
"Mas Farid serius?"
Entah mengapa justru pertanyaan itu yang terkontar dari bibirnya.
"Emangnya aku terlihat seperti sedang bercanda?", Farid balik bertanya.
Mawar diam sesaat.
"Apa keseriusan aku kurang meyakinkan buat kamu? Apa di mata kamu selama ini aku hanya main-main?", Farid kembali bertanya sambil menatap Mawar lekat-lekat, seolah menantang sekaligus menuntut sebuah jawaban.
"Bukan begitu Mas Farid, buatku ini terlalu tiba-tiba dan mengejutkan, seperti mimpi di siang bolong, ada laki-laki ganteng dan baik hati kayak Mas Farid yang melamar aku...", jelas Mawar dengan jujur.
Mawar kira selama ini hubungannya dengan Farid hanyalah hubungan percintaan anak muda biasa. Sekedar berbagi cerita dan menghabiskan waktu bersama. Sama sekali belum terlintas di benaknya tentang rencana masa depan berdua. Apalagi sebelumnya Jelita alias Mawar masih menyimpan trauma akan kandasnya kisah asmara.
"Sekarang kamu tahu kalau ini nyata dan aku sungguh-sungguh punya niat baik sama kamu, untuk masa depan kita, jadi bagaimana jawabanmu? Aku bisa ngerti kalau kamu perlu waktu. Aku harap sebelum kamu pergi kamu bisa ngasih jawaban yang kuharapkan..."
"Aku akan jawab sekarang Mas Farid..."
Tiba-tiba Mawar menemukan keberanian. Sebab mengulur waktu untuk sebuah jawaban yang mengecewakan bukanlah pilihan yang bijak.
"Aku sendiri belum tahu apa rencana dan bagaimana nasib aku kedepannya Mas. Maaf, bukannya aku menolak Mas Farid, sebab kehadiran Mas Farid di hidupku adalah keberuntungan yang langka. Tapi aku juga tidak mau membebani dan terbebani dengan janji yang belum pasti. Aku hanya akan menyerahkan semuanya pada takdir. Kalau ada jodoh pasti kita akan bertemu lagi nanti..."
Farid hanya bisa tertunduk lemah. Bagaimana bisa dia ditolak dua kali oleh gadis yang sama. Gadis yang bahkan tetap dia cintai dengan segala kekurangan dan kekurangajarannya karena telah berani menolaknya. Tapi kali ini Farid tidak ingin menjadi lelaki pengecut yang lari dan menghindar sepertu sebelumnya. Kali ini Farid memutuskan untuk menerima penolakan ini dengan lapang dada. Dan seperti kata Mawar, dia juga akan menyerahkan nasib percintaannya pada takdir. Entah takdir seperti apa yang akan menunggunya di depan.
__ADS_1
"Ok, aku terima kalau memang itu jawabannya, aku doakan selalu untuk kebaikanmu. Apa kita masih bisa berteman setelah ini? Sekedar bertukar kabar dan sesekali bertukar cerita. Dan kalau tidak keberatan beritahu aku kalau seandainya nanti kamu kembali ke kota ini. Siapa tahu kita masih bisa bertemu lagi?"
"Tentu saja Mas Farid, mas Farid itu sahabat terbaikku, bahkan satu-satunya sahabat laki-laki yang aku punya. Aku harap kita masih bisa berteman. Tapi kalau nanti Mas Farid menemukan perempuan lain yang tepat di hati, jangan ragu-ragu. Kasih tahu aku juga. Aku akan senang kalau Mas Farid bahagia..."
Tanpa terasa acara makan malam yang biasa telah berubah jadi mengharu biru. Padahal perpisahan yang sesungguhnya belum juga tiba.
Beberapa saat mereka saling diam hingga hanya keheningan yang mengisi udara.
"Makannya udah atau mau tambah lagi?"
Tanya Farid memecah keheningan.
"Sudah Mas Farid, ayo kita pulang saja, nggak enak juga kelamaan duduk disini..."
"Yuk..."
"Pokoknya selama sisa waktu kamu di jakarta, harus pulang sama aku terus ya?"
"Ya Mas Farid, lagi pula masih banyak waktu kok, aku baru mau ajuin surat pengunduran diri besok. Dan Mas Farid adalah orang pertama yang aku kasih tahu..."
