Panggil Aku Mawar

Panggil Aku Mawar
Bab 18


__ADS_3

Pagi itu seperti biasa Mawar datang dengan diantar Pak Bin, tapi Mawar meminta turun jauh dari area kantor agar tidak ada orang yang melihatnya. Seperti biasa pula Mawar berjalan dengan tergesa-gesa melintasi halaman gedung yang cukup luas karena takut terlambat. Saat sedang berjalan Mawar melihat sebuah sepeda motor berjalan pelan mendahuluinya. Mawar tahu benar siapa pengendara di balik helm fullface itu, yang biasanya selalu berhenti untuk menawarinya tumpangan, tapi sekarang menyapa-pun dia tak sudi. Mawar menatap punggung lelaki itu yang berjalan menjauh hingga menghilang diparkiran yang berada di basement gedung dengan perasaan sedih. Betapa dalam sekejap hubungan persahabatan mereka yang dulu begitu hangat berubah menjadi dingin. Salah siapa? Salah Farid yang nekat mengungkapkan perasaan atau salah dirinya yang dengan lancang menolak hingga mempermalukan Farid di depan umum? Entahlah. Nasi sudah menjadi bubur. Waktu yang telah bergulir tak bisa diputar dan diulang lagi. Mawar berjalan sambil melamun hingga tanpa sadar di lobby gedung dia menabrak seseorang.


"Heh, kalau jalan pakai mata donk!", sembur wanita yang ditabraknya.


"Eh, selamat pagi Mbak Mona, maaf saya ngalamun, jadi nggak konsen jalannya?", jelas Mawar dengan jujur.


"Ngalamunin siapa pagi-pagi begini? Ngapain lo mandangin cowok yang udah lo tolak sampai segitunya? Nyesel? Dasar belagu! Emang lo aja yang nggak pantas buat dia, bukan sebaliknya!", omel Mona panjang lebar.


Sementara Mawar hanya tertunduk pasrah mendengar omelan seniornya demi sopan santun. Bukan tak berani melawan, tapi Mawar sadar kali ini memang salahnya dan dia sedang tidak ingin berdebat. Saat Mona sedang mengomel, seorang lelaki yang menjadi bahan ghibah Mona terlihat berjalan ke arah mereka. Farid hanya berjalan lurus dengan ekspresi dingin dan datar, melintas diantara dua perempuan yang mungkin sedang bertengkar. Farid tidak ingin ambil peduli dengan keduanya, tapi kemudian Mona menyapanya, sengaja mencari perhatian dan ingin menjatuhkan lawannya


.


"Selamat pagi Mas Farid yang ganteng...sendirian aja Mas?", tanya Mona berbasa-basi sambil mengikuti langkahnya dan berjalan disampingnya.


"Iya datang sendirian seperti biasa, memangnya mau sama siapa?"


Meski tanpa minat, Farid akhirnya meladeni Mona, hingga akhirnya mereka terlibat obrolan ringan sambil berjalan menuju pantry. Sementara di belakang mereka Mawar mengekor seperti anak ayam yang kehilangan induknya.


Begitulah Farid menjalani sisa hari-harinya di GAYA.Corp. Dirinya yang dulu dikenal sebagai sosok yang supel dan ceria berubah menjadi sosok yang pendiam dan dingin. Farid hanya akan bicara seperlunya dan tidak ingin menghiraukan orang-orang yang mungkin telah membicarakannya di belakang, menertawakan dan mungkin mengejek kebodohannya. Jadi begini ya rasanya patah hati? Tanya Farid pada diri sendiri. Sebab sebelumnya dirinya belum pernah merasakan ditolak seorang wanita. Rasanya semua berubah menjadi hampa dan dirinya tak lagi punya gairah untuk hidup.


Farid tidak membenci Mawar, tapi dia merasa canggung dan malu, hingga lebih memilih untuk menghindari gadis yang telah mengisi hatinya itu. Dia sesekali menyadari jika Mawar mencuri-curi pandang ke arahnya. Entah apa yang ada dipikiran gadis itu, Farid tidak ingin mencari tahu. Farid memutuskan mengajukan surat pengunduran diri, satu bulan sebelum masa kontraknya berakhir. Hal itu dilakukannya karena masa perkuliahan akan dimulai dalam waktu satu bulan ke depan. Untunglah GAYA.Corp tidak memberlakukan sistem pinalty yang merugikan karyawan rendahan seperti dirinya. Meski belum mendapat jawaban kalau surat pengunduran dirinya diterima, tapi Farid yakin dia akan segera keluar dari GAYA.Corp. Office boy dan office girl di HAYA.Corp jumlahnya cukup banyak, mencari pengganti dirinya pun tidak susah. Jadi untuk apa menahan karyawan rendahan seperti dirinya?


