"Maaf Bu, sebenarnya kami tidak terlalu saling mengenal, semua ini hanya kebetulan saja..."
"Ya, tidak apa-apa Ibu sungguh-sungguh berterimakasih karena kamu sudah sangat baik pada kami. Takkan mampu Ibu membalas kebaikanmu Nak..."
Setelah mengatakan itu entah mengapa nafas Bu Rusmini mulai tersengal.
"Ada apa Bu?"
Bu Rusmini sudah tak berdaya dan tak mampu menjawab.
Diara ingin keluar memanggil perawat, tapi Bu Rusmini menahan tangannya. Akhirnya Diara menekan bel untuk memanggil perawat.
Parawat datang, lalu mendekat kepada Bu Rusmini.
"Sepertinya sudah dekat waktunya mbak..."
__ADS_1
Diara lalu membantu Bu Rusmini mengucap dua kakimat syahadat dengan terbata, sebelum kemudian Bu Rusmini benar-benar menghembuskan nafas terakhirnya.
Innalillahi wa inna illaihi rajiun.