Panggil Aku Mawar

Panggil Aku Mawar
Bab 13


__ADS_3

Jelita berangkat bersama Diara dengan diantar Pak Bin. Tapi tentu Jelita telah mengenakan kostum kebesarannya sebagai Mawar dan turun jauh sebelum area kantor. Bisa gawat kalau rekan sejawatnya ada yang melihatnya datang dengan diantar mobil mewah.


Mawar berjalan cepat menuju gedung kantornya. Sudah hampir jam delapan saat dia datang. Mawar harus bergegas kalau tidak ingin terlambat lagi. Namun tiba-tiba saat sedang berjalan dengan terengah-engah, sebuah suara klakson mengagetkannya dan tidak lama kemudian sebuah sepeda motor berhenti di depannya.


"Ayo naik, aku antar sampai ke lobby...", Tawar


seorang pria sambil mengangkat kaca helmnya.


"Eh Mas Farid, nggak usah mas, nanti ada yang lihat lagi..."


"Emang kenapa kalau ada yang lihat? Nggak masalah kan? Kamu pasti capek sampek keringetan begitu? Ayo naik, udah hampir telat ini nanti kita dimarahi..."


Akhirnya Mawar menurut untuk naik. Farid menurunkan Mawar di lobby lalu langsung meluncur meninggalkan Mawar untuk memarkirkan sepeda motornya. Saat turun dari sepeda motor, Mawar melihat Mona mengamatinya dengan pandangan sinisnya yang khas.


"Eh ada Mbak Mona, selamat pagi Mbak...", sapa Mawar dengan ramah.


Tapi Mona hanya mengabaikannya dan segera berlalu pergi. Mawar menyadari ada yang berbeda dengan sikap Mona sejak kejadian kemarin. Mawar tidak mau berlarut memikirkannya dan segera menyibukkan diri dengan tugas-tugasnya.


Saat jam istirahat tiba, Mawar mengajak Rosa makan siang bersama di pantry dengan bekal yang dibawanya. Tadi pagi Diara memasak banyak dan memaksanya membawa bekal dengan porsi double. Menunya adalah masakan rumahan yang cukup sederhana. Oseng tempe dan telur dadar.


"Jangan protes, menunya menyesuaikan peran lo sebagai orang susah...", begitu seloroh Diara.


"Makasih Di, ini juga enak banget kok..."


Diara memang berbakat dalam masak-memasak. Apapun makanan yang dimasaknya selalu enak, mungkin karena hal itu juga bisnis kuliner yang dirintisnya dulu laku keras.


Saat sedang menikmati makan siangnya bersama Rosa, Mona datang bersama dua temannya dengan membawa bungkusan makanan. Seperti biasa Mawar berinisiatif menyapanya.


"Eh, Mbak Mona...sini makan bareng kita...aku bawa banyak kalau Mbak Mona mau..."


"Makasih, tapi gue udah punya makanan sendiri! Tumben lo makan disini? Biasanya ini tempat makan gue dan nggak ada yang berani ganggu teritori gue. Dan sekarang berani-beraninya lo makan disini tanpa izin gue!"


Ternyata Mona sudah kembali seperti semula, begitu batin Mawar. Tentu Mawar sudah bersiap menjawab, tapi kemudian seseorang datang membelanya.


"Ini tempat umum kok, siapa saja boleh makan disini..."


Semua orang langsung menoleh ke arah sumber suara.

__ADS_1


"Eh Mas Farid, nggak papa kok, aku udah mau selesai makannya, biar gantian sama Mbak Mona...", jawab Mawar pura-pura lugu.


Mendengar itu Mona hanya menatap dengan pandangan jijik, lalu berlalu dari sana tanpa mengucap satu patah katapun.


"Boleh aku gabung?", Tanya Farid begitu Mona berlalu.


"Boleh dong Mas, kan Mas Farid sendiri yang bilang semua orang boleh pakai tempat ini..."


Farid segera duduk dan membuka bekal makanannya. Farid sesekali memang membawa bekal makanan buatan Ibunya. Biar lebih irit, begitu alasan Ibunya.


"Mbak Mawar, Mas Farid, aku duluan ya..mau ke kamar mandi...", Rosa segera berpamitan setelah menghabiskan makanannya.


Rosa tentu juga mendengar gosip tentang rekan OG nya itu. Jadi Rosa memilih pergi dari pada menganggu dua orang yang sedang saling jatuh cinta.


Beberapa saat mereka mengobrol ringan sambil menyantap makan siang bersama. Mawar yang selesai lebih dulu berpamitan karena mau lanjut bekerja, tapi Farid tiba-tiba menahan tangannya.


"Tunggu!"


