
Begitulah akhirnya Mawar dan Farid kembali berteman dekat meski tanpa ikatan. Semua dijalani seperti air yang mengalir dan keduanya pun menikmatinya. Dan tentu kedekatan diantara dua insan berbeda kasta itu menarik perhatian dan menjadi gosip hangat di seantero kantor. Apalagi belakangan sosok Farid, yang meski hanya berstatus sebagai pegawai magang cukup menarik perhatian.
"Cie..cie...yang mendadak femes jadi bahan gosip dikantor...", ledek Mona kepada Mawar.
"Apaan sih mbak..", sahut Mawar pura-pura kesal.
"Nggak usah pura-pura bego deh, jadi sekarang lo beneran udah sah jadian sama si Farid?"
"Siapa yang jadian Mbak Mona? Kita cuman temenan aja kok, sama seperti sebelumnya..."
"Temen macam apa, yang tiap hari nganterin lo pulang dan tiap jam istirahat nyamperin lo buat makan siang bareng? Jangan munafik deh, lo kira gue anak kecil yang bisa dikibulin? Yah, meskipun dimulut kalian bilang nggak pacaran, tapi interaksi diantara kalian berdua menunjukkan sebaliknya, dan semua orang pasti bisa ngelihat itu juga, ngerti?"
"Ya udah, terus apa masalahnya Mbak Mona?"
"Masalahnya semua cewek di kantor ini sekarang pada julid sama lo, bahkan ada yang bilang kalau lo pake pelet segala!"
"Kalau masalahnya cuma itu, ya biarin aja deh Mbak, aku udah kebal, udah biasa ngadepin Mbak Mona yang dulu suka julid, nanti juga mereka juga capek dan berhenti sendiri kok..."
" Sialan lo! Gue cuman nggak mau aja kalau nanti mental lo jadi terganggu gara-gara jadi bahan bullyan..."
"Oh co cwiit, Mbak Mona perhatian banget sih...aku jadi terharu deh...tapi tenang aja, aku nggak selemah itu kok Mbak, buktinya aku bisa tahan berteman sama Mbak Mona yang super julid, he..."
"Terserah deh apa kata lo, udah sana balik kerja lagi!"
"Ya Mbak..."
Begitulah Mawar akhirnya memilih menghadapi dengan santai tentang kehebohan yang terjadi disekelilingnya. Mawar tidak mau bersikap munafik lagi dengan menghindari Farid, meskipun dia juga belum siap dengan status yang mengikat
Jadi yang dilakukan Mawar sekarang hanyalah menjalani apa yang ada didepan mata, mengikuti kata hatinya, dan menikmati hari-harinya tanpa perduli dengan apa kata orang.
__ADS_1
Merasa lelah dengan pekerjaannya, Mawar lalu mencuri waktu untuk pergi ke ruangan Diara. Tempat yang paling tepat untuk merebahkan tubuhnya sejenak. Begitu pikirnya.
Tapi begitu disana dirinya justru disambut dengan rentetan pertanyaan yang membuat kepalanya pusing.
"Je...je, serius lo udah go public sama mantan OB ganteng itu?", seru Diara dengan hebohnya.
Gagal sudah niatnya mencari ketenangan dan beristirahat di ruangan Diara.
"Apaan sih Di, lo kayak si Mona aja heboh banget urusan begituan"
"Haha, gue seneng deh Je, kalau lo udah bisa move on dan menemukan cinta yang baru, tapi gue juga khawatir sama nasib percintaan lo ke depannya, mengingat posisi lo saat ini kan lagi dalam penyamaran, bakalan ribet nggak sih?"
"Iya Di, gue juga tahu. Itu juga yang tadinya bikin gue pengen mundur aja. Tapi ternyata gue cemburu banget waktu lihat Farid di deketin cewek lain, so menurut lo gue harus gimana?"
"Pelan-pelan Je, sabar. Saran gue secepatnya lo harus beresin masalah perusahaan dulu, sesuai misi lo di awal. Kita beresin Gunawan, Arya, dan semua antek-anteknya. Setelah itu baru lo fokus bucin-bucinan sama Mas Farid lo itu..."
"Tapi Di, gue juga belum yakin sepenuhnya, apa iya Farid beneran cinta sejati atau sekedar fatamorgana kaya Arya dulu..."