"Ya, makasih banyak, setidaknya aku masih merasa jadi orang spesial kamu selama kamu disini.."
Tanpa sadar ternyata malam sudah cukup larut. Farid langsung pamit begitu sampai mengantarkan Mawar ke kontrakannya. Di rumah Ibunya mungkin khawatir menunggunya pulang.
__ADS_1
Sudah hampir satu bulan sejak Farid mulai pekerjaan barunya sebagai pegawai magang. Waktunya cukup fleksibel. Tapi Farid memilih meluangkan waktu kuliah di pagi hari dan bekerja di sisa waktunya. Tidak terasa berat sebab Farid menjalaninya dengan senang hati. Apalagi sejak hari-harinya dihiasi kebersamaan kembali dengan Mawar. Jika tidak ada halangan dalam waktu kurang dari enam bulan kuliahnya akan selesai. Dan jika pekerjaannya selama magang cukup memuaskan, maka Farid akan diangkat sebagai pegawai kontrak dengan gaji yang cukup lumayan. Karena itulah Farid punya keberania untuk melamar Mawar. Tapi sayang harapan tak sesuai dengan kenyataan. Apalah daya jika rencananya tak bisa terlaksana.
Di jalan Farid akhirnya menyempatkan membeli satu kotak martabak manis untuk Ibunya. Semoga saja bisa meluluhkan hati ibunya yang mungkin kesal karena dirinya pulang terlambat. Tapi begitu sampai dirumah ternyata suasana sudah sepi. Tak ada omelan ibunda yang menyambutnya pulang dari bekerja. Ternyata Ibunya sudah lelap tertidur di kamarnya. Meninggalkan rupa-rupa hidangan yang masih tetmrtata rapi di meja makan.
Farid mendekat dan mengecup kening Ibunya dengan sayang.
"Makasih banyak bu, maaf kalau Farid belum bisa bahagiain Ibu....Ibu sehat-sehat biar bisa lihat Farid nikah lalu gendong cucu....jangan tinggalan Farid kalau Farid masih sendiri ya Bu..."
Lirih Farid berujar di telinga Ibunya. Harapan sederhana yang tumbuh dari dalam hatinya.
"Hmmm..."
Gumaman tak jelas keluar dari mulut Ibunya seolah menjadi jawaban.
Farid lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Martabak disimpannya di kulkas agar bisa disantap Ibunya esok hari. Sedang Farid memilih menyantap nasi dan gulai kambing yang terhidang di meja. Selesai makan tak lupa Farid memanaskan gulai yang tersisa agar bisa dimakan esok hari.
Barulah setelah itu Farid masuk ke kamarnya, bersiap untuk tidur. Tapi entah mengapa matanya tak kunjung bisa terpejam. Ingatan tentang Mawar dan perpisahan yang mungkin segera tiba kembali menganggu benaknya.
Tak ingin dilanda gundah yang tak jelas, Farid memilih mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat.
Entah mengapa belakangan Farid juga masih kepikiran tentang hutang-hutangnya yang mendadak lunas. Farid sangat penasaran dengan sosok malaikat penolong keluarganya itu.
Setiap usai sholat Farid selalu menyempatkan diri untuk berdoa, mendoakan kebaikan dan keselamatan bagi siapapun orang yang telah membantu kesulitan keluarganya itu. Jika boleh, Farid juga memohon untuk diberi petunjuk, agar bisa bertemu dan berterimakasih secara langsung pada orang tersebut.
__ADS_1
Sebenarnya Farid bukan orang yang akan dengan mudah menerima bantuan. Harga dirinya cukup tinggi dan Farid sebenarnya merasa masih mampu untuk mengusahakannya sendiri. Apalagi sekarang dia sudah punya bekerjaan yang lebih baik dan sebentar lagi kuliahnya pun akan selesai.
Diam-diam Farid masih menyisihkan sejumlah uang untuk mencicil hutang seperti sebelumnya. Jika suatu saat diizinkan bertemu, Farid tetap ingin mengembalikannya dan berterimakasih. Tapi kalaupun tidak, mungkin Farid ingin menggunakan uang itu untuk menolong orang lain, sebagaimana dirinya ditolong saat kesusahan.