Farid mengerjakan semua tugasnya hari itu sebagai OB meski tanpa gairah. Jam pulang kantor menjadi waktu yang amat ditunggunya, untuk segera pulang dan beristirahat dirumah sambil bercengkrama dengan Ibunda tercinta. Teman bisa pergi, kekasih hati bisa mengecewakan, tapi hubungan darah takkan berakhir walau apapun masalah yang terjadi. Karena itulah Farid sangat takut kehilangan Ibunya. Satu-satunya keluarga dan orang paling berharga yang dia punya dalam hidupnya saat ini.


Begitu jam kerja berakhir Farid langsung mengemasi barang-barangnya, lalu turun ke parkiran dan segera memacu sepeda motornya pulang kerumah. Sampai dirumah, begitu membuka pintu Farid langsung disambut dengan aroma masakan yang sangat menggoda.


"Assalamualaikum Bu..."


"Walaikum salam...", Jawab Ibunya dari dapur.

__ADS_1


Farid langsung menghampiri Ibunya yang sedang berdiri di depan kompor dan memeluknya dari belakang.


"Masak apakah gerangan Ibunda tercinta? Kenapa aromanya sungguh menggoda..."


Farid bicara tanpa melepaskan pelukannya.


"Gombal, kerasukan apa kamu sampai ngomong begitu sama emak-emak?", Jawab Ibunya sambil berusaha melepaskan pelukan Farid.


"Sekali-kali gombalin Ibu sendiri boleh dong?"


"Kamu lagi patah hati ya?", tembak ibunya langsung tepat sasaran.


"Ah Ibuk kalau nebak suka bener..."


"Jadi siapa cewek yang udah bikin kamu patah hati, sini kasih tahu Ibu!"


"Nggak usahlah Bu, orang udah kandas ngapain juga diomongin!"


"Siap Bos!"


Farid masuk ke kamarnya untuk menaruh barang-barangnya juga mengambil pakaian. Lalu bergegas untuk mandi sesuai perintah Ibunya. Sedikit bercanda dengan sang Ibu ternyata bisa memperbaiki suasana hatinya yang sedang buruk.


Selesai mandi Farid langsung duduk di depan meja makan, tak sabar untuk menyantap makanan yang terlihat menggiurkan. Menu sederhana, tapi nikmatnya tiada tara. Sayur asem, ikan asin, dan sambal trasi spesial buatan Ibunya.


"Makan yang banyak Rid, orang patah hati butuh banyak tenaga..."


"Hah? Tenaga buat ngapain Bu?"


"Tenaga buat nglupain mantan, hahahaha"

__ADS_1


Ibunya tertawa dengan leluconnya sendiri. Sementara Farid malah sibuk menyuap makanan kemulutnya.


"Garing ya candaan Ibu?"


"Lucu kok Bu, cuma masakan Ibu lebih menarik..."


"Oya, Ibu ada kabar baik buat kamu..."


"Kabar baik apa Bu? Tumben-tumbenan..."


"Siapin mental kamu baik-baik, kamu pasti bakal terkejut mendengarnya...."


"Ah Ibu, ada-ada aja, apaan emangnya?", tanya Farid dengan penasaran.


"Tadi ada orang datang kerumah kita, ngasih uang banyak banget sama Ibu, katanya buat nglunasin hutang-hutang kita!"


"Hah? Yang bener Bu?"


"Tuh kan kamu kaget!"


"Bukannya gitu Bu, emangnya Ibu nggak curiga? Zaman sekarang mana ada orang ngasih uang banyak dengan cuma-cuma?"


"Iya juga sih.. tadi Ibu udah nolak-nolak, tapi orangnya maksa. Katanya dia berani jamin kalau uang itu halal dan dermawan yang mengutus mereka nggak ada pamrih apa-apa, ikhlas lahir batin..."


"Terus Ibu nggak tahu siapa orang yang ngasih uang sebanyak itu ke kita?"


"Mereka bilang cuma orang suruhan, dan orang yang nyuruh mereka nggak mau identitasnya diketahui, tapi Ibu udah titip bilang makasih banyak-banyak..."


"Ya udahlah kalau begitu Bu, semoga itu emang rezeki kita dan nggak akan ada masalah kedepannya..."

__ADS_1


"Iya rid, Ibu cuma bisa bersyukur dan berdoa, masih merasa ini kayak mimpi..."


Mereka lalu melanjutkan makan, meski di dalam hati masih menyimpan rasa penasaran. Sedangkan bagi Farid, masalah ini sedikit banyak justru bisa menjadi pengalih perhatian dari kesedihannya akibat patah hati.


__ADS_2