"Aduh Di, mana sempet, double job jadi OB dan CEO aja udah ribet, mau tambah-tambahin konsul psikiater segala!"
"Heh, markonah! Kerjaan CEO lo kan banyakan gue yang handle, lo tinggal maen tunjuk aja, enak aja lo ngaku-ngaku double job!"
"Eh iya...iya Di, bukan gitu maksud gue. Cuman kayaknya gue nggak separah itu buat konsul ke psikiater. Lagi pula waktu gue kayaknya terlalu berharga dihabiskan buat curhat ke orang asing, mendingan curhat sama lo aja, lebih nyaman dan terpercaya!"
"Yaudah terserah lo aja deh, pokoknya segera beresin dulu tuh Gunawan dan antek-anteknya!"
"Siap Bos!"
Diara meninggalkan Jelita seorang diri di ruangannya yang nyaman. Tapi bukannya merasa senang, Jelita malah jadi tambah banyak pikiran karena hal-hal yang dibicarakan dengan Diara barusan.
__ADS_1
Jadi, apa yang harus dilakukannya sekarang?
Membereskan masalah perusahaan, berarti dia harus kembali menjadi Jelita yang memiliki jabatan dan kekuasaan. Tapi menjadi Jelita berarti juga dirinya harus kembali menjalani kehidupan yang membosankan, penuh tekanan, dan juga penuh kepalsuan. Kenapa rasanya Jelita justru merasa berat untuk meninggalkan profesinya sebagai OG. Bukan berat meninggalkan pekerjaannya, tapi Jelita merasa berat jika harus meninggalkan dunia Mawar yang sederhana dan mengasyikkan, juga berat rasanya untuk meninggalkan rekan-rekan yang baru saja dekat dengannya. Dan juga, bagaimana hubungannya dengan Farid nanti? Bagaimana mereka harus kembali berpisah dan apa yang harus di jelaskannya kepada Farid nanti?
Kenapa semua jadi terasa semakin membingungkan.
Jelita merasa lelah dan merebahkan tubuhnya di sofa yang nyaman di ruangan Jelita. Tanpa disadari dirinya perlahan sudah pindah ke alam mimpi.
Hingga kemudian Diara kembali ke ruangannya dan mengusik kedamaian Jelita yang rasanya baru sesaat dinikmatinya.
"Je...je...bangun Je...sialan lo malah molor disini lagi! Tuh rekan-rekan OG lo pada heboh nyari lo yang katanya menghilang di telan bumi. Takut kalau lo disantet sama saingan cinta lo alias fans-fansnya si Farid. Ah lo nggak solider sama gue Je! Gue kerja keras bagai kuda, lo malah enak-enakan molor!"
Jelita berusaha membuka kelopak matanya yang terasa berat.
Suara mantra apa yang baru saja lewat merapal panjang seperti kereta api.
Jelita tak bisa mencerna maksudnya, tapi tahu benar siapa pemilik kalimat omelan panjang itu.
"Ah Diara, resek banget sih lo, gue molor sebentar aja udah lo gangguin!"
"Sebentar gimana Jelita, ini bahkan udah jam pulang kantor! Dan pangeran tampan tak berkuda lo udah nyariin lo di pantry? Lagian lo tidur atau pingsan sih?"
"Hah? Masak sih Di udah sore aja? Padahal kayaknya baru sebentar deh gue menikmati mimpi indah?"
"Udah sana buruan pergi, jangan sampai ada yang curiga. Bilang aja lo ketiduran di kamar mandi! Biar sekalian aja lo di pecat sama Bu Lastri, jadi nggak usah susah-susah cari alasan buat resign nanti!"
"Wah ide bagus tuh Di, bisa deh gue pakai nanti, ya udah gue pamit dulu Di, udah nggak sabar pulang bareng ayang ganteng. Pak Bin udah gue suruh jemput lo di lobby. Kasihan juga kalau Pak Bin gabut nggak ada kerjaan."
"Sialan lo Je, tapi makasih lho gue jadi nggak perlu bayar buat taksi online.."
__ADS_1
Jelita segera keluar dari ruangan Diara, berubah menjadi Mawar untuk menemui pangeran tak berkuda yang sudah menunggunya untuk pulang bersama.