
Seperti yang dikatakan Diara, sampai di pantry Mawar segera disambut oleh Farid juga Mona dan Rosa yang nampak mengkhawatirkannya.
"Gila, lo dari mana aja sih dari tadi nggak kelihatan batang hidungnya?", tanya Mona dengan hebohnya.
"Aduh maaf Mbak Mona, tadi aku ketiduran habis bersihin kamar mandi...",
Entah mengapa alasan itu yang langsung terucap oleh Mawar, alasan yang tadi sempat diusulkan Diara.
"Dasar anak udik, nggak elit banget ketiduran di toilet! Untung lo nggak keracunan karbon monoksida!"
"Ya sudah, yang penting kan sekarang Mawarnya sudah ketemu dalam keadaan sehat dan selamat, yuk kita pulang sekarang aja, udah sore juga...",
kata Farid menengahi.
Akhirnya mereka bubar, pulang ke rumah masing-masing. Dan seperti biasa, Farid akan mengantarkan Mawar ke kontrakannya.
Mawar tahu cepat atau lambat hal ini pasti akan terjadi. Ada pertemuan pasti juga akan ada perpisahan. Hanya saja, semua ini diluar perhitungannya. Bahwa dirinya akan masuk terlalu jauh dan terlibat urusan hati di dunia penyamarannya. Padahal sejak awal datang, Mawar sudah membatasi diri untuk tidak bergaul terlalu dekat dengan siapapun.
"Mau mampir makan dulu Mas?", tanya Mawar saat sedang dalam perjalanan.
"Boleh, seperti biasanya. Mau di warung yang kemarin atau kamu mau ke tempat lain?"
"Di mana saja, terserah Mas Farid. Tapi kali ini biar aku yang bayarin ya, gantian...nanti gaji Mas Farid habis kalau traktir aku terus..."
"Hmm, sebenarnya aku habis dapat rezeki tak terduga kemarin-kemarin, jumlahnya cukup banyak, jadi nggak masalah kalau traktir kamu, tapi nggak papa deh kali ini kamu yang traktir..."
"Ok Mas..."
"Kalau makan bakso aja gimana? Aku lagi pengen yang panas dan berkuah..."
"Ya Mas, bakso juga enak kayaknya, aku pengen bakso yang gerobakan pinggir jalan aja ya Mas, biasanya lebih gurih..."
"Iya, lebih gurih dan lebih murah ya Mawar...."
"Hahaha, Mas Farid tahu aja..."
Mereka terus berbincang sambil sesekali tertawa sepanjang perjalanan. Tentu mereka harus berbicara sambil setengah berteriak, karena suara mereka akan tenggelam oleh suara deru laju kendaraan juga hembusan angin. Mawar sesekali memberanikan diri untuk memeluk pinggang Farid dari belakang, meski malu-malu. Mawar ingin sebisa mungkin menikmati kebersamaan ini sebelum nanti akan berakhir dan entah apa yang akan terjadi di depan.
Tanpa terasa mereka sudah sampai, Farid menghentikan sepeda motornya di sebuah warung bakso pinggir jalan yang cukup ramai.
__ADS_1
"Makan disini nggak papa kan? Lumayan enak baksonya..."
"Ya Mas Farid, nggak papa, tapi Mas Farid makan baksonya juga kan? Jangan cuma minum saja..."
"Iya, aku makan baksonya juga, kalau cuma bakso sih cuma camilan buat aku, nanti dirumah bisa lanjut makan nasi lagi..."
Mawar lalu memesan dua bakso dan dua minuman untuk mereka. Mawar lalu memilih tempat duduk lesehan yang agak jauh dari keramaian. Mawar perlu tempat yang agak kondusif untuk bicara empat mata dengan Farid.
Tidak lama berselang, bakso pesanan mereka datang. Masih beruap dan terlihat amat menggugah selera. Apalagi udara malam itu cukup dingin.
"Enak nih kayaknya, Mas Farid tahu aja tempat makan yang enak-enak..."
"Ya tahu dong, kan aku udah lama tinggal disini..."
Mereka lalu sibuk meniup dan menyantap bakso yang masih panas sambil sesekali menyesap minumannya.
Tanpa terasa satu porsi bakso tandas dalam sekejap.
"Mas Farid, sebenarnya ada sesuatu yang mau aku omongin sama Mas Farid...", kata Mawar begitu melihat Farid juga sudah selesai dengan makanannya.
"Ada masalah apa? Ngomong aja Mawar, aku dengerin kok..."
