Panggil Aku Mawar

Panggil Aku Mawar
Bab 49


__ADS_3

"Aw!", Diara memekik menahan sakit.


Kepalanya membentur sesuatu yang keras. Diara mengusap keningnya dan merasakan sesuatu yang basah. Diara melihat cairan merah berpindah ke telapak tangannya. Keningnya berdarah karena terbentur ujung lantai yang keras.


"Hahaha...",


Diara mendengar suara tawa dengan nada mengejek.


Diara menoleh ke arah sumber suara dan mendapati seorang pria dengan wajah yang cukup familiar sedang berdiri sambil menatapnya.


"Ngapain lo disini?"


"Bukan urusan lo kenapa gue disini. Semua orang boleh ada disini tanpa minta izin sama lo!"


"Kalau gitu nggak seharusnya juga lo ikut campur urusan gue!"


Lelaki itulah yang tadi menarik tangan Diara dengan kasar hingga kepala Diara membentur ujung lantai dan berdarah. Tapi tentunya luka itu tidaklah seberapa dibandingkan jika tubuh Diara benar-benar melayang ke bawah.


"Hahaha cewek cemen kayak lo mau sok-sok an bundir? Kalau mau mati jangan bikin repot orang! Atau sebenernya lo cuma pengen viral dan jadi berita dimana-mana?"

__ADS_1


"Heh! Nggak usah ikut campur kalau lo nggak tahu apa-apa soal masalah gue!"


"Buat apa gue ikut campur masalah lo? Masalah gue aja udah ribet! Jadi lo ngerasa masalah lo paling berat sedunia, sampai-sampai lo mau bundir disini?"


Diara makin kesal dengan laki-laki sok tahu yang ada di depan matanya.


Diara kembali melangkah ke ujung gedung dan berdiri dengan satu kaki menggantung di udara. Diara tidak terima rencana yang sudah disusunnya dengan begitu matang digagalkan oleh seorang pria asing yang tak ada hubungan apapun dengan dirinya.


Tapi saat akan menjatuhkan diri, sebuah tangan kekar kembali menarik tubuhnya.


"Lo ngeyel banget ya dibilangin!"


Sentak pria itu dengan kesal.


"Jangan menodai tempat ini dengan perbuatan bodoh lo! Ini tempat nongkrong favorite gue!"


"Sejak kapan rooftop rumah sakit jadi tempat nongkrong favorit lo?"


"Sejak nyokap gue dirawat disini sebulan yang lalu!"

__ADS_1


Emosi Diara sedikit mereda saat mendengar bahwa Ibu pria itu sedang sakit disini. Diara teringat pada Mamanya yang beberapa hari yang lalu juga masih berjuang disini.


"Sakit apa Nyokap lo?", tanya Diara dengan nada bicara yang lebih normal.


"Kanker.."


Mendengar itu membuat Diara semakin terdiam karena teringat pada Mamanya.


"Ini rumah sakit, tempat orang-orang yang sakit untuk berobat. Bahkan banyak orang-orang dengan sakit yang cukup parah sedang berjuang untuk tetap bertahan hidup. Sedangkan lo, dengan nggak tahu dirinya malah milih bundir di tempat seperti ini. Apa lo nggak mikir akibat tindakan lo itu buat orang lain?"


Diara baru sadar dengan apa yang dilakukannya. Bagaimana dia terus mengulang kebodohan yang sama. Hanya memikirkan dirinya sendiri, tanpa memikirkan orang lain. Ya, Diara merasa dirinya sangat egois dan kekanak-kanakkan.


"Sorry...", ucap Diara akhirnya, saat tersadar dari kebodohannya sendiri.


"Tenangin diri lo!", ucap Arya sambil mengangsurkan sebotol air mineral.


Ya, laki-laki itu adalah Arya, mantan kekasih Jelita. Sebagai asisten yang mengurus hampir semua keperluan Jelita, tentu Diara juga mengenal Arya, walau tidak terlalu peduli dan mereka tidak dekat.


"Gue emang nggak tahu apa masalah lo, tapi menurut gue bunuh diri bukan solusi untuk masalah seberat apapun. Sorry kalau lo anggap gue sok tahu atau ikut campur urusan lo!"

__ADS_1


Diara hanya bisa tertunduk sambil meratapi nasibnya. Dia lalu teringat Arya yang sedang menghadapi kasus video porno yang melibatkannya sebagai pemeran utama. Entah apakah Arya tahu atau tidak bahwa jelita lah dalang di balik semua ini. Padahal di waktu yang bersamaan, Ibunya sedang sakit keras dan pastinya membutuhkan kehadiran Arya.


Satu hal yang baru saja disadari Diara. Semua orang pasti sedang berperang dengan masalahnya masing-masing. Dan dirinya bukanlah satu-satunya yang paling menderita.


__ADS_2