
Je...je, sesuai instruksi lo hari ini babang ganteng lo bakal came back ke kantor jadi anak magang di divisi IT, smaangaad!!!!! Jangan galau-galau lagi ya...
Jelita baru saja membuka mata dan langsung membaca pesan itu saat membuka ponselnya. Dasar Diara! Anak itu seolah tahu apa yang menjadi isi hatinya.
Thanks Di, info itu berguna banget buat hidup gue!
Balas Jelita dengan kalimat sindiran. Jelita lalu bergegas mandi, lalu membuat sarapan alakadar nya, dan segera berganti pakaian dengan baju kebesarannya. Seragam OG.
Setelah semua beres Jelita yang sudah menjelma menjadi Mawar berjalan cepat menuju lobby apartemen dimana Pak Bin dengan setia menunggunya.
"Berangkat Non?"
"Yoi Pak Bin!"
Mobilpun segera meluncur dan membaur dengan padatnya lalu lintas ibukota. Di dalam mobil, Mawar sibuk mengunyah sanwich telor kornet mayo-nya sambil satu tangannya memeriksa email di ponselnya. Mawar membacanya satu persatu dengan kening berkerut. Gunawan masih terus melancarkan aksinya menggerogoti perusahaan dari dalam, sementara tak satupun bukti mengarah pada keterlibatan Arya. Jelita tentu harus mengambil langkah cepat. Menyelamatkan perusahaan jelas adalah prioritasnya. Meski begitu Jelita masih ingin menghukum Arya seberat-beratnya karena rasa sakit hatinya.
"Sudah sampai Non..."
Kalimat Pak Bin membuyarkan lamunan Jelita. Jelita memasukkan ponselnya dan membereskan sisa makanannya sebelum keluar dari mobil dan berubah menjadi Mawar.
Mawar berjalan memasuki gerbang dan melintasi halaman gedung yang cukup luas. Tidak lama berselang, sebuah sepeda motor lewat mendahului langkahnya. Suara sepeda motor yang sangat dia kenal dan dia rindukan. Jadi dia benar-benar sudah kembali. Mawar jadi tidak sabar untuk mulai bekerja. Mungkin nanti dia bisa pura-pura membersihkan ruangan IT. Sebuah rencana licik muncul di kepalanya. Tapi apa mungkin dia masih punya keberanian untuk muncul di depan Farid setelah semua yang terjadi? Entahlah.
"Pagi Mbak Mona...", Sapa Mawar begitu sampai di pantry dan melihat Mona duduk di sana.
"Pagi Mawar..."
Beberapa pasang mata menoleh ke arah mereka dengan tanda tanya besar di kepala. Sejak kapan Mona bisa ramah pada Mawar yang selalu dianggap kampungan?
Bahkan setelah itu Mawar menghampiri Mona dan tanpa ragu duduk disampingnya, lalu mereka terlibat obrolan yang cukup hangat.
__ADS_1
"Eh tahu nggak? Tadi pagi gue kayaknya kok lihat Farid di gedung ini ya?", Tanya Mona sedikit ragu.
"Padahal kan dia udah resign, tapi gue yakin kalau itu Farid..."
"Masak sih mbak, Mbak Mona salah lihat kali?",
"Gue yakin kok, itu pasti Farid! Tapi dia bukan pakai seragam OB kayak biasanya?"
"Terus pakek apa donk Mb? Yang jelas masih pakai baju kan?", goda Mawar setengah bercanda.
"Iya, pakai baju putih item gitu, kayak kostumnya anak magang...apa mungkin sekarang dia magang disini? Dengar-dengar dia kan anak kuliahan gitu War?"
"Eh Mbak Mona, gimana kalau kita taruhan aja, kalau Mas Farid beneran kerja disini lagi dan kita bisa ketemu Mas Farid hari ini, aku kasih Mbak Mona uang lima ratus ribu, tapi kalau sebaliknya Mbak Mona yang bayar ke aku?"
"Wah...wah banyak juga limaratus ribu? Beneran nih? Nanti lo nyesel lho? Soalnya gue yakin banget kalau itu memang Mas Farid!"
"Yakin Mbak, lagian Mbak Mona ini ada-ada saja, Mbak Mona ngimpi kali, gara-gara terlalu kangen sama Mas Farid?"
