Panggil Aku Mawar

Panggil Aku Mawar
Bab 70


__ADS_3

Selepas kepergian Mawar, Farid mencoba menjalani hari-harinya seperti biasa. Farid memilih lebih fokus pada pekerjaannya agar pikirannya bisa teralihkan. Ya, sesekali entah mengapa di benaknya masih terlintas sosok Mawar yang seolah-olah menari untuk menggodanya. Tapi pikiran logisnya masih bekerja, dirinya bukanlah lelaki bodoh yang akan mudah dibutakan cinta. Cinta boleh saja, tapi pikiran realistisnya harus tetap bekerja. Toh hidup tak mungkin kenyang hanya dengan makan cinta.


Farid fokus untuk bekerja dan bekerja dengan sebaik-baiknya. Hingga akhirnya semua orang memandangnya dan mengakui kemampuannya. Hanya dalam waktu tiga bulan saja, Farid akhirnya diangkat sebagi pegawai tetap. Diluar pekerjaannya, Farid menyadari banyak gadis-gadis yang mencoba mendekat dan menarik perhatiannya. Tak bisa di pungkiri, para gadis itu rata-rata memang berparas rupawan. Dengan gaya modis dan polesan make up yang yang membuat wajah mereka selalu segar. Sesekali cuci mata tak ada salahnya bukan? Tapi untuk lebih dari itu, entah mengapa Farid menjadi takut. Menanggapi sedikit saja godaan mereka bisa jadi salah paham. Farid tak ingin memberikan harapan apalagi sampai membuat komitmen. Sebab Farid tahu benar tipe gadis-gadis yang berani mendekatinya adalah tipe gadis agresif yang cukup berbahaya. Mungkin mereka bisa melakukan berbagai cara untuk mencapai keinginannya.


"Gimana Rid, pilih Cintya atau Fiona?"


Tanya Anjar, rekan seprofesinya sambil mengerling ke arah dua gadis yang sedang asyik bergosip di depan mereka. Meski mereka terlihat seperti sahabat yang akrab, tapi diam-diam mereka sedang bersaing memperebutkan hati satu pria yang sama.


"Nggak berani milih gue, pilih salah satu dari mereka kayak buah simalakama, bisa meledak perang dunia!"


"Hahaha, bener juga sih lo, mereka memang cantik, pinter dan mandiri, tapi kayaknya tipe-tipe manja dan maunya selalu menang...wanita itu memang menarik tapi menakutkan ya bro?"


Farid hanya tersenyum menanggapi celoteh rekannya. Anjar sendiri sering curhat tentang pacarnya yang terlalu dominan. Anjar merasa terjebak dalam toxic relationship tapi tak bisa lepas.


Tapi bagi Farid, di luar segala alasan itu, ada satu alasan yang pasti. Sebab hatinya masih terisi dengan satu sosok dan tak mudah untuk terganti. Dan itu membuat gadis-gadis lain selalu terlihat biasa dan membosankan di matanya.


Karena itu Farid memilih untuk hanya fokus bekerja dan bekerja saja.

__ADS_1


Sampai kemudian tiba-tiba saja kondisi Ibunya mendadak drop. Farid yang panik langsung membawa Ibunya ke rumah sakit. Biaya bukan lagi masalah, karena itu Farid meminta segala fasilitas terbaik untuk perawatan Ibunya. Untunglah Ibunya bisa segera sembuh dan kembali sehat seperti sedia kala.


Tapi kemudian Ibunya justru mempunyai sebuah keinginan yang membuat Farid jadi pusing tujuh keliling.


"Farid, kita memang tidak tahu umur seseorang, tapi sakit Ibu kemarin menyadarkan Ibu satu hal. Bisa saja nanti sewaktu-waktu Ibu di panggil. Dan sebelum waktu itu datang, Ibu punya satu keinginan. Ibu ingin kamu segera menikah..."


Farid yang sedang asyik menyantap makan malamnya pun mendadak tersedak.


"Apa maksud Ibu?"


"Ibu ingin kamu segera menikah, apa kurang jelas?"


"Ya kemarin sama sekarang memang sudah beda, lagi pula Ibu suruh kamu menikah bukannya pacaran, kalau pacaran cuma bikin dosa, sedangkan menikah itu ibadah..."


"Tapi Bu, mana bisa Ibu nyuruh aku nikah mendadak begini..."


"Kenapa nggak bisa Farid? Yang suka sama kamu kan banyak, Ibu sering lo dapat kiriman makanan, minuman, sampai bunga buat kamu dari cewek-cewek...kamu tinggal pilih satu yang paling baik buat kamu nikahin...."

__ADS_1


"Mana bisa kayak gitu Bu, arghh..."


Farid menjerit dengan frustasi.


"Ya sudah kalau kamu bingung, biar Ibu aja yang pilihin atau kalau perlu Ibu jodohin aja sama anak teman Ibu yang pinter ngaji..."


Mendengar itu Farid menjadi panik.


"Jangan Bu!"


"Jadi gimana dong? Ibu nggak mau mati sebelum lihat kamu menikah..."


"Ya sudah nanti biar Farid cari calon sendiri, Ibu tunggu aja..."


"Nah, gitu dong baru namanya anak Ibu... tapi jangan lama-lama ya...Ibu tunggu satu minggu kamu harus kenalin calon kamu sama Ibu..."


"Apa??"

__ADS_1


Sebab itulah akhirnya Farid memutuskan untuk menghubungi Mawar dan menyatakan maksudnya.


__ADS_2