
Jelita memejamkan mata dan berusaha berteriak sekuat tenaga. Nafasnya terasa sesak, hingga akhirnya dia terbangun dengan peluh mengucur deras di wajahnya.
"Astaghfirullahalladzim..."
Jelita mengucap istighfar berkali-kali dan sangat bersyukur bahwa kejadian tadi hanyalah mimpi. Mimpi yang sangat buruk yang entah mengapa menghantuinya.
Sudah cukup larut saat dia pulang diantar oleh Farid. Jelita takut untuk naik taksi online sendirian. Sementara untuk menghubungi Pak Bin, Jelita tidak ingin menganggu waktunya dengan keluarga sedang keperluannya tidak mendesak. Bagi Jelita tidak masalah tinggal di kamar kontrakan kecil itu. Dulu bahkan Jelita pernah menjalani kehidupan yang lebih sederhana dari ini. Tapi entah mengapa, malam itu Jelita malah bermimpi buruk. Jelita hanya berharap itu hanyalah mimpi biasa dan tak akan terjadi apapun di kehidupan nyatanya.
Flash back.
Jelita mengingatnya sebagai saat-saat paling menyenangkan dalam hidupnya. Berada di puncak karir dengan pencapaian gemilang. Hidup bergelimang harta, dikelilingi orang-orang yang baik padanya, juga punya kekasih yang tampan dan baik hati. Kebahagian Jelita semakin sempurna saat sang kekasih melamarnya dan mereka segera sibuk dengan berbagai persiapan pernikahan yang akan digelar dengan megah. Tapi pada akhirnya, semua kebahagian yang sudah di depan mata hancur dengan seketika.
Hari itu seharusnya Jelita sudah terbang ke London untuk menghadiri sebuah ajang fashion show international. Tapi tiba-tiba Jelita mendapatkan telepon dari keluarganya dan mendapat kabar kalau Ayahnya yang sudah lama mengidap diabetes kondisinya drop dan sedang berada di ruang ICU. Mendengar kabar itu Jelita pun langsung memutuskan untuk membatalkan jadwalnya, meski untuk itu dia harus menerima sejumlah sanksi dan konsekuensi dari pembatalan yang dilakukannya dengan sepihak.
Pikiran Jelita kalut saat itu, ingin rasanya segera pulang ke kampung halamannya. Tapi karena masih ada beberapa urusan yang harus diselesaikan, Jelita terpaksa menunda kepulangannya sampai esok hari. Malam itu Jelita menghubungi Arya Anggara, kekasih sekaligus calon suaminya untuk menitipkan beberapa keperluan sebelum dirinya pulang. Tapi entah mengapa berkali-kali menghubungi sang kekasih, panggilan dan pesannya tak mendapatkan respon sama sekali.
Jelita lalu nekat mendatangi sang kekasih di apartemennya. Jelita dan Arya sudah sangat dekat dan mengunjungi apartement satu sama lain sudah jadi hal biasa. Bahkan Arya tak keberatan memberikan kartu akses apartemennya kepada Jelita sebagai bentuk kepercayaan pada kekasihnya itu. Maka malam itu, karena panggilannya tak kunjung di jawab, Jelita masuk ke apartement dengan menggunakan kartu aksesnya.
Suasana apartemen terlihat sepi. Jelita mengira kekasihnya sedang tidur. Tapi semakin langkahnya mendekat ke kamar, Jelita bisa mendengar suara percakapan. Suara seorang lelaki yang sangat di kenalnya dengan seorang wanita yang entah siapa. Jelita urung mengetuk pintu kamar dan memilih berdiri di depan pintu sambil mencuri dengar percakapan dua insan di balik pintu itu. Tentu Jelita sudah mencium ada sesuatu yang tidak beres dan instingnya sebagai perempuan tahu kalau Arya telah mengkhianatinya. Hatinya amat pedih, tapi susah payah Jelita meredam emosinya, menahan amarahnya agar tidak meledak sambil mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Jadi sampai kapan kamu akan memperlakukanku seperti ini? Seperti simpanan yang harus terus bersembunyi...", suara wanita itu terdengar manja.
__ADS_1
"Sabar sayang, sampai aku mendapatkan semuanya. Lagi pula ini kan untuk dirimu juga sayang..."
Itu jelas suara Arya. Jelita sangat mengenalinya.
"Ah...ouch...pelan-pelan sayang..."
Terdengar suara ******* diantara percakapan dua sedjoli di dalam.
"Tapi sebentar lagi kau akan menikahinya bukan?"