"Ok, deal..."
Yang tidak Mona tahu, Mawar sengaja mengajaknya bertaruh agar bisa sedikit meringankan beban keuangan keluarganya walau hanya sedikit.
Dan begitulah akhirnya, di sela-sela waktu kerjanya, Mona bersama Mawar sesekali mencuri waktu untuk mencari keberadaan Farid.
Mawar menuruti saja Mona yang mengajaknya berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain sambil pura-pura membersihkan debu atau mengantar makanan. Meski sebenarnya Mawar tahu kalau Farid ditempatkan di divisi IT.
Pencarian mereka ternyata nihil. Entah mengapa meskipun telah berkeliling ke semua bagian, tapi mereka belum juga melihat Farid.
"Waduh, kok bisa nggak ada sih, apa gue salah lihat ya? Tapi gue yakin kok itu pasti si Farid...", keluh Mona, bertanya pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Mendengar itu Mawar hanya tersenyum simpul.
"Sabar Mbak Mona, kantor ini kan lumayan luas, siapa tahu Mas Faridnya ngumpet di toilet atau dimana gitu...lagian kalau kata Mbak Mona Mas Farid pakai hitam putih dan masih pegawai magang, mungkin saja kan jam kerja nya tidak full seperti kita..."
"Iya juga sih, tapi gimana nasib taruhan kita? Kalau hari ini Farid nggak ketemu berarti gue kalah dan musti bayar ke lo kan? Aduh mana duit gue udah menipis lagi buat nebus obat bapak kemaren..."
Mendengar keluhan Mona, Mawar jadi merasa bersalah.
"Tenang, gimana kalau kita panjangin batas waktunya sampai satu minggu, biar lebih valid. Siapa tahu kan kita nggak ketemu Mas Farid hari ini, tapi baru besok ketemunya..."
"Setuju!"
"Yuk Mbak Mona balik kerja dulu, nggak mungkin kan seharian kita cuma nyariin Mas Farid sementara pekerjaan kita jadi terbengkalai begini..."
"Iya juga sih, ah gara-gara elo sih ngajakin taruhan, nanti kalau kena tegor Bu Lastri bisa habis gue..."
Dan akhirnya sejenak mereka melupakan pencarian Farid dan kembali bekerja.
Yang tidak mereka tahu, dari tadi orang yang mereka cari sedang mengamati diam-diam.
Lama tidak ke kantor GAYA.Corp membuat Farid merasakan kerinduan. Bagaimanapun GAYA.Corp adalah tempat yang menampungnya disaat kondisinya sedang terjepit. Jadi saat waktu kerjanya luang, Farid ingin sedikit bernostalgia dengan suasana 'mantan' tempat kerjanya alias pantry. Juga mungkin Farid ingin membuat kopinya sendiri daripada menyuruh OB yang tidak lain adalah mantan rekan kerjanya.
Tapi langkahnya terhenti saat samar-samar Farid mendengar suara dua orang perempuan yang sedang mengobrol disana. Suara seorang perempuan yang masih sangat dikenalinya dan ternyata juga masih mampu menggetarkan hatinya.
Awalnya Farid merasa, saat masuk lagi ke GAYA.Corp sebagai karyawan magang divisi IT, mungkin dirinya bisa sedikit berbangga saat bertemu Mawar. Farid ingin menunjukkan bahwa sekarang posisinya bukan lagi OB, seperti saat di tolaknya dulu. Tapi entah mengapa saat melihat kembali Mawar di depan matanya, seketika kepercayaan dirinya runtuh. Harga dirinya kembali tercabik. Bagaimana bisa gadis dengan penampilan kampungan dan jabatan OG malah berani menolaknya.
Farid pun urung untuk menyapa.
Meski begitu, diam-diam Farid masih sempat mengamati beberapa saat saat Mawar berbincang akrab dengan Mona. Hal yang sebenarnya sedikit mustahil tapi benar-benar terjadi. Dan entah mengapa melihat itu Farid merasa lega. Tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Mawar bukanlah gadis lemah yang perlu dibelanya.
__ADS_1
Sedang dirinya mungkin memang hanyalah lelaki tak berguna yang tak dibutuhkan Mawar.