Panggil Aku Mawar

Panggil Aku Mawar
Bab 73


__ADS_3

Setelah selesai memyampaikan maksudnya, Farid lansung berpamitan untuk pulang. Jelita berbasa-basi menawari Farid untuk tinggal sejenak sekedar untui jalan-jalan. Tapi Farid menolak dengan alasan tidak tenang meninggalkan Ibunya dirumah sendirian.


Sepeninggal Farid, Jelita lalu masuk ke dalam dan langsung disambut oleh ledekan Diara.


"Cie...cie..yang habis di lamar? Gimana rasanya Je? kayak ada manis-manisnya gitu ya?"


Jelita menimpuk wajah Diara dengan bantal.


"Sialan, lo nguping ya?"


"Bukan gue yang nguping, lo nya aja yang ngobrolnya kedengeran..."


"Ye, sama aja..."


"Ya beda donk!"


Jelita kemudian mencomot keripik kentang yang sedang dimakan Diara sambil menonton televisi.


"Jadi gimana Je, lo bakalan terima lamarannya kan?"


Jelita menggeleng.


"Gue bingung Di..."

__ADS_1


"Kenapa bingung?"


"Yang jelas gue harus jujur dulu sama dia sebelum melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius, nggak mungkin kan gue nikah pakai identitas palsu gue sebagai Mawar?"


"Ya emang harus gitu, tapi lo serius mau nerima cowok biasa kayak Farid? bagaimanapun juga kalian ada di level yang berbeda, walaupun gue tahu lo nggak mempermasalahkan kasta, tapi kedepannya bakal banyak masalah yanh bakal lo hadapi..."


"Buat gue yang terpenting dia tulus dan bisa nerima kekurangan gue, itu aja udah cukup, menikah sama siapapun atau nggak menikah sekalipun hidup bakal tetap ada masalah. Gue cuma mau jujur dan setelah itu, gue cuma pengen tahu gimana reaksi dia..."


"Yoi Je, gue doain semua yang terbaik buat lo, semoga saja dia nggak insecure setelah tahu siapa lo sebenarnya..."


Setelah itu, Jelita dan Diara memutuskan tetap tinggal dikampung halaman Jelita sampai beberapa hari. Disana Jelita mengajak Diara mengunjungi berbagai tempat wisata seperti pantai dan air terjun. Memang tempat wisata yang mereka kunjungi bukanlah tempat wisata populer di pulau eksotis atau keluar negeri. Tempat wisata yang mereka kunjungi hanyalah tempat wisata biasa yang pengunjungnya hanya warga sekitar dan harga tiketnya pun sangat murah. Tapi ternyata kegiatan healing ala kadarnya itu justru meninggalkan kesan yang mendalam bagi Jelita.


Jelita memperhatikan wajah orang-orang yang sedang berbahagia menikmati liburan mereka. Senyum sepasang suami istri yang sedang berbahagia saat mengajak anak-anak mereka liburan meskipun mereka hanya sekedar melihat pemandangan air terjun dan menyantap bekal alakadarnya yang dibawa dari rumah. Tiba-tiba Jelita teringat akan masa kecilnya. Seperti itulah hidupnya dulu, semua cukup meski serba terbatas. Dan banyak hal seserhana yang bisa membuatnya bahagia, sekedar makan lebih enak dari biasanya atau pergi ke tempat wisata murah seperti ini. Dan kemudian, Jelita teringat kepada Farid. Jika nanti mereka bertemu, Jelita ingin bercerita bahwa kehidupan seperti inilah yang diinginkannya setelah menikah nanti.


Diara menegur Jelita yang sejak tadi sibuk dengan pikirannya sendiri sementara Diara sibuk berselfie ria.


"Nggak lah Di, gue cuma lagi mengkhayal aja..."


"Serah lo deh...btw tolong fotoin gue ya, nggak asyik nih kalau cuma selfie..."


"Ok deh..."


Jelita mengambil beberapa gambar sesuai instruksi Diara. Setelah puas berfoto dan menikmati pemandangan mereka lalu jajan di salah satu kedai yang menjual aneka makanan. Jelita dan Diara memesan dua mie cup dan dua cangkir kopi sachet yang diseduh hangat. Makanan sederhana itupun terasa nikmat disantap di tengah udara sejuk dan pemandangan yang indah.

__ADS_1


"Bagus juga ya Je tempat-temoat wisata di kampung lo! Nyesel gue baru sekarang ikut lo pulang kampung!"


"Iya, gue juga baru sadar kalau disini ada tempat wisata yang bagus dan masih alami. Yah meski fasilitasnya masih terbatas sih. Terkadang kita suka cari yang jauh-jauh, padahal yang deket juga ada dan nggak kalah bagus..."


"Hehe, makasih ya Je udah ajak gue kesini, gue jadi betah lama-lama disini..."


"Jangan lama-lama juga donk, gue kan harus balik kerja, kecuali kalau lo mau gue tinggal sendirian disini..."


"Iya...iya tahu deh yang udah nggak sabar ketemu sama calon suami..."


"Gue jadi geli denger lo ngomong begitu, belum fix Di calon suaminya..."


"Hahaha..."


"Balik yuk, udah sore nih, bentar lagi gelap..."


"Yaudah yuk..."


Begitulah mereka berdua menghabiskan waktu di kampung halaman Jelita sebelum nanti, Jelita kembali menjalani rutinitas dikantornya dan Diara mulai membangun bisnis barunya.


Setelah puas selama seminggu menghabiskan waktu di kampung halaman Jelita, akhirnya mereka kembali ke ibu kota.


Tak ingin mengulur waktu, di hari pertama masuk kantor Jelita ingin langsung bertemu dan berbicara dengan Farid.

__ADS_1


Jelita menyuruh asisten barunya untuk memanggil Farid secara pribadi dan masuk ke ruangan dimana Jelita sudah menunggu. Inilah saatnya Jelita menunjukkan jati dirinya yang sesungguhnya.


__ADS_2