
Sejak mendengar kabar bahwa Mamanya Diara sakit, Jelita berjanji akan segera menjenguknya. Tapi apalah daya, pekerjaan seolah tak henti-hentinya menahannya dan menyita waktunya. Ketidakhadiran Diara di kantor, di tambah pemulihan perusahan akibat ulah Gunawan, membuat pekerjaan Jelita menjadi berlipat-lipat. Belum lagi masalah kasus hukum Gunawan juga Arya yang mau tidak mau juga menyita perhatiannya. Jadilah tanpa sengaja, Jelita selalu menunda untuk menjenguk Mama Diara.
Hingga akhirnya, pada siang itu pada jam makan siang, Jelita akhirnya meluangkan waktunya untuk pergi ke rumah sakit dimana Mama Diara dirawat. Tapi ternyata, petugas yang berjaga mengatakan bahwa Nyonya Diana, mama Diara sudah pulang sejak tadi.
Jelita pun akhirnya memutuskan untuk pergi menjenguk ke rumah Diara. Jelita sama sekali tidak menyangka, bahwa setibanya disana dirinya malah disambut dengan gelaran tenda dan kursi-kursi yang berjajar, juga bendera putih yang merupakan suatu pertanda.
Innalillahi wa inna ilaihi raji un.
Serasa deja vu. Pikiran Jelita melayang pada peristiwa kematian kedua orang tuanya, lalu disusul dengan berita kematian adiknya. Jelita sadar, betapa manusia sebenarnya hanya sedang menunggu giliran untuk menghadapNya.
__ADS_1
Jelita menguatkan langkahnya yang sempat goyah, lalu berjalan masuk mencari Diara untuk menyampaikan duka cita nya.
Jelita menemukan keberadaan Diara diantara keluarganya. Jelita pun menghampiri mereka, lalu menyalami semua sambil mengucapkan rasa belasungkawa. Semua keluarga Diara menyambutnya dengan ramah meski tergambar jelas kesedihan di wajah mereka. Kecuali Diara yang hanya menjabat tangannya sekedarnya lalu berpaling meninggalkannya. Saat itulah Jelita baru sadar, dirinya telah melakukan sebuah kesalahan besar. Dirinya tidak memberikan dukungan apapun dan tidak berada disamping Diara, di saat sahabatnya itu menghadapi musibah. Padahal selama ini Diara adalah salah satu orang yang selalu berada disisinya bahkan memiliki peran yang sangat penting dalam kemajuan perusahaannya.
Jelita tak perduli lagi pada urusan kantor juga telepon yang bertubi-tubi masuk ke handponenya. Saat ini Jelita ingin fokus berada di tempat itu meski Diara tak lagi memperdulikannya. Sebab bagi Jelita, Mama Diara bukanlah orang lain. Mama Diara sangat peduli padanya disaat tahu dirinya telah sebatang kara. Mama Diara pernah bilang kalau dirinya boleh datang kapan saja kerumahnya. Dan boleh menganggap seperti Ibunya sendiri kalau Jelita mau.
Jelita tetap berada disana bersama Pak Bin, duduk menunggu dengan para pelayat lain yang datang silih berganti.
Hingga tiba waktunya, jenazah akan dibawa menuju pemakaman. Jelita bersama Pak Bin mengikuti iring-iringan mobil jenazah itu di belakang.
__ADS_1
Jelita mengikuti semua prosesi pemakaman dengan khusyuk. Dari tempatnya berdiri Jelita bisa melihat betapa Diara sangat terpukul dengan kepergian Mamanya.
Sampai kemudian prosesi pemakaman telah berakhir, dan satu persatu pelayat pergi meninggalkan area pemakaman, hingga menyisakan keluarga inti saja. Lalu kemudian Papa diara pergi terlebih dahulu. Lalu menyusul keluarga Kak Tomi dengan anak-anaknya yang mulai menangis. Hingga tinggalah Diara duduk bersimpuh seorang diri di depan tanah makam Mamanya yang masih basah.
Jelita melangkah mendekat, memberanikan diri bersimpuh di samping sahabatnya itu. Jelita ikut merapalkan doa-doa untuk Mama Diara. Saat Jelita menoleh ke samping, pandangannya bertemu dengan tatapan Diara. Jelita pun lantas memeluk sahabatnya itu.
"Maafin gue ya Di, gue belum sempat jenguk Mama lo kemaren..."
Tidak ada jawaban dari Diara. Tapi tangisnya kemudian pecah di pelukan Jelita. Diara menangis hingga terisak meluapkan rasa kesedihan dan kehilangannya akan kepergian sang Mama.
__ADS_1