"Tentu saja, aku harus menikahinya untuk bisa menguasai semuanya..."
"Bagaimana kalau nanti kamu jatuh cinta padanya? Mana aku tahu apa yang kalian lakukan di belakangku..."
"Ah...sudah sayang...aku lelah..."
"Ayolah sayang, sekali lagi, kita habiskan malam ini berdua selagi dia terbang ke lain benua..."
"Ah sayang, kau ini....aku sudah memberikan segalanya, berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku..."
"Tentu sayang, mana sanggup aku meninggalkanmu, dirimu semanis madu, menyesapmu membuat darahku panas dan aku selalu ingin lagi dan lagi..."
__ADS_1
Jelita merasa hancur. Air mata tak bisa ditahannya untuk jatuh meluncur. Tidak, Jelita tidak sebodoh itu untuk masuk dan menyaksikan pemandangan yang akan mengotori mata sucinya. Rekaman itu cukup menjadi bukti kebusukan sang kekasih.
Jelita tak ingin membuang waktu dan segera pulang ke apartmennya. Dirinya harus beristirahat dan mempersiapkan diri untuk perjalanan esok hari. Sebagai gantinya keseokan harinya pagi-pagi sekali Jelita menyempatkan diri bertemu asistennya, Diara. Jelita menceritakan secara singkat kejadian semalam. Jelita lalu minta tolong pada Diara agar menyewa mata-mata profesional untuk menyelidiki masalah ini lebih dalam. Satu orang kepercayaannya sudah diperintahkan untuk merekam perempuan yang akan keluar dari apartement Arya pagi ini. Selanjutnya mereka harus mencari tahu semua asal usul wanita ****** itu. Kartu akses apartemen Arya sudah dititipkan pada Diara. Jelita ingin orang suruhannya bisa masuk saat Arya tidak berada ditempat dan memasang kamera tersembunyi untuk merekam aktifitas Arya bersama jalangnya selama Jelita pergi. Jelita akan mengumpulkan banyak bukti sebagai senjatanya jika Arya berani mengelak atau berani berbuat macam-macam padanya nanti. Setelah selesai mengurus masalah kekasih brengs*knya barulah Jelita pulang dengan tenang ke kampung halamannya.
Saat hampir tiba di rumahnya entah mengapa perasaan Jelita menjadi tidak enak. Firasat buruknya semakin jelas saat Jelita melihat halaman rumahnya sudah berdiri tenda dan dipenuhi orang-orang yang berkerumun. Saat langkahnya semakin dekat Jelita bisa mendengar para tetangga memanggil namanya. Adapula bisik-bisik yang terdengar membicarakan dirinya. Tapi pikiran Jelita sedang kalut dan tidak fokus. Jelita terlalu takut untuk menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi. Sampai kemudian Melati, adiknya datang menghampirinya dan langsung memeluknya dengan erat sekali.
"Akhirnya mbak datang juga, ayo masuk mbak..."
Melati terlihat tersenyum, tapi Jelita bisa menangkap wajah sembab adiknya yang pasti habis menangis.
"Melati, dimana Bapak? Bagaimana keadaan Bapak?"
"Masuk dulu mbak, kita bicara di dalam saja..."
Jelita menurut dan mengikuti adiknya masuk ke rumah. Tidak ada keluarganya di dalam rumah. Hanya adiknya yang kemudian mengajaknya langsung masuk ke kamar.
"Bapak sudah tidak sakit lagi mbak, sudah tenang kembali kepada Gusti sang Pencipta, kita doakan Bapak ya mbak...sekarang Ibu masih dirumah sakit untuk mengurus kepulangan jenazah Bapak, sementara aku disuruh pulang untuk mengurus persiapan dirumah..."
"Innalillahi wa innalillahi raji'un..."
Setelah mengucap itu Jelita langsung pingsan tak sadarkan diri.
__ADS_1
Dari kemarin sebenarnya Jelita sudah merasa tidak terlalu sehat. Tapi banyak hal yang harus dikerjakannya. Rasa lelah yang menumpuk di tambah beban pikiran sebab pengkhianan sang kekasih membuat kepalanya terasa sakit saat dalam perjalannya kerumah. Jelita mengkonsumsi obat dan berusaha tidur sepanjang perjalanan. Tapi kemudian saat mendengar kabar duka, Jelita tak kuat lagi. Bukan kepergian Ayahnya yang membuatnya sedih, sebab umur manusia sudah digariskan Tuhan. Tapi Jelita menyesal tidak sempat bertemu sang Ayah bahkan disaat-saat terakhir hidupnya.