
Diara memilih mengabaikan apa yang baru saja di dengarnya. Meskipun ada rasa curiga, Diara tidak ingin menduga-duga dan memenuhi pikirannya dengan hal-hal yang tidak penting. Diara lalu melanjutkan langkahnya masuk ke ruang perawatan dimana Mama masih tergolek lemah tak sadarkan diri.
Diara duduk di samping Mamanya dan mencoba mengajak Mamanya bercakap-cakap meskipun hanya satu arah. Digengamnya tangan Mamanya yang terasa dingin, lalu diciumnya dengan lembut.
"Mama, ini Diara Ma...Diara datang pengen ngobrol sama Mama..maafin Diara belum bisa bawa calon mantu buat Mama...Maafin Diara suka kabur-kaburan dari rumah dan udah bikin Mama khawatir....Mama boleh omelin Diara sepuasnya, Diara emang anak yang nggak berbakti.....Mama bangun Ma...Diara pengen Denger omelan Mama...Diara janji nggak akan kabur-kaburan lagi, Diara bakalan khusuk dengerin semua nasehat Mama..."
Tanpa sadar air mata telah luruh menggenangi wajah Diara. Diara mengulurkan tangannya dan membelai wajah Mamanya yang mulai dihiasi keriput. Ditatapnya dalam-dalam wajah wanita yang telah melahirkannya itu. Masih terlihat jelas sisa-sisa kecantikan masa mudanya di balik kerutan itu. Kecantikan yang diwariskan kepada puteri kesayangannya yang kini tengah tumbuh mekar bagai bunga.
"Mama..mama nggak bosen kan dengerin Diara cerita? Diara masih pengen cerita banyak sama Mama...Mama lagi tidur ya? Jangan lama-lama ya tidurnya, Diara janji bakalan nungguin sampai Mama bangun. Diara nggak akan pergi kemana-mana...nanti kalau Mama udah bangun Diara bakal ngajakin Mama jalan-jalan ke tempat yang bagus..Mama mau kan jalan-jalan sama Diara?"
Diara terus bicara dan bicara, meski tahu tidak akan mendapatkan jawaban apapun. Tapi setidaknya Diara ingin melepas rindu dan ingin membuktikan bahwa dia akan tetap berada di sisi Mamanya.
Diara terus berada di sana dan tanpa sadar dirinya terkantuk-kantuk hingga jatuh tertidur. Dalam tidurnya Diara bermimpi kembali ke masa kecilnya, dimana dirinya sedang diayun-ayun di gendongan Mamanya. Terasa begitu nyaman dan menentramkan. Lalu kemudian Diara merasakan ada sesuatu menyentuh pipinya. Dan kemudian suara benda jatuh mengagetkannya. Diara pun terbangun dari tidurnya karena terkejut. Ternyata ponsel di sakunya jatuh ke lantai. Diara mengusap matanya dan melihat le bawah untuk mencari ponselnya. Tapi bersamaan dengan itu, mata Diara melihat tangan Mamanya bergerak-gerak.
Diara pun segera menekan bel untuk memanggil perawat.
Selama menunggu perawat datang, Diara melihat Mamanya tersenyum menatapnya. Entah apa yang ingin dikatakan Mamanya, mulutnya terlihat bergerak-gerak tanpa suara.
__ADS_1
"Diara disini Ma, Mama tenang aja, Diara nggak akan pergi-pergi lagi asalkan Mama sembuh...Diara bakalan temenin Mama terus..."
Mama mengangguk dan tersenyum.
Tidak berselang lama dokter datang bersama dua orang perawat.
"Nona, tolong tunggu di luar sebentar, kami akan memeriksa kondisi Ibu anda terlebih dahulu..."
"Baik dok..."
Diara pun keluar dan menunggu di luar sesuai dengan instruksi dokter.
"Bagaimana dok kondisi Mama saya?", Diara bertanya dengan tidak sabar.
"Ibu anda sudah melewati masa kritis, kami akan terus memantau kondisinya, jika nanti kondisinya terus membaik kami akan memindahkannya ke ruang rawat dan kita berdiskusi untuk teraphy kankernya...Ibu anda masih harus banyak istirahat, jangan bergerak atau bicara terlalu banyak, juga tolong jaga agar pikirannya tidak terbebani..."
"Baik dok, saya akan menjaganya sebaik mungkin, terimakasih banyak dok..."
__ADS_1
Diara merasa lega. Selang beberapa saat, Tomi datang menghampiri Diara.
"Gimana Mama Di?"
"Mama udah sadar Kak, kata dokter masa kritisnya udah lewat tapi masih perlu banyak istirahat..."
"Alhamdulillahirrabilalamin..."
Ucap Tomi dengan amat lega.
"Oh, ya Papa udah datang kesini belum?"
"Tadi habis dari cafetaria aku ketemu Papa sebentar, tapi Papa langsung pamit pergi, katanya masih ada urusan tapi sampai sekarang belum kesini lagi..."
"Di, apa kamu nggak ngerasa ada sesuatu yang aneh sama Papa?"
"Maksud Kakak aneh gimana?"
__ADS_1
"Gue pernah mergokin Papa jalan sama cewek muda..."
Diara terkejut mendengar cerita Tomi, tapi kemudian Diara ingat percakapan Papa via telepon yang di dengarnya tadi pagi. Mungkinkah...? Diara cepat-cepat mengusir pikiran buruk dalam benaknya.