Tapi Mawar justru terlihat ragu-ragu.
"Ada apa? Ngomong aja? Masalah penting ya? Mau pinjam uang?"
"Hahaha,.."
Pertanyaan terakhir Farid justru membuat Mawar terkekeh dan melumerkan kebekuan diantara mereka.
"Mas Farid lucu juga, memangnya aku kelihatan kayak orang susah banget ya sampai harus pinjam uang segala?"
"Hahaha, bercanda aja kok, ayo buruan ngomong, jangan bikin aku penasaran!"
"Kayaknya dalam waktu dekat aku mau berhenti kerja di GAYA.Corp Mas Farid.."
"Loh kenapa? Apa nggak sayang, zaman sekarang cari pekerjaan susah loh Mawar..."
"Aku mau balik ke kampung Mas Farid..."
__ADS_1
"Loh kenapa, katanya di kampung sudah tidak ada keluarga dekatmu?"
"Iya, tapi disana masih ada rumah, sawah, juga makam keluargaku Mas, kemarin salah satu tetangga menelpon, kalau rumah dan sawah orang tuaku di desa terbengkalai, isi rumah sudah diambil orang, tembok dan kayu mulai berjamur dan halaman mulai ditumbuhi tanaman liar, sawah juga begitu Mas...Setidaknya aku mau mengurusnya dulu, mencari orang yang bisa dititipi juga mengurus surat-suratnya, kalau terlambat diurus nanti bisa susah katanya Mas, kan lumayan bisa buat bekal aku hidup..."
Jelas Mawar panjang lebar. Mawar tak sepenuhnya berdusta. Di kampung memang masih ada rumah, sawah, dan harta peninggalan orang tuanya, tapi bukan itu alasan yang sebenarnya.
Sementara Farid terlihat terkejut mendengar penjelasan itu. Hal yang sama sekali tidak disangkanya. Tapi Farid juga maklum, sama seperti dirinya, Mawar pasti juga punya masalah yang disimpannya.
"Berapa lama kamu akan mengurusnya? Apa setelah itu kamu akan kembali kesini lagi? Apa kamu mau bekerja di GAYA.Corp lagi? Apa kita masih bisa bertemu lagi?"
"Mas Farid banyak banget tanyanya, aku saja belum ada rencana buat hidup aku kedepannya Mas. Semua masih abu-abu Mas. Yah, aku jalani saja apa yang ada dulu. Selanjutnya di pikir nanti..."
"Jadi apa karena alasan ini kamu tidak mau ada ikatan diantara kita?"
Mawar hanya diam, tidak menemukan jawaban yang tepat.
"Boleh aku tanya sesuatu?"
"Boleh, tanya saja, kalau bisa akan ku jawab, kalau sulit aku nyerah aja deh..."
"Hehehe, sebenarnya apa kamu ada cowok lain selain aku? Apa jangan-jangan di kampung kamu mau menikah lagi?"
Entah mengapa pertanyaan konyol itu tiba-tiba muncul dibenak Farid.
"Hahaha, nggak ada Mas Farid, emangnya siapa yang mau sama aku begini?"
Mendengar itu Farid jadi lega.
"Kamu jangan suka merendahkan diri sendiri Mawar, nggak selamanya orang harus memandang fisik, buat aku kamu adalah perempuan yang berani, baik hati, juga menyenangkan...dan menurutku itu lebih dari kecantikan fisik yang semu..."
Mawar berdesir mendengar itu. Pujian yang terasa tulus dan menggetarkan hatinya. Pujian yang baru pertama di dengarnya. Bukan sebagai Jelita yang punya segalanya. Tapi sebagai Mawar yang apa adanya.
Mawar hanya diam tertegun, tak mampu berkata.
"Eh, kok malah bengong sih!", tegur Farid yang gemas dengan reaksi Mawar.
"Aku terharu Mas Farid, belum pernah ada orang yang memujiku seperti itu!", aku Mawar dengan jujur.
"Mawar, aku pengen serius sama kamu...sendainya aku melamarmu sekarang, apa kamu bersedia kembali lagi ke kota ini buat aku?"
__ADS_1
Mawar kembali tertegun. Tidak siap dengan kejutan bertubi-tubi yang keluar dari mulut Farid. Mawar pikir semula Farid yang akan terkejut dengan keputusannya untuk pergi, tapi ternyata dia salah. Dialah yang lebih banyak terkejut oleh kata-kata Farid.