Panggil Aku Mawar

Panggil Aku Mawar
Bab 59


__ADS_3

"Je, sebaiknya mulai sekarang lo cari orang buat pengganti gue..."


Diara bicara sambil mengangsurkan selembar surat pengunduran diri kepada Jelita.


Jelita yang sedang sibuk memeriksa dokumen di meja kerjanya, menghentikan semua pekerjaannya demi melihat surat yang di sodorkan Diara.


"Apa maksud lo?"


"Seperti yang tertulis di surat itu, gue mau mengundurkan diri...lo tenang aja gue masih akan menyelesaikan semua pekerjaan dan tanggung jawab gue sebelum gue pergi...jadi gue harap lo bisa secepatnya cari pengganti dan ACC pengunduran diri gue..."


Jelita masih terkejut dan tidak menyangka bahwa Diara akan bertindak sejauh ini. Dalam hati kecilnya, Jelita masih tidak rela untuk melepas sahabat sekaligus karyawannya yang paling loyal itu. Tapi di sisi lain harga dirinya yang tinggi tidak membiarkan Jelita untuk memohon dan menahan sahabatnya itu.


"Ok, kalau itu memang keinginan lo, silahkan pergi kapanpun lo siap pergi. Gue bakal urus semua pesangon dan yang lainnya. Dan ingat, kapan pun lo mau, lo tetap bisa balik lagi kesini..."


"Ok Je, makasih banyak, semoga lo semakin sukses..."


Diara kembali ke ruangannya dan kembali sibuk dengan pekerjaan yang harus disesaikannya sebelum nanti benar-benar pergi.


Seminggu kemudian, Diara benar-benar mengemasi barang-barangnya dan berpamitan dengan Jelita. Hubungan mereka yang belakangan menjadi dingin, tidak menghalangi keharuan yang terjadi akibat perpisahan itu.


"Makasih banyak Di, selama ini kehadiran lo bener-bener berarti bagi gue dan juga perusahaan ini..."


"Yoi Je, gue yang harus berterimakasih karena lo udah berbaik hati menampung gue yang kehilangan arah selama ini..."


Merekapun saling berpelukan. Dan air mata meluncur membasahi wajah Jelita.

__ADS_1


"Tenang Je, gue nggak kemana-mana kok, cuma keluar dari kerjaan doag, setelah ini kita pun masih bisa ketemu lagi..."


"Harus donk, setelah ini kita harus lebih sering hang out bareng, tanpa harus bahas soal kerjaan lagi..."


Jelita akhirnya melepas kepergian Diara dengan penuh haru.


Diara pulang ke rumahnya dan mendapati Papa berada di ruang tengah.


"Eh, anak Papa sudah pulang...", sapa Papa mencoba mengakrabkan diri dengan putrinya.


"Papa ngapain disini?"


"Mau ketemu anak Papa donk, masa nggak boleh?"


Seperti perjanjian yang telah mereka sepakati, rumah itu jatuh ke tangan Diara dan sedang diurus balik nama atas nama Diara. Dan untuk menghormati almarhumah Mama, Papa tidak boleh datang ke rumah itu dengan membawa istri barunya.


Berbagi dengan Papa sepertinya bukan hal yang buruk.


"Oh ya? Sejak kapan?"


"Baru saja..."


"Boleh Papa tahu alasannya?"


"Diara capek kerja kantoran, kedepannya Diara pengen buka warung makan di rumah aja, gimana menurut Papa?"

__ADS_1


"Warung makan?"


"Iya Pa, warung makan...tapi warung makan Diara dijamin beda, lihat saja nanti!"


"Ah, Papa jadi penasaran..."


"Tapi Pa, apa boleh rumah ini Diara rombak buat jadi warung makan?"


"Ya boleh dong sayang, ini kan rumah kamu...sudah jadi hak kamu, kakakmu juga sudah ada bagiannya sendiri...jadi kamu boleh nglakuin apa saja di rumah ini, jangankan buat warung, buat bikin kebun binatang juga boleh..."


"Ah Papa ada-ada aja deh!"


"Papa serius!"


"Oya, Papa mau makan apa? Biar Diara masakin?"


"Apa saja! apapun masakan buatan kamu pasti enak dan pasti Papa habisin!"


"Ok deh..."


Diara langsung beraksi ke dapur. Beberapa hari setelah meninggalnya Mama, ART dirumah memilih pensiun dan pulang ke kampung halaman. Praktis sejak itu Diara lah yang bertanggung jawab mengurus segala keperluan rumah.


Diara sudah mengikhlaskan apapun yang terjadi dengan kehidupan keluarganya. Termasuk pilihan Papa untuk menikah lagi. Walaupun berat, Diara akan berusaha memperbaiki hubungannya dengan Papa lagi, meskipun tidak akan sama seperti sebelumnya.


Makanan sudah jadi dan tersaji di meja. Menu kali ini adalah nasi goreng debgan telur mata sapi. Menu yang praktis tapi selaku lezat.

__ADS_1


Diara makan malam bersama Papa sambil bercakap-cakap dengan hangat. Setelah itu Papa berpamitan untuk pulang ke keluarga barunya. Meski masih terasa sesak, Diara mencoba menerima. Dan tersenyum melepas kepergian Papa malam itu.


__ADS_2