"Ada apa Mas?"


"Nanti boleh aku antar kamu pulang? Ada sesuatu yang mau aku bicarakan sama kamu..."


"Ya Mas..."


Menjelang jam pulang, Mawar mengirim pesan pada Diara agar pulang duluan ke apartemennya bersama Pak Bin, sementara Mawar akan pergi ke kontrakannya diantar Farid. Mendengar itu, tentu Diara langsung meledeknya habis-habisan.


Mawar berjalan bersama Farid disepanjang koridor. Mawar menyadari beberapa pasang mata memperhatikan mereka, bahkan para perempuan berbisik-bisik membicarakan mereka. Entah mengapa Mawar justru menikmati tatapan-tatapan wanita yang memandang iri ke arahnya.


Sepanjang perjalanan sejenak mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Sampai kemudian tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya. Farid akhirnya memilih menepikan sepeda motornya di sebuah minimarket.


"Hujan, kita mampir disini dulu nggak papa?"


"Ya Mas, nggak papa, sambil nunggu hujan reda, aku juga mau skalian belanja aja..."


Mawar lalu menganbil beberapa mie instan, biskuit, juga beberapa minuman instan untuk persediaannya di kontrakan. Sedangkan Farid memilih menyeduh dua cangkir kopi untuk dirinya dan Mawar. Setelah selesai Farid segera menghampiri Mawar yang sedang mengantri di kasir, bermaksud membayar belanjaan Mawar, tapi Mawar menolaknya.


"Nggak usah Mas, aku bayar sendiri aja..."

__ADS_1


"Yaudah, habis ini kita ngopi di depan sebentar ya sambil nunggu hujan reda..."


"Ya Mas..."


Setelah membayar belanjaan masing-masing mereka duduk di depan minimarket untuk minum kopi yang dibeli Farid Minimarket itu.


"Sebenarnya aku pengen ngajak kamu mampir makan dulu sebelum pulang, tapi ternyata malah hujan begini, menurut kamu gimana?", Tanya Farid saat mereka telah duduk berhadapan.


"Nggak usah Mas, aku bisa makan dirumah aja nanti, lagi pula hujannya juga belum reda..."


Mawar merasa tak enak jika harus menerima kebaikan Farid terus-menerus, padahal mereka sebenarnya tidak ada hubungan apa-apa.


"Yasudah, setelah habiskan kopinya aku antar kamu pulang, aku bawa jas hujan kok, tapi kalau hujannya deras begini biasanya tetap basah sedikit nggak papa?"


"Nggak papa Mas, yuk kita pulang..."


Akhirnya mereka meneruskan perjalanan di tengah derasnya hujan. Hawa dingin dan rintik hujan membuat Mawar berfikir perjalanan mereka sangat romantis seperti di film-film yang pernah ditontonnya. Hmm, jadi begini ya rasanya berboncengan dengan lelaki tampan di tengah derasnya hujan. Bagi Mawar ini adalah pengalamanya untuk pertama kali.


Setelah bergelut dengan padatnya jalanan di kala hujan akhirnya sampai juga mereka di kontrakan kecil Mawar.


"Mampir dulu Mas?",tawar Mawar basa-basi.


Tapi tanpa diduga Farid langsung setuju dan segera turun dari motornya. Farid ingat dia belum mengatakan apa yang ingin disampaikannya pada Mawar.


"Masuk dulu Mas Farid, maaf ya cuma kecil dan seadanya..."


"Nggak papa, duduk sini aja War, aku baru ingat ada yang mau aku omongin sama kamu, tapi ternyata kita nggak jadi mampir makan, jadi aku belum sempat ngomong..."


"Hmm gimana kalau sebagai gantinya kita makan disini aja, biar aku buatin mie instan mau? Nanti biar ngobrolnya sambil makan aja..."


"Boleh-boleh..."


Mawar masuk ke dalam, merebus air lalu ditinggal mandi sebentar. Lalu membuat dua mangkok mie instan untuk mereka berdua. Keahlian memasak Mawar agak payah. Tapi kalau cuma mie instan tentu dia bisa.


Setelah berganti pakaian Mawar berjalan keluar dengan membawa nampan berisi dua mangkuk mie dan dua cangkir teh hangat.


"Minumnya teh aja ya Mas, tadi kan sudah ngopi...Oh ya sekarang Mas Farid boleh ngomong daripada nanti lupa lagi. Emang apa yang mau dibicarakan?"

__ADS_1


Farid terlihat bimbang, tapi kemudian bicara.


"Seandainya nanti aku sudah tidak bekerja di GAYA.Corp lagi, apa kita masih bisa bertemu seperti ini?"


__ADS_2